CATATAN PIALA DUNIA

Mussolini, ”Calcio”, dan Propaganda

Secara historis, sepak bola dimanfaatkan untuk kepentingan politik, ekonomi, dan budaya suatu negara. Jadi, itu bukan sekadar olahraga.

11 Jun 2026 07:50 WIB · Olahraga

AP Photo/Ali Raza

Oleh Trias Kuncahyono Duta Besar Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan

Kita hidup dalam masyarakat yang sama sekali tidak terlepas dari ritual. Kita melihatnya dari sepak bola, fenomena olahraga yang menggetarkan seluruh dunia, bergerak di tengah ritual penampilan dan afiliasi, ritual yang bersifat agresif dan ritual persatuan, serta praktik pameran dan perayaan. Di sekitar permainan sepak bola telah berkembang sebuah fakta sosial menyeluruh yang mampu melampaui batas-batas kesenangan sederhana untuk terjalin dengan keseriusan hidup.

Diktator Benito Mussolini—atau ”Il Duce”, sebagaimana ia dikenal—mungkin adalah pemimpin pertama yang menggunakan sepak bola untuk menerapkan kebijakan populer. Menurut Edgardo Martolio (Italianismo, 2020), Mussolini juga yang pertama melihat Piala Dunia sebagai bentuk propaganda bagi pemerintahannya di hadapan komunitas internasional yang mempertanyakan metode politisi Italia tersebut (antara lain memaksa guru untuk mengenakan seragam fasis di kelas dan menayangkan eksekusi singkat terhadap lawan ideologis).

Di Italia, di bawah rezim fasis—Benito Mussolini—keberhasilan tim nasional dieksploitasi sebagai propaganda. Elia Fiorenza dalam artikelnya, ”Italian Football as a Vehicle of Identity” (2025), menjelaskan, evolusi historis sepak bola di Italia sangat terkait erat dengan dinamika sosial-politik dan budaya negara tersebut. Hal itu menjadikannya fenomena yang kompleks dan beragam.

Awalnya, sepak bola merupakan hiburan elite di kalangan aristokrasi dan borjuasi perkotaan utara. Setelah Perang Dunia I, jenis olahraga ini baru populer dan akhirnya berfungsi sebagai alat propaganda di bawah rezim fasis. Pilihan istilah calcio, berbeda dengan football yang lebih umum, merupakan kasus simbolis dalam membangun identitas linguistik dan budaya yang otonom.

Kata calcio berasal dari kata kerja calciare yang secara harfiah berarti ’menendang’. Oleh karena itu, tendangan dalam arti fisik apa pun—atau tembakan dalam olahraga—disebut calcio (Collins Dictionary). Dari arti kata itu, menendang, kita dapatkan kata football atau soccer karena dałam olahraga ini setiap pemain harus un calcio al pallone, menendang bola.

Para suporer mengibarkan bendera raksasa di Kota Roma, saat merayakan kemenangan Timnas Italia atas Inggris di ajang final Piala eropa 2020. Gelar juara yang sudah ditunggu selama 53 tahun tersebut disambut sukacita warga di penjuru Italia. Membawa sejumlah atribut dan bendera Italia, mereka keluar rumah dan menggelar konvoi di jalanan.

Propaganda politik

Piala Dunia Italia 1934 yang diselenggarakan Mussolini menciptakan supremasi atletik yang sejalan dengan ideologi fasis, sementara turnamen Argentina 1978 di bawah junta Videla menggunakan tontonan untuk mengaburkan korban-korban yang hilang dalam Perang Kotor.

Menurut Simon David Martin dalam ”Football, Fascism and Fandom in Modern Italy” (2018), selama era Fasis di Italia (1922-1945), olahraga ini menjadi sasaran operasi ideologis sistematis yang bertujuan melegitimasi superioritas simbolis Italia dan mengonsolidasikan konsensus politik.

Di era itu, sepak bola memperoleh dimensi kohesi nasional sekaligus mengekspresikan identitas lokal, menjadi lensa untuk menafsirkan dinamika regional dan sosial.

Quote

Sebelum final melawan Hongaria, Mussolini mengirim telegram kepada skuad Italia yang berisi pesan dua kata: ’Vinci o muori!’ (Menang atau mati!).

Rezim Mussolini merestrukturisasi permainan sepak bola pada 1926 dengan Carta di Viareggio. Yang dimaksud dengan Carta di Viareggio adalah dokumen tahun 1926 yang secara resmi memprofesionalkan sepak bola Italia. Piagam ini mengubah sepak bola dari hobi amatir menjadi sistem liga profesional yang terstruktur penuh dan memungkinkan pemain untuk ditransfer antarwilayah.

Fasisme tertarik pada sepak bola ketika calcio dengan cepat menjadi praktik budaya populer massa yang paling signifikan di Italia. Sebagai tanggapan terhadap ekspansi pesat permainan di seluruh negeri dan kekacauan yang diakibatkannya, fasisme mulai merestrukturisasi olahraga tersebut dan membentuknya untuk memenuhi kebutuhan rezim sebagai alat propaganda dan identitas nasional.

Gabriele Gavrina mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026.

Pada 1934, FIFA memilih Roma sebagai penyelenggara Piala Dunia Kedua, 27 Mei-10 Juni. Mussolini melihat peluang untuk memamerkan diri dan mempromosikan fasisme di panggung dunia. ”Tujuan utama Piala Dunia adalah untuk menunjukkan kepada alam semesta apa ideal fasis sejati dari olahraga ini,” kata Jenderal Giorgio Vaccaro, kepala federasi Italia yang ditunjuk oleh Mussolini.

Alat promosi

Mohamed Keita menulis, Mussolini melihat Piala Dunia sebagai kesempatan untuk mempromosikan Italia fasis secara global. Dia menggunakan turnamen tersebut sebagai alat propaganda untuk menggambarkan Italia sebagai negara yang kuat, bersatu, dan makmur di bawah kepemimpinannya (Human Rights Foundation).

Maka, rezim Mussolini menginvestasikan 3,5 juta lire untuk menyelenggarakan acara itu dengan merenovasi dan membangun sejumlah stadion di delapan kota: Bologna, Firenze, Genoa, Milan, Napoli, Roma, Trieste, dan Turin. ”Saya memiliki kesan bahwa bukan FIFA yang benar-benar menyelenggarakan Piala Dunia, tetapi Mussolini,” ujar Presiden FIFA saat itu, Jules Rimet.

Piala Dunia mencapai puncaknya dalam pertandingan kejuaraan dengan taruhan geopolitik antara Italia fasis dan Cekoslowakia komunis di Stadion Partai Fasis Nasional (Stadio Nazionale del PNF) di Roma di hadapan Mussolini. Kemenangan Italia merupakan kesuksesan besar bagi diktator Italia yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuat pertunjukan megah dengan mempersembahkan trofi khusus buatannya sendiri kepada tim Italia: la Coppa del Duce, sebuah trofi bertema fasis yang sangat besar dan jauh lebih besar daripada trofi resmi.

Empat hari setelah Italia dinobatkan sebagai juara Piala Dunia 1934, Mussolini dan diktator fasis Jerman, Adolf Hitler, bertemu di Venesia untuk pertama kalinya. Enam belas bulan kemudian, Mussolini menginvasi Etiopia. Lalu, pada 1937 ia menarik Italia keluar dari Liga Bangsa-Bangsa sebagai protes terhadap sanksi internasional atas invasi tersebut.

Infografik riset Piala Dunia di tengah ketegangan politik antarnegara.

Propaganda

Piala Dunia 1938 juga menjadi panggung Mussolini untuk unjuk kekuatan dan mempropagandakan fasisme. Sebelum pesta sepak bola dunia digelar, terjadi banyak peristiwa politik. Misalnya, pada akhir Maret 1938, sekitar sepuluh minggu sebelum Piala Dunia dijadwalkan dimulai, Federasi Sepak Bola Austria mengirim telegram ke FIFA.

”Maaf (kami) membatalkan pendaftaran Piala Dunia. Federasi sepak bola Austria telah bubar. Bukan hanya federasi sepak bola saja,” bunyi telegram itu.

Austria tidak jadi ikut Piala Dunia di Perancis karena pada 12 Maret 1938 Jerman Nazi mencaplok Austria dengan dukungan Mussolini. Aneksasi ini dikenal sebagai Anschluss (koneksi). Kanselir Austria saat itu, Kurt Schuschnigg, terpaksa mengundurkan diri karena diancam Hitler. Tentara Austria tidak memberikan perlawanan dan pasukan Jerman disambut dengan sorak-sorai oleh kerumunan besar yang antusias.

Mengapa disebut Anschluss? Sebab, dengan mencaplok Austria, Hitler ingin menyatukan kedua negara. Ini penting. Sebab, Hitler lahir di Braunau am Inn (20 April 1889), tepat di selatan perbatasan, dan dibesarkan di Linz dan Vienna. Karena itu, sebelumnya, Nazi Austria membunuh Engelbert Dollfuss—seorang politikus dan diktator Austria yang menjabat sebagai kanselir Austria antara tahun 1932 dan 1934—untuk melapangkan jalan penyatuan kedua negara.

Mundurnya Austria menambah peluang bagi Italia untuk mempertahankan mahkota. Apalagi, tahun 1936, kesebelasan Italia meraih medali emas di Olimpiade. Mussolini selalu melihat pesta-pesta olahraga sebagai panggung untuk mempromosikan fasismenya, untuk melakukan propaganda ke dunia internasional bahwa Italia kuat, makmur di bawah kepemimpinannya.

Dan, memang, Italia yang juara bertahan melaju dengan lancar. Saat perempat final, Italia berhadapan dengan tuan rumah Perancis. Karena kostum mereka sama, Mussolini memerintahkan agar tim Italia mengenakan kostum serba hitam (maglia nera), untuk menunjukkan kekuatan. Ini warna simbol Partai Fasis Italia. Akhir pertandingan dimenangi Italia dengan skor 3-1.

Trofi Piala Dunia dipamerkan di New York, Kamis (16/6/2022) setelah FIFA mengumumkan 16 kota penyelenggara Piala Dunia 2026 yang berada di tiga negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. ***The FIFA World Cup trophy is displayed during an event in New York after an announcement related to the staging of the FIFA World Cup 2026, on June 16, 2022. - Mexico City's iconic Azteca Stadium and the Los Angeles Rams' multi-billion-dollar SoFi Stadium were among 16 venues named on June 16 to stage games at the 2026 World Cup being held in the United States, Canada and Mexico. (Photo by Yuki IWAMURA / AFP)

Italia maju ke final. Sebelum final melawan Hongaria, Mussolini mengirim telegram kepada skuad Italia yang berisi pesan dua kata: ”Vinci o muori!” (Menang atau mati!).

”Daripada mati”, para pemain Italia bertarung habis-habisan dan akhirnya memenangi pertandingan dengan skor 4-2 untuk mengamankan Piala Dunia kedua berturut-turut mereka.

Maka, kemenangan Italia pada Piala Dunia 1938 di Perancis dinyatakan sebagai puncak prestasi olahraga bagi Italia Fasis. Menurut Lando Ferretti, salah satu ahli teori olahraga fasis, keberhasilan tersebut menyatukan diaspora Italia di belakang rezim, sekaligus melambangkan kebangkitan bangsa Italia fasis.

Sampai di sini, kita mencatat bahwa secara historis, sepak bola telah dimanfaatkan di dunia untuk membela berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan/atau budaya internal dan eksternal negara. Di satu sisi, jenis pemanfaatan pertama memiliki karakter identitas politik yang lebih kuat.

Akan tetapi, dalam transformasi terbaru, hal itu telah meningkat seiring dengan gerakan globalisasi dan juga melibatkan kepentingan ekonomi transnasional.


Kerabat Kerja

Penulis:

Trias Kuncahyono Duta Besar Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto, Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto