SEPAK BOLA

Grup L Piala Dunia: ”Si Tiga Singa” Dikepung Gerombolan Hiena

Status unggulan dan kemewahan skuad Inggris bisa tidak berarti apa pun di hadapan para kuda hitam di Grup L. Kroasia, Ghana, dan Panama berpotensi merepotkan.

10 Jun 2026 11:00 WIB · Olahraga

AP Photo/Rebecca Blackwell

Oleh Kelvin Hianusa

”Football’s Coming Home”, ketika kata-kata itu muncul, Piala Dunia sudah di depan mata. Penggalan lirik lagu tersebut melambangkan harapan dan keputusasaan tim nasional Inggris. Sepak bola dipercaya lahir di tanah Inggris, tetapi trofi Piala Dunia seperti enggan mendekat ke negara mereka.

Sudah genap 60 tahun, sejak Inggris meraih trofi paling bergengsi itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Di setiap edisi setelah itu, kisahnya selalu sama. ”Si Tiga Singa” dilabeli status tim unggulan, tetapi hasil akhirnya berujung kekecewaan. Tahun ini, banyak yang percaya, kemarau panjang akan berlalu.

Tidak percaya? Lihat saja kumpulan para pemain Inggris yang tidak dipanggil pelatih Thomas Tuchel, antara lain Cole Palmer, Phil Foden, dan Trent Alexander-Arnold. Jika dibentuk kesebelasan, tim dari pemain ”buangan” itu mungkin masih lebih berkualitas dibandingkan separuh peserta Piala Dunia.

Quote

Target kami adalah memenangi Piala Dunia dan kami tidak perlu malu untuk itu.

Sah bila dikatakan, Inggris sedang berada di puncak era emas. Mereka memiliki pemain berpengalaman yang sudah pernah melangkah jauh di turnamen besar, seperti kapten tim Harry Kane. Saat bersamaan, para bintang muda sudah matang, antara lain Jude Bellingham dan Bukayo Saka.

Di turnamen-turnamen besar terdahulu, sosok pelatih selalu dijadikan sasaran kritik. Gareth Southgate dinilai miskin taktik untuk menangani skuad mewah ”Si Tiga Singa”. Semua berbeda kali ini. Tuchel, ahli taktik yang punya segudang pengalaman di level klub, siap menjalani debutnya.

WCup England Soccer

”Target kami adalah memenangi Piala Dunia dan kami tidak perlu malu untuk itu. Tentu kami butuh sedikit keberuntungan. Kami perlu pemilihan pemain yang tepat, tetap sehat, mendapatkan momentum dan membangun persaudaraan, serta bermain dengan keberanian dan rasa lapar,” ujar Tuchel.

Inggris, berstatus unggulan keempat berdasarkan ranking FIFA, boleh saja optimistis. Namun, jalan mereka menuju puncak singgasana tidak akan mudah. Jalan terjal itu akan dimulai sejak babak grup. Kane dan rekan-rekan tergabung di Grup L bersama Kroasia, Ghana, dan Panama.

Kroasia adalah kebalikan dari Inggris. Negara dengan penduduk kurang dari empat juta jiwa itu selalu datang dengan berstatus tim kuda hitam. Namun, mereka sering kali menghadirkan kejutan layaknya kisah inspiratif ”David versus Goliath” dengan membunuh para raksasa.

Dengan prestasi dalam dua edisi terakhir, Kroasia semestinya tidak lagi dilabeli kuda hitam di turnamen nanti. Luka Modric dan rekan-rekan berhasil menjadi runner-up di edisi Rusia 2018 dan pemenang ketiga di edisi Qatar 2022. Hanya Perancis, selain Kroasia, yang lolos ke semifinal dua kali beruntun.

Era emas Kroasia diperkirakan sudah lewat beberapa tahun lalu, seiring dengan penuaan para pemain bintang mereka, seperti Modric dan Mateo Kovacic. Meskipun begitu, semua pemain terbaik di era keemasan Kroasia akan tetap hadir, termasuk Modric yang sudah berusia 40 tahun.

WCup Croatia Soccer

Inggris patut waspada karena akan menghadapi Kroasia di laga pembuka. Seperti diketahui, laga pembuka selalu sulit dan penuh intrik. Semua kemungkinan bisa terjadi, tim-tim masih mencari ritme. Adapun terakhir bertemu Kroasia di Piala Dunia, Inggris takluk di semifinal edisi 2018.

Pelatih Kroasia Zlatko Dalic sudah menyiapkan strategi khusus untuk membendung bintang-bintang ”Si Tiga Singa”. ”Kami akan tampil lebih tangguh dan defensif versus Inggris, dengan lebih banyak gelandang. Inggris datang untuk menjadi juara. Target utama kami adalah lolos grup,” katanya.

Para Hiena

Ujian Inggris selanjutnya adalah Ghana. Kekuatan wakil Afrika itu sulit diukur, sebab mereka baru saja menunjuk Carlos Queiroz sebagai pelatih pada dua bulan menjelang turnamen. Berbicara pengalaman, Queiroz yang sudah empat kali beruntun ikut serta di Piala Dunia itu tidak perlu diragukan lagi.

Inggris ditakuti karena keunggulan presensi fisik para pemainnya yang tahan banting. Mereka tidak takut berduel sebab sudah terbiasa di Liga Inggris yang dikenal sangat ”keras”. Namun, keunggulan itu agaknya kurang relevan ketika berhadapan dengan tim-tim Afrika yang juga kuat dari segi fisik.

Teori itu terbukti dalam laga persahabatan Inggris versus Senegal pada Juni 2025. Inggris takluk 1-3 di kandang sendiri karena tidak mampu menggunakan keunggulan fisik mereka. Untuk konteks, hasil itu menjadi satu dari dua kekalahan Inggris pada era kepemimpinan Tuchel.

Penyerang Ghana Kamaldeen Sulemana menggiring bola dalam pertandingan persahabatan menjelang Piala Dunia 2026 antara Wales dan Ghana di Stadion Cardiff City, Cardiff, Inggris, Selasa (2/6/2026).

Ghana juga diperkuat pemain yang mengenal betul permainan ala Inggris. Mereka memiliki penyerang sayap Manchester City, Antoine Semenyo, dan mantan gelandang Arsenal, Thomas Partey. ”Saya akan memberikan segalanya, pengalaman dan ilmu, untuk memberikan kebahagiaan warga,” kata Queiroz.

Panama, tim dengan ranking dunia ke-33, tertinggal jauh dari sisi kualitas dibandingkan Inggris. Namun, perlu dicatat, turnamen kali ini berlangsung di Benua Amerika. Sebagai wakil Amerika Utara, Panama pasti lebih bisa beradaptasi dengan hal-hal nonteknis, seperti kondisi iklim dan cuaca.

Alhasil, di babak grup nanti, Inggris akan seperti seekor singa yang terlihat begitu gagah. Sang singa terlalu kuat untuk bisa dijatuhkan para predator lain. Masalahnya, Kroasia, Ghana, dan Panama sudah bagaikan para hiena yang sedang lapar. Bersama-sama, mereka bisa menghukum singa jika sedang lengah.

Taring ”Si Tiga Singa”

Terlepas dari ancaman itu, Inggris tidak perlu terlalu khawatir. Sang singa akan aman-aman saja jika bisa memaksimalkan taring tertajamnya. Taring itu adalah bola mati. Tren skema bola mati sedang populer di Liga Inggris. Negara-negara lain jauh tertinggal dalam aspek tersebut.

Tidak hanya Arsenal, tim Inggris yang bisa menjuarai liga dengan berstatus pencetak gol terbanyak dari bola mati. Tren serupa terjadi di tiga divisi di bawah, yaitu Conventry City (Championship), Lincoln City (Liga Satu), dan Bromley (Liga Dua). Semua tim yang mendominasi bola mati, keluar sebagai juara.

Panama Wcup Soccer

Tuchel turut mengamini senjata mematikan tersebut. Itu terlihat dari pemilihan pemain. Bek setinggi 198 sentimeter yang andal dalam bola mati, Dan Burn, dimasukkan ke skuad final. Inggris juga memiliki banyak eksekutor terbaik untuk tendangan sudut, mulai dari Declan Rice sampai Reece James.

Subyektivitas wasit akan menjadi satu-satunya penghalang Inggris untuk memanfaatkan bola mati. Mereka tidak bisa leluasa bergulat di kotak penalti, seperti di liga lokal. ”Kami selalu mengatakan ingin menjadi tim yang kuat dalam bola mati, jadi kami memiliki spesialis untuk itu,” jelas Tuchel.

Di Rusia 2018, Inggris bisa melaju jauh berkat gol-gol yang didominasi dari bola mati. Saat ini, skema bola mati mereka sudah berkembang menjadi lebih bervariasi dan berbahaya. Senjata itu pun yang akan menjadi kunci ”Si Tiga Singa” untuk memukul mundur para gerombolan hiena. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto, Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase