PIALA DUNIA 2026

Sihir Tangan Dingin Luis de la Fuente

Spanyol datang ke Piala Dunia dengan rekam jejak mengerikan di bawah Pelatih Luis de la Fuente. Bisakah tangan dingin Fuente melakukan hal sama di Piala Dunia?

10 Jun 2026 09:05 WIB · Olahraga

AP Photo/Khalil Hamra

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Untuk ukuran saat ini, tidak ada orang yang lebih memahami sepak bola Spanyol lebih dari Luis de la Fuente. Meniti karier kepelatihan timnas mulai dari tingkatan terbawah, Fuente tahu bagaimana cara membimbing Spanyol pada masa transisi generasi. Tangan dinginnya terbukti ampuh dengan selalu berhasil membawa ”La Furia Roja” menembus final turnamen besar.

Setelah merajai Eropa dan dunia pada rentang 2008 hingga 2012, kekuatan timnas Spanyol kian melemah. Hal itu tecermin dari hasil yang diraih pada Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022. Timnas Spanyol tersisih pada fase penyisihan grup. Pencapaian terbaik mereka hanya sampai pada babak 16 besar (edisi 2018 dan 2022).

Kegagalan Spanyol beberapa di antaranya disebabkan metode bermain yang ketinggalan zaman serta skuad juara mereka mulai menua. Sistem tiki-taka Spanyol berhasil mengantarkan mereka juara pada 2010 karena setiap tim menginginkan bola dan berorientasi pada dominasi laga. Namun, empat tahun kemudian para lawan sudah membaca cara bermain Spanyol. Mereka pun terekspos oleh para lawan yang bertahan sangat dalam dan kemudian menyerang balik untuk mencetak gol.

Quote

Kami merasa mampu memenanginya.

Gagal total pada tiga edisi Piala Dunia terakhir, Spanyol kini memasuki era baru bersama Fuente. Ditunjuk pada 2022, Fuente yang menggantikan Luis Enrique dipercaya bisa membimbing Spanyol melalui masa transisi bersama generasi baru. Fuente dilirik lantaran terbukti sukses menangani tim U-19 dan U-21. Ia diharapkan bisa mengulangi kesuksesan serupa level senior.

Tidak perlu waktu lama, harapan itu mewujud jadi kenyataan. Jika pelatih baru biasanya butuh waktu untuk berhasil, Fuente memberi dampak instan. Ia langsung membawa Spanyol juara Liga Nasional Eropa enam bulan setelah ditunjuk dengan mengalahkan Kroasia di final.

Spain WCup Soccer

Kejutan lainnya terjadi pada Piala Eropa 2024. Sempat tidak difavoritkan, Spanyol membalikkan prediksi. Diperkuat pemain-pemain generasi baru seperti Pau Cubarsi, Pedri, Lamine Yamal, Fermin Lopez, dan Nico Williams sukses menjadi juara, mengalahkan Inggris. Selain juara, Spanyol juga jadi negara pertama yang memenangi tujuh pertandingan dalam satu ajang Piala Eropa. Mereka juga memecahkan rekor sebagai tim dengan gol terbanyak yang dicetak, yaitu 15 gol.

Sekali atau dua kali barangkali hanya kebetulan. Namun, Spanyol mampu menembus final hingga tiga kali. Final terakhir yang mereka cicipi ialah gelaran Liga Nasional Eropa 2024-2025. Sayangnya Spanyol harus mengakui keunggulan Portugal dalam drama adu penalti.

Keberhasilan Spanyol menembus tiga final turnamen bergengsi, bahkan menjadi juara, diyakini merupakan sihir tangan dingin Fuente. Banyak yang percaya itu bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan proses Fuente dalam membangun tim juara dengan sangat terencana. Publik Spanyol pun menaruh harapan timnas mereka mampu menembus final keempatnya bersama Fuente.

”Kami merasa mampu memenanginya,” ujar Fuente saat disinggung mengenai kans Spanyol menjuarai Piala Dunia, Kamis (21/5/2026).

Akan tetapi, Fuente tahu Piala Dunia memiliki aura yang berbeda. Tidak seperti Piala Eropa, persaingan di Piala Dunia jauh lebih beragam dan ketat. Apalagi, saat ini Piala Dunia menggunakan format baru dengan penambahan jumlah peserta dari 32 menjadi 48 negara.

Spain WCup Soccer

Pendekatan kombinasi

Di bawah Fuente, Spanyol tidak sepenuhnya meninggalkan sistem tiki-taka. Metode penguasaan bola tetap ada, tetapi tidak mutlak. Jika tiki-taka identik dengan upaya membangun serangan dari belakang, pendekatan Spanyol saat ini agak berbeda. Fuente mengombinasikan pendekatan permainan berbasis penguasaan bola dengan kemampuan untuk melakukan serangan balik atau transisi cepat.

Dua pemain yang memegang peranan besar dalam skema itu ialah Lamine Yamal dan Nico Williams yang beroperasi di kedua sisi sayap tim. Kemampuan menggiring bola mereka yang luar biasa dalam situasi satu lawan satu adalah salah satu ancaman serangan utama Spanyol di sepertiga akhir lapangan. Kombinasi manuver Williams dan Yamal dalam waktu bersamaan telah merepotkan lawan-lawan mereka di Piala Eropa.

”Akademi-akademi Spanyol adalah yang terbaik di dunia dan menghasilkan talenta-talenta top. Anda dapat melihatnya dari cara kami bermain. Tentu saja, Piala Dunia adalah tentang kemenangan, bukan hanya bermain bagus. Tetapi, kami percaya pada pendekatan kami dan itu telah membuahkan hasil,” kata Yamal dalam wawancara bersama FIFA.

Yamal ada benarnya. Berkat tempaan akademi-akademi klub Spanyol, kedalaman pemain La Furia Roja pada Piala Dunia pun tetap terjaga. Menjelang Piala Dunia, Yamal menderita cedera yang mengharuskannya absen hingga pekan terakhir liga. Menurut rencana, Yamal akan diistirahatkan pada dua laga pembuka menghadapi Tanjung Verde dan Arab Saudi.

Demikian pula Williams yang juga diragukan bisa tampil pada penyisihan grup. Tanpa mereka, Fuente masih bisa mengandalkan Ferran Torres di sayap kiri atau Yeremy Pino pada pos sayap kanan.

Spain's Dani Olmo and teammates workout during a training session, Saturday, June 6, 2026, in Chattanooga, Tenn., ahead of the World Cup soccer tournament. (AP Photo/Mike Stewart)

Persaingan sengit juga terjadi di pos kiper. Unai Simon sudah dipastikan menjadi kiper utama dengan David Raya sebagai pelapis. Joan Garcia yang tampil bagus bersama Barcelona musim ini harus berkompetisi dengan Alex Remiro demi posisi kiper ketiga.

”Ada enam kiper dalam daftar 55 pemain sementara. Kami akan berangkat ke Piala Dunia dengan tiga kiper. Kami memiliki yang terbaik di dunia,” kata Fuente dikutip dari Diario AS.

Dengan skuad selengkap itu, Spanyol agaknya akan jadi penantang serius gelar juara. Satu-satunya hal yang perlu mereka hindari adalah bermain imbang hingga adu penalti. Sihir tangan dingin Fuente adakalanya tidak bekerja dalam situasi seperti itu. Kekalahan Spanyol dari Portugal di final Liga Nasional lewat drama adu penalti masih menyisakan trauma.

Skuad Spanyol

Kiper: Unai Simón (Athletic Bilbao), David Raya (Arsenal), Joan García (Barcelona)

Bek: Marc Cucurella (Chelsea), Pau Cubarsí (Barcelona), Aymeric Laporte (Athletic Bilbao), Álex Grimaldo (Bayer Leverkusen), Pedro Porro (Tottenham Hotspur), Eric García (Barcelona), Marcos Llorente (Atlético Madrid), Marc Pubill (Atlético Madrid)

Gelandang: Gavi (Barcelona), Rodri (Manchester City), Pedri (Barcelona), Martín Zubimendi (Arsenal), Fabián Ruiz (PSG), Álex Baena (Atlético Madrid), Mikel Merino (Arsenal)

Penyerang: Lamine Yamal (Barcelona), Nico Williams (Athletic Club), Dani Olmo (Barcelona), Ferran Torres (Barcelona), Mikel Oyarzabal (Real Sociedad), Yéremy Pino (Crystal Palace), Borja Iglesias (Celta Vigo), Víctor Muñoz (Osasuna)

Pelatih: Luis de la Fuente


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto