Tekanan ekonomi memaksa sebagian warga terpaksa tidak mudik ke kampung halaman. Kalaupun mereka dapat mudik, anggaran pun sangat minim.
20 Mar 2025 19:34 WIB · Ekonomi
Lebaran tinggal sekitar 10 hari lagi, tetapi kesibukan menyiapkan mudik tak dilakukan oleh Ria (35) dan keluarga. Dosen pada salah satu perguruan tinggi negeri di Kalimantan Tengah tersebut untuk pertama kali terpaksa menahan rindu kepada keluarga besarnya di Aceh karena tidak bisa pulang kampung.
Pendapatan keluarganya tak cukup untuk membeli tiket pesawat pulang-pergi dari Palangka Raya ke Aceh. Apalagi, dalam setiap mudik, Ria beserta suami dan kedua anaknya harus membeli empat tiket dengan harga sekitar Rp 35 juta.
”Tahun lalu bisa mudik ke kampung suami di Kendari (Sulawesi Tenggara) karena ada penghasilan tambahan sebagai translator (penerjemah). Tetapi, sekarang (kerja sampingan) lagi sepi, jadi engga bisa mudik ke kampung saya di Aceh,” kata Ria saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (20/3/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/2961334c-4cb4-4d6b-931b-0be2ecabec21_jpeg.jpeg)
Sebagai seorang dosen bergelar magister biologi dengan status pegawai negeri sipil, penghasilannya per bulan sekitar Rp 3,7 juta. Sementara suaminya yang juga lulusan magister kedokteran hewan kini bekerja sebagai pengemudi ojek dalam jaringan dengan pendapatan sekitar Rp 3 juta. Sebab, pekerjaan lamanya sebagai penerjemah lepas tak lagi menentu.
Sementara untuk bekal mudik Lebaran, keluarga kecil Ria mengandalkan pekerjaan sampingan. Dalam beberapa tahun terakhir, modal untuk perjalanan mudik mereka berasal dari pekerjaan sebagai penerjemah lepas. Hasil kerja tambahan selama setahun itu mereka tabung agar bisa digunakan untuk mudik Lebaran ke Aceh ataupun Kendari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/0a6896ef-abbf-490e-8b11-cadf21f34c2f_jpg.jpg)
”Saya bisa mudik ke Kendari tahun lalu itu dari uang menerjemahkan naskah, bukan dari gaji sebagai dosen. Waktu itu, keluarga saya habis Rp 28 juta untuk beli tiket pesawat pulang dan pergi,” ujar Ria.
Sayangnya, pekerjaan sebagai penerjemah tak selalu datang rutin tiap pekan. Sejak akhir 2024, Ria sepi pesanan. Dalam satu bulan, paling banyak ia hanya mengantongi Rp 4 juta. Itu pun pekerjaan tak pasti ada setiap bulan. Praktis, tak ada lagi penghasilan tambahan yang signifikan.
Harapan sempat muncul ketika suami Ria diterima sebagai dosen PNS di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Riau. Namun, harapan itu dengan cepat layu kembali ketika pemerintah mengumumkan bahwa pengangkatan CPNS ditunda.
”Dengan kondisi sekarang enggak mungkin kami mampu beli tiket Palangka Raya-Aceh (pulang dan pergi) yang harganya kalau buat berempat bisa sampai Rp 35 juta,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/07/468ef7c6-4b1d-40c1-9732-792464cd3aab_jpg.jpg)
Ria dan keluarganya merupakan salah satu masyarakat yang bisa lagi mudik tahun ini. Kementerian Perhubungan memprediksi, jumlah pemudik pada Lebaran 2025 menurun, dari sebelumnya sebanyak 193,6 juta orang menjadi 146,48 juta orang. Sebagian di antaranya gagal mudik karena keterbatasan anggaran.
Nasib lebih baik dirasakan Alia (36), warga Jakarta Selatan. Ibu tunggal satu anak itu berencana tetap mudik ke kampung halamannya di Serang, Banten. Meskipun demikian, anggaran yang disiapkan menurun dibanding Lebaran tahun lalu akibat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober 2024 lalu.
Padahal, gajinya saat masih bekerja sebagai business development manager di sebuah perusahaan marketing technology mencapai belasan juta rupiah. Kini, setelah terkena PHK, ia masih mendapatkan pekerjaan sebagai empathic listener untuk membantu orang yang butuh didengarkan dan konsultan animal behaviour. Namun, gajinya turun drastis berkisar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan.
”Lebaran kali ini, saya tetap bisa pulang ke rumah orangtua di Serang (Banten). Tetapi, anggaran selama mudik harus betul-betul direm,” kata Alia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/23/f9906b65-ac49-44f0-a4bb-c962d0e34364_png.png)
Alia melanjutkan, ekonomi yang babak belur menjelang Lebaran 2025 memaksanya berhemat. Pada Lebaran di tahun-tahun sebelumnya ia selalu menyempatkan menginap di hotel dan berwisata bersama anak semata wayangnya. Ia juga selalu meluangkan waktu dan uang untuk berbelanja pakaian serta wisata kuliner selama di kampung halaman.
”Sekarang enggak bisa lagi. Kalau tahun lalu mudik bisa habis lebih dari Rp 5 juta, sekarang hanya bisa sekitar Rp 1 juta,” ucapnya.
Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Fadhila Maulida, mengatakan, mudik Lebaran bukan sekadar tradisi sosial. Mudik selalu melahirkan dampak ekonomi yang signifikan.
”Penurunan jumlah pemudik akan berdampak juga terhadap kunjungan wisata domestik di berbagai daerah. Ini juga akan berpengaruh terhadap ekonomi lokal daerah tujuan mudik,” kata Fadhila dalam diskusi daring bertajuk ”Ekonomi Lebaran saat Cekak Anggaran”, Rabu (19/3/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/53d2b776-f5de-4d3b-b345-68ca49404ac3_png.png)
Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Riza Annisa Pujarama, menambahkan, pemerintah telah memberikan sejumlah stimulus fiskal agar daya beli warga meningkat saat Lebaran. Stimulus itu, antara lain, diskon tiket pesawat, diskon tarif tol, pencairan tunjangan hari raya, dan penyaluran bansos.
”Stimulus (yang diberikan pemerintah) dari Januari hingga Maret ini menunjukkan bahwa perekonomian, terutama dari sisi konsumsi, sedang tidak baik-baik saja,” kata Riza.
Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah juga belum berdampak. Rizal menyoroti defisit APBN yang masih mencapai Rp 31,2 triliun, padahal kebijakan efisiensi anggaran sudah membuat belanja kementerian dan lembaga per Februari 2025 turun hampir Rp 36,4 triliun dari tahun sebelumnya.
Meskipun jumlah pemudik diprediksi menurun, sejumlah penyedia jasa transportasi tetap optimistis angka pemudik bakal naik. Ini, misalnya, terlihat dalam persiapan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Pelayaran Nasional Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/15144c15-61c6-4e1a-a191-3a6bb55b15ba_jpg.jpg)
Vice President Public Relations KAI Anne Purba, melalui pernyataan tertulis, menyatakan, KAI menyediakan 4,51 juta kursi untuk mengangkut pemudik. Kapasitas angkut yang disiapkan pada tahun ini naik 6,29 persen dibandingkan tahun 2024.
Adapun Manajer Komunikasi PT Pelni Ditto Pappilanda mengatakan, pengguna kapal penyeberangan pada Lebaran 2025 diprediksi berjumlah 644.102 jiwa. Perkiraan itu naik 0,48 persen dibanding jumlah penumpang saat arus mudik Lebaran 2024.
Ditto mengakui, pertumbuhan penumpang Pelni lebih kecil dari tahun 2023 ke 2024 yang bisa menyentuh angka 20 persen. Namun, ia menyebut hal ini bukan disebabkan animo mudik warga yang lesu.
”(Itu) karena Lebaran tahun lalu (2024) kapal Pelni jumlahnya ada 26 buah. Namun, pada pertengahan 2024, satu kapal Pelni, (Kapal Motor) Umsini, terbakar di Makassar (Sulawesi Selatan). Itu sebabnya kenaikannya (pertumbuhan penumpang) tipis,” ujarnya.
Penulis:
Pandu WiyogaEditor:
Iqbal Basyari