Trump Pukul Genderang Perang Dagang, IHSG Tersungkur

Momentum ini jadi peluang bagi investor untuk membeli saham perbankan yang mulai melawan tren ”bearish”.

03 Feb 2025 17:28 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan mengalami koreksi pada perdagangan pertama Februari 2025. Investor mengantisipasi ketidakpastian ekonomi seusai Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menabuh genderang perang perdagangan terhadap negara tetangga dan China.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,11 persen ke level 7.030 dari posisi pembukaan di 7.109 pada perdagangan Senin (3/2/2025). Di tengah sesi perdagangan, IHSG bahkan sempat melemah hingga 2 persen ke level 6.933.

Mengutip aplikasi trading saham Ajaib, indeks harga saham per sektor yang mengalami koreksi terdalam hingga akhir perdagangan adalah sektor kesehatan dan bahan dasar. Sementara itu, sektor saham dengan kinerja terbaik adalah teknologi dan disusul sektor keuangan.

Tim analisis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut, pelemahan yang juga terjadi di bursa saham regional Asia terjadi seiring dengan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pemberlakuan tarif impor.

Layar menampilkan pergerakan peradangan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (30/12/2024). Bursa Efek Indonesia 2024 resmi ditutup pada Senin (30/12/2024) dengan IHSG menguat 43,33 poin atau 0,62 persen ke posisi 7.079,90. Sementara itu, saham unggulan kelompok 45 atau indeks LQ45 naik 1,52 poin yaitu 0,18 persen ke posisi 826,62. Total investor pasar modal Indonesia mencapai sebanyak 14,84 juta Single Investor Identification (SID) per 27 Desember 2024. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan akhir tahun 2023 dengan jumlah sebanyak 12,16 juta SID. Dari total 14,84 juta investor, sebanyak 99,73 persen merupakan investor lokal dan sebesar 0,27 persen merupakan investor asing yang sebagian besar merupakan investor institusi. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 30-12-2024

Akhir pekan lalu, AS mengumumkan pemberlakuan tarif bea masuk besar-besaran untuk mitra dagangnya. AS memberlakukan tarif 25 persen untuk barang-barang dari Meksiko dan Kanada dan pungutan 10 persen untuk impor dari Tiongkok.

Merespons kebijakan tersebut, Tiongkok mengumumkan rencana untuk meluncurkan tindakan balasan lainnya. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga memerintahkan penerapan tarif balasan mulai dari 5 persen hingga 20 persen untuk produk AS yang masuk ke negara mereka.

Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengumumkan tarif balasan sebesar 25 persen. Ini akan diterapkan secara luas dan mencakup barang-barang sehari-hari.

”Kondisi ini membuat pasar kuatir dan menimbulkan kekhawatiran tentang potensi gangguan pada perdagangan global,” sebut laporan Pilarmas Investindo Sekuritas.

Dalam konferensi pers pada Selasa (7/1/2025) di resor Mar-a-Lago, Palm Beach, AS, Trump menyebut tak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mencaplok Terusan Panama atau Greenland. Dia juga menyebut akan menggunakan kekuatan ekonomi untuk menyeret Kanada menjadi bagian AS.

Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto, kepada Kompas juga berpendapat, kebijakan perang dagang Trump sebagaimana yang pernah dilakukan di masa pemerintahannya lalu akan mengubah arah pasar dengan cepat. Kebijakan itu sekaligus meningkatkan volatilitas harga saham di bursa.

Ia memprediksi pelemahan IHSG akan berlanjut dan menyebabkan penurunan harga pada banyak sektor saham, termasuk keuangan yang memiliki fundamental baik.

”Menurut saya, IHSG memiliki peluang untuk menurun tembus 7.000 lagi. Faktornya beragam, bisa karena pasar khawatir dengan kebijakan tarif Trump, ada juga karena pelemahan rupiah,” tuturnya.

Perdagangan saham termonitor dari sistem di Bursa Efek Jakarta, Kamis (2/1/2025). Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdana perdagangan di tahun 2025 ditutup naik 1,18 persen ke posisi 7.163,205. Frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 1.089.356 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 19,1 miliar saham senilai Rp 8,7 triliun. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Sentimen negatif juga dinilai datang dari dalam negeri setelah Badan Pusat Statistik mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali mengalami deflasi sejak September 2024 sebesar 0,76 persen secara bulanan. Secara tahunan, IHK mengalami inflasi senilai 0,76 persen, terendah dalam 25 terakhir.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, dalam rilisnya mengungkapkan, data inflasi tahuan di Januari 2025 jauh dari prediksi konsensus di angka 1,88 persen, lebih tinggi dari Desember 2024 sebesar 1,57 persen. Bank Indonesia (BI) juga menetapkan sasaran inflasi pada 2025 di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

”Padahal, dengan besaran data inflasi tahunan saat ini yang mendekati batas bawah di 1,5 persen, pasar lebih berekspektasi inflasi bisa sesuai dengan ekspektasi atau lebih tinggi yang menggambarkan bangkitnya daya beli,” ungkapnya.

Infografis Indeks Harga Konsumen Januari 2025.

Peluang investasi

Di tengah pelemahan IHSG, investor bisa mengambil peluang berinvestasi di sektor keuangan yang tetap memiliki proyeksi kinerja keuangan positif pada 2025.

Analis Investasi Infovesta, Ekky Topan, menyampaikan, sejak Oktober 2024, harga saham perbankan banyak yang turun. Tren ini terutama terjadi pada saham berkapitalisasi besar, misalnya saham PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

”Penyebabnya adalah aksi jual asing karena berbagai sentimen yang terjadi di market, pada Oktober dimulai dengan isu stimulus China, lalu saat November kekawatiran atas perang dagang setelah terplihnya trump. Lalu, pada Desember 2024 diperburuk sikap Bank Sentral AS The Fed yang membuat pasar memproyeksikan suku bunga AS lebih tinggi untuk waktu lama,” katanya.

Namun, sejak Januari, Ekky melanjutkan, tren bearish atau penurunan harga saham perbankan mulai terlihat melandai. Tren ini didukung sentimen positif, seperti penurunan suku bunga oleh BI dan juga potensi bertambahnya likuiditas karena kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) 100 persen ditahan.

”Setelah penurunan signifikan sejak Oktober, valuasi perbankan, seperti BBNI, BBRI, dan BMRI, juga dinilai sudah cukup murah, apalagi ditambah potensi pembagian dividien di triwulan-II 2025,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto mengadakan rapat terbatas dengan sejumlah menteri di Kabinet Merah-Putih untuk membahas revisi peraturan terkait penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/1/2025).

Dengan adanya titik terang pembalikan arah tren harga bagi sektor perbankan, momentum ini baik bagi investor untuk mengakumulasi saham bank. ”Ini melihat valuasi yang sudah murah dan kinerja yang sebenarnya masih terus bertumbuh,” ujarnya.

Emiten seperti BBRI belum lama ini juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback yang dibaca pasar bertujuan meningkatkan harga saham. Dalam setahun terakhir, saham BBRI tercatat tutun 26,61 persen dari harga sekitar Rp 5.800. Saat ini, saham itu mulai menguat tipis di awal tahun ini ke harga Rp 4.200 per saham.

Corporate Secretary BBRI Agustya Hendy Bernadi, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat (31/1/2025), mengatakan, perseroan menyiapkan dana untuk buyback saham sebesar Rp 3 triliun. Rencana ini akan diputuskan dalam kegiatan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 11 Maret 2025.

”Buyback 2025 dilakukan melalui PT BEI maupun di luar bursa efek, baik secara bertahap maupun sekaligus dan diselesaikan 12 bulan setelah RUPS yang menyetujui buyback 2025,” kata Agustya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra