Ekspansi Emiten Kebutuhan Rumah Tangga dan Gaya Hidup Topang Pertumbuhan Pendapatan

Tingkat penjualan yang lebih kuat di seluruh segmen selama periode Lebaran membantu menciptakan momentum positif bagi perseroan.

02 Mei 2025 16:19 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Kinerja keuangan perusahaan terbuka di bursa yang bergerak di bidang usaha kebutuhan rumah tangga dan gaya hidup masih bertumbuh pada triwulan pertama 2025. Tidak hanya mengandalkan daya beli di momentum Lebaran, emiten di sektor tersebut juga meraup untung dari strategi ekspansi usaha.

Perusahaan peritel produk gaya hidup, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP), dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, melaporkan kenaikan pendapatan bersih 5,8 persen menjadi Rp 9,3 triliun pada tiga bulan pertama 2025 dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 8,8 triliun.

Laba kotor perseroan tumbuh dari Rp 3,7 triliun pada periode sama tahun lalu menjadi Rp 4,1 triliun, laba usaha naik 7,8 persen menjadi Rp 769 miliar, dan EBITDA tumbuh menjadi Rp 1,5 triliun. Laba bersih MAP untuk kuartal pertama meningkat sebesar 13,1 persen, mencapai Rp 567 miliar.

”Kinerja MAP didukung oleh pencapaian awal tahun yang baik, dengan performa kuartal pertama kami turut diperkuat oleh libur Lebaran yang berlangsung lebih awal,” kata Ratih D Gianda, VP Investor Relations, Corporate Communications and Sustainability MAP Group, dikutip Jumat (2/5/2025).

Sektor busana muslim "Samaira" di pusat perbelanjaan Sogo, Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan dibuka pada Rabu (8/5/2019).

Tingkat penjualan yang lebih kuat di seluruh segmen selama periode Lebaran, katanya, membantu menciptakan momentum positif bagi perseroan dengan kode tercatat MAPI itu di tengah ketidakpastian pasar yang masih berlanjut dan beberapa faktor eksternal.

Untuk menjaga pertumbuhan penjualan, Ratih menjelaskan, MAP memperluas portofolio jenama kelas atasnya dengan peluncuran produk fashion dan gaya hidup merek Chloé, Christian Louboutin, dan Pazzion. Pada saat yang sama, MAP lanjut mengembangkan inisiatif digitalnya, dengan mengoperasikan 51 platform daring di triwulan akhir 2025, serta mengoperasikan lebih dari 3.700 gerai ritel di lebih dari 80 kota di Indonesia.

Perusahaan terbuka yang bergerak di toko ritel perlengkapan rumah, seperti PT Daya Intiguna Yasa Tbk atau MR DIY Indonesia, juga menikmati keuntungan konsumsi Lebaran masyarakat. Pemilik kode MDIY di bursa itu menerima pendapatan mencapai Rp 1,8 triliun dalam tiga bulan pertama 2025. Pendapatan tersebut tumbuh 57 persen secara tahunan.

Laba bersih juga naik 160 persen secara tahunan hingga Rp 226 miliar dengan peningkatan margin laba setelah pajak sebesar 5 persen poin ke level 12,5 persen. Margin laba kotor turut menguat menjadi 56 persen.

Foto bersama manajemen perusahaan toko ritel peralatan rumah tangga dengan nama Mr DIY, PT Daya Intiguna Yasa Tbk, usai meresmikan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis (19/12/2024).

Direktur Utama MR DIY Indonesia Edwin Cheah dalam siaran pers, Selasa (29/4/2025), menyampaikan, di tengah kondisi makroekonomi yang dinamis, kinerja keuangan MR DIY Indonesia sejauh ini mencerminkan strategi, model bisnis, dan kemampuan beradaptasi perseroan menghadapi iklim industri ritel yang dinamis.

Ia menyebut, toko mereka yang banyak menyebar di Indonesia terus meningkatkan hubungan dan interaksi aktif dengan pelanggan, termasuk memanfaatkan momentum penting, seperti Ramadhan dan Idul Fitri, untuk menawarkan produk dan layanan sesuai dengan perubahan kebutuhan pelanggan.

Strategi ini dilakukan secara merata di toko mereka yang terus bertambah. Selama triwulan I-2025, MR DIY membuka 63 toko baru menjadi total 1.021 toko di seluruh Indonesia. Capaian itu memastikan perusahaan mampu mencapai target setidaknya 270 toko baru pada 2025 dengan memprioritaskan wilayah yang belum terlayani, termasuk kota-kota yang baru berkembang. 

”Seiring dengan bertumbuhnya jangkauan kami di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah dengan akses terbatas terhadap layanan ritel modern, kami tetap berkomitmen untuk memberikan nilai tambah, aksesibilitas serta dampak positif jangka panjang kepada lebih banyak keluarga di Indonesia,” ujar Edwin.

Antrean panjang pengunjungg yang hendak melakukan pembayaraan di Azko di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (23/3/2025). Konsumsi masyarakat meningkat selama bulan puasa dan jelang Lebaran. Momentum tahunan ini disambut baik oleh para pelaku usaha untuk meningkatkan penjualan.

Sejauh ini, MR DIY Indonesia masih memimpin industri ritel perlengkapan rumah terjangkau di Indonesia, baik dari pertumbuhan maupun skalabilitas. Tingkat pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) perseroan dalam tiga tahun terakhir sebesar 42 persen untuk jumlah toko, 75 persen untuk pendapatan, dan 191 persen untuk laba setelah pajak.

Pesaingnya, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk atau Azko, yang berkode ACES, juga mencatatkan pertumbuhan penjualan pada triwulan I-2025 yang terangkat mementum Idul Fitri di Maret 2025. Azko melaporkan penjualan Maret sebesar Rp 823 miliar, tumbuh 37,4 persen secara bulanan sehingga menjadikan penjualan di tiga bulan pertama tahun ini menjadi Rp 2,1 triliun (naik 8,9 persen secara tahunan).  

Direktur Azko Tbk Gregory S Widjaja dalam keterangannya belum lama ini menyampaikan, pada triwulan pertama 2025, mereka melakukan langkah strategis dengan meluncurkan empat toko baru usai melepas lisensi ACE Hardware. Penambahan toko ini melebarkan sayap jaringan mereka yang telah tersebar di sekitar 240 titik di lebih dari 70 kota di Indonesia. 

”Ke depan, kami akan terus memperkuat ekosistem ritel yang terintegrasi dan memperluas jangkauan ke lebih banyak wilayah di Indonesia, baik secara fisik maupun omnichannel,” ujarnya.

Dinamika konsumsi domestik

Analis pasar modal Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai, kinerja emiten ritel akan sangat bergantung pada kemampuan mempertahankan margin, pengendalian biaya logistik, dan kepekaan terhadap dinamika konsumsi domestik.

Strategi ekspansi toko oleh perusahaan dengan menjangkau wilayah-wilayah yang minim akses ritel modern, menggerakkan penetrasi pasar nasional. Penjualan barang sesuai dengan kebutuhan dan keterjangkauan pasar, menurut dia, menentukan pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan.

”Setelah Lebaran, pertumbuhan lebih lanjut diperkirakan datang dari momen tahun ajaran baru, stimulus perumahan, Harbolnas, serta tren gaya hidup DIY (do it your self/buat sendiri) dan minimalis yang makin digemari masyarakat urban,” kata Hendra.

Toko ritel Azko di Living Plaza Puri, Jakarta Barat, Sabtu (8/2/2025). Azko yang baru diluncurkan awal Januari 2025 mengusung konsep Next-Gen yang modern, interaktif, inspiratif, dan relevan.

Ia memproyeksikan, prospek 2025 bagi emiten-emiten terkait masih positif, dengan ACES menekankan kualitas dan inovasi, sedangkan MDIY fokus pada kuantitas dan penetrasi pasar.

Analis pasar saham Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Abyan H Yuntoharjo, dalam laporan analisisnya, mencatat, dampak Lebaran yang lebih cepat dan ekspansi ke pasar yang kurang terpenetrasi sebagai penyumbang kinerja emiten peritel. Namun, katalis baru diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan keuangan di 2025.

”Tanpa katalis utama di masa mendatang, kami memperkirakan SSSG (same store sales growth atau pertumbuhan rata-rata tiap toko) seperti Azko akan melemah di semester kedua 2025, mengikuti tren khas perseroan pasca-Ramadhan,” ujar Abyan.

Teruntuk Azko, Abyan memprediksi, indikator SSSG akan menurun hingga 8 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun lalu, sebelum peningkatan musiman dalam penjualan akhir tahun. Hal tersebut tecermin dari pemulihan permintaan secara luas masih sulit dipahami.

Pelemahan dalam permintaan produk konsumsi diskresioner, yang bisa ditunda atau dikurangi saat ekonomi sulit, dinilai dapat berlanjut meskipun ada kenaikan upah dan inflasi ringan. ”Perilaku konsumen yang defensif dan meningkatnya persaingan-dari rekan-rekan berbasis mal dan impor China berbiaya rendah juga bisa menekan pertumbuhan,” ujarnya.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi masyarakat triwulan pertama tahun ini diproyeksikan Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro akan melambat. Produk domestik bruto (PDB) tiga bulan pertama 2025, menurut analisis mereka, akan melemah di bawah 4,9 persen secara tahunan dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada triwulan akhir 2024.

”Ini mencerminkan kecenderungan belanja defensif karena rumah tangga mengalokasikan sebagian pendapatan mereka untuk ditabung,” kata Andry.

Menjelang rilis PDB oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Mei mendatang, Andry juga proyeksikan perlambatan terjadi pada konsumsi pemerintah dan perdagangan ekspor-impor sehingga ekonomi Indonesia hingga Maret 2025 tumbuh 4,91 persen secara tahunan, melambat dari 5,02 persen pada akhir tahun lalu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan