Indonesia Terbuka dijanjikan menyala, baik dalam arti harfiah maupun kiasan. Inilah upaya menghidupkan lagi atmosfer bulu tangkis Indonesia.
31 Mei 2026 07:10 WIB · Olahraga
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Masih terekam jelas dalam ingatan Fony Amarta (26) bagaimana Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, selalu semarak ketika ada turnamen bulu tangkis seperti Indonesia Terbuka. Orang-orang tidak hanya datang untuk menyaksikan pertandingan, tetapi juga menikmati suasana di luar arena.
Pameran tentang bulu tangkis, aktivitas di stan, dan jajanan di kedai-kedai makanan kian melengkapi pengalaman ngistora yang kata Fony inklusif. Sensasi itulah yang dirasakan Fony sejak masih duduk di bangku sekolah pada 2014.
Namun, selepas pandemi, Fony tak menampik bahwa suasana itu tidak lagi terasa. Selain harga tiket dan jajanan yang kian mahal, atmosfer ngistora juga terbatas untuk pemilik tiket. Alhasil, Istora lebih sering sepi ketimbang ramai.
Bahkan, atlet seperti Anders Antonsen (Denmark) pun mengemukakan keheranannya tentang Istora yang kehilangan ingar bingar. Semua itu diperparah dengan prestasi Indonesia yang juga menurun, termasuk di Indonesia Terbuka.
Dalam empat penyelenggaraan Indonesia Terbuka, turnamen yang dihelat sejak 1982, tuan rumah selalu gagal juara. Atlet Indonesia terakhir yang menyumbangkan gelar adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada edisi 2021.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/05/21bc1234c7f9233849cdf43707d66c79-20250605TOK28.jpg)
Pada Indonesia Terbuka 2025, hanya Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani yang menjadi wakil Indonesia di final. Namun, mereka kalah dari Seo Seung-jae/Kim Won-ho (Korea Selatan).
”Namun, karena sekarang orang-orang sudah tahu dari Indonesia Masters kalau ada yang berbeda, jadi banyak yang menanti Indonesia Open,” kata Fony.
Fony menuturkan, sejak Indonesia Masters 2026 pada Januari lalu mengembalikan Istora menjadi lebih inklusif, banyak badminton lovers (BL) menjadwalkan datang ke Indonesia Terbuka 2026. Mereka yang berasal dari luar kota antusias datang ke Jakarta demi ngistora.
Pada awal tahun, Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menggaet PT Perada Swara Productions untuk menyelenggarakan kejuaraan bulu tangkis nasional dan internasional pada 2026. Djarum Foundation turut memberi dukungan agar berbagai kejuaraan bisa digelar dengan profesional dan berkualitas.
Pada level menengah BWF World Tour, PT Perada Swara Productions mengawalinya dengan menggelar Indonesia Masters 2026. Mereka tetap menghelat ajang itu di Istora meski sempat ada wacana pemindahan ke Stadion Indonesia Arena yang lebih luas.
Alih-alih pindah arena, mereka ingin mengembalikan suasana Istora yang tidak cuma ”angker” untuk pebulu tangkis luar, tetapi juga menyenangkan bagi para penonton yang datang. Untuk itu, akses Istora dibuka seluas-luasnya dengan hanya memberlakukan tiket masuk ke dalam arena.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/01/23/f080db8c-90fc-40d9-9904-fd3582d2046d.jpg)
Penonton bisa melakukan berbagai aktivitas di luar arena pertandingan. Ketika lapar atau haus, kuliner dari UMKM dengan harga lebih terjangkau ketimbang empat tahun sebelumnya bisa menjadi pilihan.
Saat ingin mengisi waktu kosong di antara pertandingan dengan aktivitas, stan sponsor menyediakan permainan. Sponsor juga menggelar acara meet and greet dengan atlet. Ada pula stan yang menyediakan cendera mata acara hingga menjual peralatan olahraga.
Bagi keluarga yang tak bisa meninggalkan anak kecil di rumah, Indonesia Masters 2026 juga menyediakan tempat bermain berupa Kid’s Zone. Di beberapa lokasi, tim medis pun bersiaga saat dibutuhkan.
Ketua Panitia Penyelenggara Achmad Budiharto menilai, penyelenggaraan Indonesia Masters sudah mengimplementasikan 95 persen rencana. Suasana ramai dalam enam hari turnamen pun sesuai harapan panitia.
Dari babak kualifikasi hingga semifinal, jumlah penonton terus bertambah. Bahkan, memasuki final, penonton hampir memenuhi 7.000-an kursi Istora. Meski begitu, pria yang akrab disapa Budi ini menegaskan, kesuksesan tidak semata diukur dari jumlah tiket terjual. Hal terpenting justru bagaimana atmosfer turnamen bulu tangkis Indonesia kembali terbangun.
Budi menuturkan, sebagian besar yang sudah ditampilkan di Indonesia Masters akan kembali hadir di Polytron Indonesia Terbuka 2026, 2-7 Juni. Indonesia Masters bagai pemanasan untuk Polytron Indonesia Terbuka yang dijanjikan lebih grande.
Panitia melakukan peningkatan di berbagai sisi penyelenggaraan, menyesuaikan status Indonesia Terbuka sebagai turnamen bulu tangkis paling prestisius di Indonesia. Seperti diketahui, sejak 2018, ketika BWF menggunakan struktur BWF World Tour, Indonesia Terbuka menjadi salah satu dari hanya empat turnamen berlevel Super 1000 atau hanya berada satu tingkat di bawah turnamen Final BWF sebagai kategori tertinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/3207eca57291b885e16e8e002a5aa9d5-20250603TOK47.jpg)
Tak hanya prestisius secara level kompetisi, Indonesia Terbuka juga pernah begitu bergengsi karena hadiahnya. Indonesia Terbuka sempat menjadi turnamen BWF dengan hadiah terbesar, yaitu 1.450.000 dollar AS atau sekitar Rp 25,3 miliar.
Pada 2012, Indonesia Terbuka bahkan pernah mendapat penghargaan dari BWF sebagai turnamen dengan penyelenggaraan terbaik dengan menggabungkan konsep olahraga dan hiburan (sportainment). Setiap sudut Istora dipenuhi stan penjual kuliner, cendera mata, dan acara hiburan.
Rekam jejak itu menunjukkan bahwa Indonesia Terbuka pernah punya kilau yang membanggakan dari segi penyelenggaraan—di samping dari sisi prestasi. Kilau dari sisi penyelenggaraan itulah yang diupayakan hadir lagi panitia pelaksana pada edisi 2026.
Untuk menghadirkan turnamen yang dapat diakses dan dinikmati berbagai kalangan, harga tiket dibuat lebih variatif dan terjangkau. Pada masa pra-pesan untuk hari pertama dan kedua, tiket dijual mulai Rp 40.000 hingga Rp 150.000. Sementara tiket final dibanderol Rp 280.000 sampai Rp 2,4 juta, tergantung area duduk dan waktu pembelian.
Budi mengatakan, penjualan tiket pra-pesan untuk kategori pertama dan kedua sudah langsung habis. Selain menyediakan penjualan daring, panitia masih akan menyediakan penjualan langsung atau on the spot setiap hari pertandingan.
Panitia juga menjanjikan perubahan besar dari sisi tata letak dan visual arena serta luar arena. Tidak hanya berbeda dari Indonesia Masters, tetapi Polytron Indonesia Terbuka 2026 juga akan berbeda dari Indonesia Terbuka sebelumnya.
Kata kunci yang diusung adalah ”menyala”. Istora disebut akan dibuat lebih bercahaya, lebih modern, dan dipadukan dengan teknologi visual dari Polytron yang memanjakan mata, termasuk bagi para pemburu foto dan konten media sosial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/2a2c091887539477d78957c87dfb598c-20250603TOK42.jpg)
Konsep estetika dan pengalaman penonton menjadi perhatian utama. Jembatan menuju lantai dua, misalnya, akan menawarkan pengalaman berbeda. Begitu juga lorong-lorong yang sebelumnya gelap akan berubah menjadi ”wahana” lebih atraktif, lebih instagramable, dan lebih nyaman bagi penonton sejak pertama datang ke arena.
”Intinya, Istora akan bermandikan cahaya, akan berkilau, dan menawarkan pengalaman yang baru dan pertama di Asia, kalau bukan di dunia. Dan, itu semua baru bisa dirasakan ketika datang langsung ke Istora,” kata Budi.
Panitia pun menyiapkan konsep interaktif saat pertandingan berjalan. Nantinya, aktivitas penonton di tribune akan lebih sering ditampilkan melalui videotron, termasuk reaksi mereka ketika laga-laga menegangkan.
Penyajian itu bagian dari konsep sportainment yang diusung dengan muatan lebih banyak dibanding ketika Indonesia Masters. Hiburan juga akan hadir lewat pertunjukan musik di luar gedung pertandingan setiap harinya.
Panitia menjanjikan akan ada nama besar yang jadi penampil. Dengan begitu, pengunjung tetap bisa menikmati suasana hiburan meski sedang tidak menyaksikan laga di dalam arena serta mendapatkan pengalaman menyenangkan.
Tidak lupa, bakal ada pula kejutan bertema Pokemon, serial animasi dan gim dari Jepang. Seperti diketahui, dalam bentuk gim sampai kartu, Pokemon digandrungi semua kalangan dari anak-anak hingga dewasa.
Pada akhirnya, semua inisiatif itu adalah upaya agar Indonesia Terbuka di Istora kembali menyala. Baik arti secara harfiah—dengan cahaya-cahaya yang akan menghiasi seluruh arena—maupun arti secara kiasan—dengan atmosfer bulu tangkis Indonesia yang sangat terasa.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim