Ekonomi Nasional Diklaim Masih Stabil di Tengah Impitan Global

APBN terus menjalankan fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi dengan memberi stimulus, mendorong pelaksanaan program strategis, serta menopang sektor prioritas.

28 Jul 2025 19:37 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah optimistis perekonomian nasional tetap tumbuh stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global pada triwulan II-2025. Optimisme ini didukung konsumsi domestik yang tetap kuat, kinerja ekspor yang positif, dan peran APBN sebagai penyangga utama perekonomian.

Saat menyampaikan hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, gejolak global masih membayangi pertumbuhan ekonomi dunia, antara lain, akibat dinamika kebijakan tarif resiprokal antara Amerika Serikat dan China serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

”Ketidakpastian global tetap tinggi. Pengumuman tarif resiprokal AS dan retaliasi dari China pada April lalu, serta eskalasi konflik di Timur Tengah pada Juni, berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi di banyak negara,” ujar Sri Mulyani, Senin (28/7/2025), di Jakarta.

Lembaga internasional, seperti Bank Dunia dan OECD, telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,9 persen, dari sebelumnya 3,2 persen dan 3,1 persen. Di tengah situasi itu, perekonomian negara berkembang melambat, terutama karena ekspor melemah dan arus perdagangan global menurun.

Kendati demikian, Sri Mulyani menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap memiliki daya tahan. Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 diperkirakan menjadi landasan kuat untuk mencapai target pertumbuhan sekitar 5 persen pada tahun ini.

Kinerja neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus 15,38 miliar dollar AS hingga Mei 2025. ”APBN terus menjalankan fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi dengan memberikan stimulus, mendorong pelaksanaan program strategis, serta menopang sektor-sektor prioritas dan kelompok rentan,” kata Sri Mulyani.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga, melonggarkan likuiditas, serta memberikan insentif makroprudensial untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor produktif. Pemerintah juga aktif menjajaki kerja sama bilateral dan multilateral untuk memperluas ruang pertumbuhan.

Infografik-Tarif Baru Trump terhadap 14 Negara (7 Juli 2025) *** Local Caption *** Infografik-Tarif Baru Trump terhadap 14 Negara (7 Juli 2025)

Salah satu capaian penting adalah keberhasilan Indonesia dalam menegosiasikan penurunan tarif resiprokal AS dari 32 persen menjadi 19 persen. Langkah ini diyakini akan meningkatkan daya saing sektor-sektor padat karya, seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur.

Sementara itu, kebijakan Indonesia memberlakukan tarif impor 0 persen atas sejumlah produk asal AS juga dinilai dapat menurunkan harga bahan bakar dan pangan di dalam negeri.

Kendati demikian, pemerintah tetap mewaspadai risiko rambatan global, termasuk kontraksi yang masih terjadi di sektor manufaktur. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni tercatat 46,9 atau masih di bawah ambang ekspansi.

”Peran sektor swasta sebagai motor penggerak ekonomi terus kami dorong, termasuk dengan percepatan deregulasi dan penguatan lembaga penjaminan, seperti Danantara, agar berfungsi optimal,” ujar Sri Mulyani.

Stabilitas nilai tukar

Dengan koordinasi kebijakan yang terus diperkuat dan dorongan terhadap sektor produktif, pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 dapat bertahan di kisaran 5 persen, di tengah tantangan global yang masih berlangsung.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur ​​Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan nilai tukar rupiah tetap stabil dengan kecenderungan menguat sepanjang triwulan II-2025. Tren ini ditopang oleh langkah konsisten stabilisasi oleh otoritas moneter, intervensi pasar valas, serta meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan hasil rapat berkala KSSK kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/7/2025). KSSK menyampaikan stabilitas sistem keuangan Indonesia pada kuartal II 2025 tetap dalam kondisi terjaga, meskipun kondisi global sedang diliputi ketidakpastian.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
28-07-2025

Ia menjelaskan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah sempat meningkat pada awal April 2025, terutama di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri. Tekanan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat kebijakan tarif resiprokal dari AS.

”Bank Indonesia merespons dengan intervensi langsung di pasar valuta asing, termasuk secara aktif di pasar NDF luar negeri. Langkah ini mampu mengembalikan stabilitas nilai tukar secara bertahap,” ujar Perry.

Ia menjelaskan, nilai tukar rupiah terus menunjukkan penguatan sejak Mei hingga akhir Juni 2025. Pada 30 Juni 2025, rupiah tercatat menguat ke level Rp 16.235 per dollar AS, jauh lebih baik ketimbang posisi April 2025 yang sempat menyentuh Rp 16.865 per dollar AS.

Penguatan rupiah juga didorong oleh masuknya arus modal asing ke pasar surat berharga negara (SBN) yang mencatat net inflows sebesar 1,6 miliar dollar AS selama triwulan II-2025. Selain itu, konversi valuta asing oleh eksportir menyusul penguatan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) dari sektor sumber daya alam turut menambah suplai dollar di pasar domestik.

”Persepsi positif investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia tetap terjaga. Ini turut memperkuat nilai tukar dan menjaga stabilitas moneter,” kata Perry.

Hingga 25 Juli 2025, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 16.315 per dollar AS. Perry menegaskan, ke depan, stabilitas rupiah akan tetap terjaga, didukung oleh kombinasi berbagai faktor, seperti inflasi yang rendah, imbal hasil aset keuangan yang menarik, dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap kuat.

”Posisi cadangan devisa Indonesia juga sangat memadai, mencapai 152,6 miliar dollar AS pada akhir Juni 2025. Ini setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar internasional,” ujar Perry.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari (kiri ke kanan) Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap menyampaikan hasil rapat berkala KSSK kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/7/2025). KSSK menyampaikan stabilitas sistem keuangan Indonesia pada kuartal II 2025 tetap dalam kondisi terjaga, meskipun kondisi global sedang diliputi ketidakpastian.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
28-07-2025

Intermediasi perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan perdagangan. Kinerja intermediasi perbankan dinilai solid, ditopang oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan risiko yang tetap terkendali.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan, per Juni 2025, sektor perbankan membukukan pertumbuhan kredit 7,77 persen secara tahunan menjadi Rp 8.059,79 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kredit investasi yang naik signifikan 12,53 persen year on year dan kredit konsumsi yang tumbuh 8,49 persen secara tahunan. Sementara kredit modal kerja tercatat tumbuh lebih moderat sebesar 4,45 persen secara tahunan.

”Secara umum, intermediasi perbankan tetap berjalan baik. Kinerja ini mencerminkan dukungan pembiayaan terhadap sektor riil masih berlanjut,” ujar Mahendra.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati