Timnas Uruguay mungkin adalah karya terakhir Marcelo Bielsa di panggung Piala Dunia. Kiprah legenda yang jadi panutan banyak pelatih elite dunia itu layak disimak.
10 Jun 2026 11:30 WIB · Olahraga
AFP
Satu hal yang membuat Piala Dunia 2026 terasa istimewa ialah kehadiran Marcelo Bielsa bersama timnas Uruguay. Sosok legendaris yang menjadi inspirasi banyak pelatih elite itu kembali ke panggung Piala Dunia. Ide sepak bola menyerang tanpa kompromi Bielsa akan mendapat tantangan hebat dari Spanyol sebagai sesama penghuni Grup H.
Kesempatan menyaksikan Bielsa di ajang sepak bola tertinggi tergolong langka. Sejauh ini, ia tercatat pernah dua kali tampil di Piala Dunia sebagai pelatih. Kehadiran pertama Bielsa terjadi pada 2002 bersama timnas Argentina. Delapan tahun kemudian, Bielsa kembali mencicipi kerasnya persaingan bersama Chile pada edisi 2010.
Melihat cara Bielsa meramu sebuah tim begitu patut dinantikan. Filosofi menyerang dengan intensitas tinggi karya Bielsa selalu menarik ditonton. Selain itu, etos kerjanya yang berdedikasi dalam analisis video calon lawan telah menjadi rujukan bagi beberapa pelatih kelas atas seperti Pep Guardiola, Lionel Scaloni, Mauricio Pochettino, dan Diego Simeone. Dengan demikian, Bielsa sudah seperti sesepuh agung bagi para pelatih.
”Dia jenius. Dia orang yang karismatik dan memiliki karakter yang sangat berbeda dari pelatih biasa seperti kita. Itulah yang membuatnya sangat istimewa,” kata Pochettino dikutip dari laman FIFA.
Akan tetapi, Bielsa membuat keputusan mengejutkan dengan menyatakan akan mundur dari timnas Uruguay setelah Piala Dunia 2026, terlepas hasil apa pun yang mereka raih.
Piala Dunia ini akan menjadi tugas terakhir kami.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/2deb41b4869a55011da188a04e80211a-FBL_WC_2026_URU_FAREWELL_138795572.jpg)
Pengumuman Bielsa di awal turnamen sedikit tidak lazim mengingat itu bisa merusak fokus tim. Para pelatih biasanya mengumumkan kepergian pada akhir turnamen sekaligus mengucapkan perpisahan.
”Piala Dunia ini akan menjadi tugas terakhir kami,” ucap Bielsa dalam sesi konferensi pers yang diselenggarakan Federasi Sepak Bola Uruguay (AUF), Jumat (22/5/2026).
Bielsa tidak memperjelas maksudnya tersebut, termasuk membeberkan alasannya. Ia sengaja membiarkan publik hanyut dalam tanda tanya. Belum diketahui apakah Bielsa berniat kembali melatih suatu tim atau memutuskan pensiun. Oleh sebab itu, penampilan Uruguay pada penyisihan Grup H layak disimak karena kemungkinan besar menjadi karya terakhir Bielsa di Piala Dunia.
Karya terakhir Bielsa akan mendapatkan rintangan terberat kala bertemu Spanyol pada 27 Juni di Stadion Guadalajara, Meksiko. Laga pamungkas penyisihan Grup H tersebut juga berjalan kontras mengingat Bielsa yang sarat pengalaman melatih tim senior bertemu dengan Luis De La Fuente yang lebih lama menghabiskan waktu melatih tim kelompok usia Spanyol.
Uruguay tiba di Piala Dunia setelah menempati peringkat keempat kualifikasi zona Conmebol (Amerika Latin). Semenjak bertugas, Bielsa menjadikan Uruguay sebagai mesin penekan yang seolah tidak kenal lelah. ”La Celeste” tergolong tim yang tidak akan membiarkan lawan leluasa menguasai bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/7c0e641fe256e3aba76b0949fa401483-FBL_WC_2026_URU_FAREWELL_138796396.jpg)
Kekuatan Uruguay bertumpu pada trio gelandang tangguh, Manuel Ugarte, Rodrigo Bentancur, dan Federico Valverde. Mereka senantiasa gigih mengejar lawan yang sedang berupaya membangun serangan dari belakang. Sedangkan lini pertahanan yang dikomandoi Ronald Araujo dan Mathias Olivera tidak segan-segan menyergap penyerang lawan yang berupaya menerima bola di ruang antarlini.
Pendekatan itu ampuh dalam mengacak-acak lawan yang belum sempat membentuk pertahanan. Di sisi lain, Uruguay rentan terkena serangan balik kilat. Sepanjang kualifikasi, Uruguay mencetak 22 gol, tetapi kebobolan 12 gol. Kerentanan Uruguay dalam menerima serangan balik kilat akan dimaksimalkan Spanyol.
Sejak menangani tim pada 2022, Fuente mempertahankan gaya permainan berbasis penguasaan bola yang telah lama menjadi ciri khas Spanyol. Gaya permainan itu cocok untuk kebanyakan pemain Spanyol yang memiliki teknik tinggi.
Namun, ada sedikit perbedaan pada tim besutan Fuente. Juara bertahan Piala Eropa tersebut tidak hanya kuat dalam penguasaan bola, tetapi juga punya kecenderungan mengalirkan bola secara cepat ke penyerang sayap Lamine Yamal dan Nico Williams. Kedua pemain tersebut punya kecepatan yang merepotkan bek-bek lawan.
Berkat itu, Spanyol telah menjadi tim tajam dengan mencetak setidaknya dua gol pada 13 laga sejak Oktober tahun lalu. ”La Furia Roja” pun melaju mulus pada kualifikasi Piala Dunia dengan belum pernah kalah. Mereka mencetak 21 gol dan hanya kebobolan dua gol. Meski belum punya banyak pengalaman melatih timnas senior, Fuente buktinya selalu sukses mengantarkan Spanyol melaju ke final dalam setiap turnamen besar seperti Liga Nasional UEFA dan Piala Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/08/73cc959dc17897671d18f303641cfba2-Spain_WCup_Soccer_138837783.jpg)
Di saat Spanyol dan Uruguay banyak dijagokan melaju dari penyisihan grup, Tanjung Verde dan Arab Saudi tidak mau hanya menjadi pelengkap. Kedua negara tersebut punya ambisi menjegal para raksasa.
Bagi penyerang sayap Tanjung Verde, Willy Semedo, lolos ke fase gugur memang berat mengingat ada dua raksasa di Grup H. Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Apalagi Tanjung Verde diperkuat banyak pemain diaspora yang berkompetisi di Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat dan sejumlah klub-klub Portugal.
”Kami tidak pergi ke sana (AS) hanya untuk berlibur. Kami pergi ke Piala Dunia untuk melakukan sesuatu yang istimewa bagi negara kami, untuk membuat mereka bangga kepada kami dan untuk memastikan lolos ke babak gugur,” kata Semedo.
Jangan lupakan pula sengatan Arab Saudi yang tidak diperhitungkan, tetapi mampu mengalahkan Argentina di Piala Dunia 2022. Setelah berganti-ganti pelatih, dari Roberto Mancini hingga Herve Renard, Arab Saudi menatap Piala Dunia bersama Georgios Donis. Dia diharapkan mampu membimbing Arab Saudi melaju lebih jauh. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul