PIALA DUNIA 2026

Grup C Piala Dunia: Tarian Samba Brasil Dikepung Pragmatisme

Brasil jadi favorit puncaki Grup C Piala Dunia 2026 meskipun dengan skuad tak sempurna. Selecao akan diuji dengan permainan pragmatis Maroko, Skotlandia, dan Haiti.

09 Jun 2026 13:00 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Agung Setyahadi

Brasil memasuki 20 tahun tanpa nomor 9 kasta tertinggi dalam Piala Dunia 2026. Mesin gol mereka dalam kualifikasi adalah pemain sayap, Rapinha dengan lima gol, dan Rodrygo yang mencetak tiga gol, tetapi absen di putaran final karena cedera. ”Selecao” kini mengandalkan para pemain lini tengah dan sayap untuk menggetarkan gawang lawan. Namun, keseimbangan tim menjadi rawan karena ada lubang besar di posisi bek sayap.

Brasil pernah menjuarai Piala Dunia tanpa striker yang sangat tajam, pada 1970, di mana Tostao sering bermain di posisi nomor 10, sama dengan Pele. Ini formasi eksperimental yang berhasil dan membuahkan gelar juara. Mereka berimprovisasi di lini depan untuk mengacak-acak pertahanan lawan.

Namun, perlu diingat, waktu itu Brasil memiliki salah satu full-back terbaik dunia, Carlos Alberto Torres. Dan, di depan lini bertahan, ada dua Clodoaldo yang juga salah satu gelandang bertahan top. Dia berduet dengan ”otak” Selecao waktu itu, Gerson yang dijuluki ”Canhotinha de Ouro”, si kaki kiri emas, yang menghasilkan umpan-umpan kunci sekaligus tembakan jarak jauh.

Ada keseimbangan antarlini Brasil di Piala Dunia 1970, kontras dengan saat ini, di mana Brasil tidak memiliki full-back kelas dunia, seperti Roberto Carlos, Cafu, dan Marcello. Kreator serangan juga belum ada yang sekelas Neymar pada masa keemasannya yang mendefinisikan ulang sepak bola modern Brasil. Neymar merupakan playmaker modern Brasil yang hakiki dengan dribel menyengat, visi permainan tajam, dan pertunjukan idividu memesona.

WCup Brazil Soccer

Ini melengkapi paceklik penyerang tengah Brasil setelah Ronaldo di Piala Dunia 2006. Brasil sempat berharap banyak kepada Adriano, tetapi dia kemudian mengalami masalah psikis yang meredupkan kariernya dengan sangat cepat.

Sejak Piala Dunia Jerman itu, Brasil belum memiliki nomor 9 yang mengundang decak kagum. Kini Brasil memasuki 20 tahun tanpa penyerang tengah kelas dunia. Satu-satunya nomor 9 tradisional dalam 26 pemain yang dipanggil oleh Carlo Ancelotti adalah Igor Thiago, striker klub papan tengah Liga Inggris, Brentford.

Thiago musim ini menjadi mesin gol yang efisien bagi Brentford dengan 26 gol dalam 41 laga di semua kompetisi. Dia mencetak 41 persen gol ”The Bees” di Liga Inggris, 22 gol dari total 54 gol, dan menjadi pemain dengan kontribusi gol tertinggi dalam semusim sejak Harry Kane di Tottenham Hotspur pada 2022-2023 dengan mencetak 30 gol dari 70 gol, atau 43 persen.

Namun, Thiago baru pertama kali membela Brasil pada 26 Maret lalu saat laga persahabatan Brasil melawan Perancis yang berakhir dengan kekalahan Selecao, 1-2. Striker berusia 24 tahun itu menjalani laga keduanya saat laga persahabatan melawan Kroasia, dan mencetak satu gol penalti dalam kemenangan 3-1 untuk Brasil. Posisi Thiago memberi Ancelotti alternatif permainan yang berbeda jika diperlukan. Dalam dua laga persahabatan itu Thiago selalu menjadi pemain pelapis.

Sementara formasi baku lini serang yang diterapkan oleh Ancelotti lebih mengandalkan para gelandang dan penyerang sayap. Saat melawan Perancis, Brasil bermain dengan formasi 4-2-2-2 dengan Vinicius Juior dan Matheus Cunha di ujung tombak, didukung sayap serang Gabriel Martinelli di kiri dan Rapinha di kanan. Dalam dinamika permainan, posisi Vinicius Junior lebih ke depan, sedangkan Cunha menjadi penyerang kedua atau pemantul seperti peran Karim Benzema di Real Madrid saat dilatih Ancelotti.

WCup Brazil Soccer

Untuk menjaga keseimbangan antarlini, Ancelotti berpaling ke gelandang bertahan andalannya saat di Real Madrid, Casemiro. Dia sudah tidak muda, tetapi masih menjadi pilihan terbaik sebagai jangkar pertahanan, terutama saat full-back melakukan overlap serangan. Casemiro menjadi andalan untuk mengorganisasi lini tengah berduet dengan Bruno Guimaraes yang lebih menyerang.

Kondisi Brasil yang bayak lubang ini menjadi tantangan bagi Ancelotti untuk meracik pola permainan yang seimbang dan solid. Pelatih Italia itu terkenal lihai membaca ruang di dalam skuad selama melatih beberapa klub di Liga Italia, Liga Spanyol, dan Liga Inggris. Ancelotti menekankan pada permainan mengalir dengan kedisiplinan khas Eropa, di mana aksi-aksi individu khas joga bonito akan sedikit diredam.

Ancelotti membangun sistem 4-4-2 yang dinamis menjadi 4-2-4 saat menyerang. Dia menuntut kedisiplinan dalam transisi bertahan di mana pemain sayap bergerak cepat membantu lini tengah untuk menerapkan mid-block dengan merapatkan ruang antarlini. Serangan Brasil juga lebih bertumpu pada sayap, umpan-umpan pendek, dan pergerakan vertikal kilat.

Dalam skenario mereka mengalami kebuntuan di sisi lebar, keberadaan Neymar akan memberi opsi serangan dari tengah. Pemain berusia 34 tahun itu sudah tidak sekuat dulu untuk menjalani peran tradisionalnya sebagai penyerang sayap modern yang menuntut fisikalitas. Di posisi gelandang serang, kreativitas dan pengalaman Neymar akan lebih berperan.

Foto yang dirilis Federasi Sepak Bola Maroko pada 3 Juni 2026 di Bandara Internasional Rabat-Sale, Rabat, Maroko, menampilkan pemain timnas Maroko sebelum keberangkatan ke AS untuk bertanding di Piala Dunia 2026.

Meskipun Brasil tidak memiliki skuad generasi emas yang menciptakan keseimbangan dan pancaran pesona juara, mereka tetap memiliki kekuatan besar. Oleh karena itu, Selecao masih menjadi favorit dalam persaingan Grup C Piala Dunia 2026 bersama Maroko, Skotlandia, dan Haiti. Brasil jelas akan bermain menyerang dengan mendominasi inisiatif permainan melawan ketiga lawannya di fase grup yang mengandalkan pertahanan solid dan serangan balik.

Vinicius Junior dan kawan-kawan akan menghadapi permainan pragmatis untuk memuncaki Grup C. Maroko yang empat tahun lalu melaju hingga semifinal juga memiliki gaya bermain menyerap serangan lawan, kemudian menyerang balik dengan cepat. Achraf Hakimi dan kawan-kawan akan berjuang membuat frustrasi penyerang Brasil, kemudian mengoyak pertahanan Brasil yang memiliki celah besar menyusul cedera Eder Militao.

Setali tiga uang, Skotlandia juga bertumpu pada pertahanan solid dan menyerang secepat kilat. Pelatih Steve Clarke sudah membakukan permainan pragmatis ini untuk mencapai putaran final Piala Dunia 2026. Dia juga membangun mesin permainan di lini tengah dengan andalan Billy Gilmour, John McGinn, Ryan Christie, dan Scott McTominay.

Gilmour berperan besar dalam menjaga stabilitas antarlini dengan beroperasi di dasar lini tengah, sedangkan McTominay dan McGinn menjadi box-to-box midfierder yang krusial dalam serangan balasan. Clarke juga menerapkan full-back asimetris, dengan sisi kiri lebih agresif menyerang dengan Kieran Tierney dan Andy Robertson.

McTominay yang bersinar di Napoli menjadi kunci langkah Skotlandia ke putaran final. Pemain yang dijuluki ”Apribottiglie” alias Pembuka Botol, karena sering mencetak gol pertama atau pemecah kebuntuan itu, konsisten di level tim nasional. Saat Skotlandia menundukkan Denmark 4-2 dalam kualifikasi, McTominay menjadi pembuka kemenangan dengan golnya pada menit kedua.

Pemain timnas Skotlandia yang akan bertanding di Piala Dunia 2026 tiba di Bandara Internasional Charlotte Douglas di Charlotte, North Carolina, AS, Minggu (7/6/2026).

Permainan pragmatis Skotlandia akan menjadi ujian lini kreatif Brasil karena pertahanan solid mereka bisa menguak celah antarlini untuk diserang balik. Pola permainan lebih pragmatis akan ditampilkan oleh Haiti yang mengandalkan pertahanan ketat dengan bek-bek fisikal dan solid dan duel bola-bola atas. Empat bek mereka, Duke Lacroix, Hannes Delcroix, Ricardo Ade, dan Carlens Arcus, menjadi benteng yang sangat kokoh.

Sementara serangan Haiti menjadi lebih berbahaya dengan keberadaan gelandang Jean-Ricner Bellegarde dan penyerang sayap Josue Casimir. Gelandang serang Wolverhampton Wanderers Bellegarde menyuntikan kreativitas yang membangkitkan harapan Haiti. Sayap kanan klub Auxerre Casimir juga lihai dalam melepaskan umpan-umpan silang. Dalam kualifikasi dia juga mencetak asis dan gol yang membawa Haiti ke putaran final Piala Dunia setelah absen 52 tahun.

Tim asuhan Sebastien Migne ini jelas menjadi underdog di Grup C. Namun, Haiti tidak akan mudah disingkirkan, bahkan oleh Brasil, karena antarpemain memiliki ikatan kuat yang tecermin dalam moto mereka, L’union fait la force, persatuan adalah kekuatan.

Haiti memang bukan favorit untuk lolos ke babak 32 besar, tetapi mereka akan menjadi ujian yang tidak mudah bagi tiga tim lainnya, atau bahkan membuat kejutan. Brasil jelas menjadi favorit memuncaki Grup C, sedangkan posisi kedua akan diperebutkan oleh Maroko dan Skotlandia. Jika melihat keseimbangan tim serta konsistensi performa, Maroko lebih diunggulkan untuk menemani Brasil ke babak 32 besar. Tim peringkat ketiga akan lolos jika masuk dalam delapan tim peringkat ketiga terbaik dari 12 grup.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agung Setyahadi
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase