Tekanan ekspor minyak Saudi semakin berat. Iran mengunci Selat Hormuz. Houthi mengendalikan Laut Merah. Milisi sekutu Iran di Irak menyerang jalur pipa darat.
16 Sep 2026 12:21 WIB · Internasional
Egyptian Presidential Press Offi
KAIRO, RABU — Ekspor minyak Arab Saudi kian tertekan setelah Houthi yang didukung Iran mengendalikan Laut Merah. Jalur distribusi minyak dari Teluk yang sebelumnya telah macet akibat blokade Iran di Selat Hormuz pun semakin terbatas. Di tengah situasi itu, sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, Rabu (16/9/2026), Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mengunjungi Mesir untuk mencari dukungan.
Pangeran MBS bertemu Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi di Kairo, Selasa. MBS mengatakan, mereka menegaskan kembali komitmen bersama untuk menjamin kebebasan dan keamanan navigasi maritim di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, titik krusial di ujung selatan laut tersebut.
Kantor berita Mesir, Middle East News Agency, melaporkan, kunjungan MBS merupakan tonggak sejarah baru yang penting dalam perjalanan aliansi strategis Mesir-Arab Saudi. Terkait keamanan, kedua negara mengambil sikap tegas mendukung eksistensi negara bangsa beserta institusinya serta memerangi organisasi teroris dan milisi bersenjata yang mengancam stabilitas kawasan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/16/fb086af046385f595707dad29752f4ef-wires_photo_28_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/16/715b80eca8808885df600497f8bdea55-Egypt_Saudi_Arabia_1_.jpg)
”Terkait keamanan Laut Merah, Mesir dan Arab Saudi, sebagai dua negara terbesar yang berbatasan dengan Laut Merah, bekerja sama dalam mengamankan jalur pelayaran vital ini, yang diwujudkan melalui berbagai proyek dan inisiatif bersama untuk mengembangkan kawasan tersebut serta melindungi pelayaran internasional,” tulis laporan itu.
Belum ada informasi mengenai rincian dari langkah-langkah kerja sama dalam mengamankan jalur pelayaran di Laut Merah itu. Mesir kemungkinan besar tidak akan memberikan bantuan militer kepada Saudi. Namun, Mesir punya pengaruh besar di dunia Arab dan dapat membantu menggalang dukungan.
Mesir merupakan pusat mediasi pergolakan di kawasan tersebut dalam tiga tahun terakhir. Kairo juga berupaya menjaga hubungan baik dengan semua pihak, termasuk Iran. Hal itu membuat posisi Mesir kian strategis.
Houthi merupakan proksi Iran di Yaman, sementara Saudi adalah sekutu penting Amerika Serikat di kawasan. Serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu telah memicu konflik berkepanjangan yang melibatkan banyak pihak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/16/51504f6348f95addd9a9254fa7a6f5a3-Mideast_Wars_Yemen.jpg)
Blokade Iran di Selat Hormuz menghambat ekspor minyak dari Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. Hal ini membuat pasar energi global terguncang. Sebab, perairan sempit yang memisahkan Jazirah Arab dengan Iran tersebut mengalirkan seperlima minyak dunia.
Saudi kemudian mengandalkan Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah sebagai jalur ekspor minyak. Namun, Houthi, proksi Iran di Yaman, terus memperkuat posisinya di jalur tersebut. Setelah memegang kendali atas kota pelabuhan strategis Mocha, Houthi merebut Pulau Hanish Besar dan Hanish Kecil di bagian selatan Laut Merah.
Duta Besar Yaman untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Abdullah al-Saadi mengatakan, angkatan bersenjata Yaman sedang melakukan konsolidasi ulang untuk merebut kembali kendali. Ia juga mendesak penegakan embargo senjata PBB terhadap Houthi serta meminta Dewan Keamanan untuk mengecam eskalasi konflik tersebut.
Sejumlah negara mungkin enggan bekerja sama dengan Saudi karena pengalaman masa lalu di Yaman. Pada 2015, Saudi membentuk koalisi untuk memerangi Houthi. Namun, terdapat konflik internal yang memicu perpecahan antarfaksi di koalisi itu.
”Apakah masyarakat internasional akan membiarkan salah satu jalur perdagangan dan energi terpenting di dunia dijadikan alat pemerasan di tangan kelompok teroris transnasional?” ujarnya.
Menurut peneliti senior di lembaga pemikir Center for American Progress yang berbasis di AS, HA Hellyer, MBS tidak menginginkan pasukan militer dari Mesir, sebab permintaan semacam itu akan sangat sulit dipenuhi.
Akan tetapi, Mesir dapat memberikan dukungan politik bagi Saudi di kalangan negara-negara Arab untuk langkah apa pun yang mereka ambil terhadap Houthi. ”Terdapat konsensus internasional yang nyata bahwa kelompok Houthi tidak boleh dibiarkan menyandera titik strategis seperti Selat Bab el-Mandeb,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/11/cc685e7a5a6a652c8959bb67b0ac263b-pulau_perim.jpg)
Hellyer menilai, sejumlah negara mungkin enggan bekerja sama dengan Saudi karena pengalaman masa lalu di Yaman. Pada 2015, Saudi membentuk koalisi untuk memerangi Houthi. Namun, terdapat konflik internal yang memicu perpecahan antarfaksi di koalisi itu.
”MBS sangat menyadari hal ini dan akan berupaya memperjelas bahwa ada rencana yang jauh lebih baik untuk langkah ke depan. Semuanya bergantung pada seberapa banyak pihak yang dapat diyakinkan,” jelasnya.
Tekanan terhadap Saudi semakin berlipat karena jalur pipa timur-barat (east-west pipeline), pipa lintas darat yang mengalirkan minyak, juga rusak diserang milisi sekutu Iran di Irak. Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memperbaikinya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan minyak Saudi ke pasar internasional sehingga berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/13/3d2a1081-150f-4214-a38f-5f6001df4de4.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/13/5c6b5c0a-822c-4a2d-afaf-5e43fb62a671.jpg)
Duta Besar Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil mengatakan, eskalasi terbaru oleh Houthi mengancam pelayaran di Laut Merah. Hal itu dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang dampaknya jauh melampaui kawasan tersebut. Menurut dia, perlindungan jalur air tersebut harus menjadi tanggung jawab internasional.
”Tindakan milisi Houthi, beserta para sponsor dan dalang di balik mereka, menunjukkan bahwa mereka kini memiliterisasi selat-selat internasional demi memeras ekonomi global,” ucapnya.
Houthi dan Saudi beserta pasukan pendukungnya masih saling serang. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan pada Selasa malam, Saudi melancarkan 52 serangan udara ke Yaman dalam 24 jam terakhir. Ia menuduh Saudi menargetkan lokasi-lokasi sipil, termasuk sekolah dan jembatan.
Saudi juga menghadapi serangan berkelanjutan dari Houthi di wilayahnya. Riyadh mengeluarkan peringatan serangan untuk kawasan Mekkah, Jeddah, Taif, dan wilayah lainnya, Selasa. Namun, peringatan itu telah dicabut.
”Respons kami akan terus berlanjut dan meningkat selama mereka (Arab Saudi) bersikeras melanjutkan agresi terhadap rakyat kami,” ujar Hazem al-Assad dari Biro Politik Houthi.
Koalisi anti-Houthi yang dipimpin Saudi mengonfirmasi serangan rudal dan wahana nirawak (drone) di tiga wilayah telah melukai 13 warga sipil, Senin. Houthi juga menargetkan infrastruktur minyak di Saudi.
”Kami akan menangani serangan-serangan tersebut dengan tegas demi melindungi kedaulatan dan akan mengambil semua langkah operasional yang diperlukan untuk mencegah pendekatan yang bermusuhan dan ekstremis ini,” tulis pernyataan koalisi tersebut. (AP/REUTERS/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji