PERANG TIMUR TENGAH

Houthi Perkuat Cengkeraman di Titik Strategis Laut Merah

Houthi merebut Pulau Hanish Besar dan Hanis Kecil, di bagian selatan Laut Merah. Kepulauan ini juga tidak jauh dari pangkalan militer AS.

15 Sep 2026 13:10 WIB · Internasional

AFP/KHALED ZIAD

Oleh Elsa Emiria Leba

KAIRO, SELASA — Houthi semakin memperluas cengkeramannya pada pulau-pulau strategis di sekitar Laut Merah. Jalur distribusi dan pelayaran minyak di Timur Tengah semakin terbatas. Dunia kembali terancam mengalami krisis energi global. 

Houthi menyatakan, Senin (14/9/2026), sudah merebut Pulau Hanish Besar dan Hanis Kecil, di bagian selatan Laut Merah. Kepulauan ini terletak sekitar 160 kilometer dari utara Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia serta pasar-pasar minyak Arab Saudi di Asia.

”Kami telah mengambil alih dua pulau tersebut tepat ketika pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi mencoba merebut kembali wilayah dari kemajuan pesat Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb,” kata para pejabat Houthi, yang merupakan kelompok proksi Iran.

Dengan demikian, Houthi kini berada hanya sekitar 32 kilometer dari pangkalan militer AS di Djibouti, sebuah negara kecil di Tanduk Afrika. Letak Djibouti berada di seberang Selat Bab el-Mandeb. Pekan lalu, Houthi juga telah merebut kota pelabuhan Mokha dan Pulau Mayun di Selat Bab el-Mandeb, titik strategis lainnya.

Tangkapan layar dari rekaman video yang dirilis televisi Al-Masirah milik kelompok Houthi memperlihatkan anggota Houthi di jalan-jalan Mocha, Yaman, Jumat (11/9/2026). Houthi mengklaim telah menguasai kota pelabuhan strategis di Laut Merah tersebut dari pasukan yang didukung Arab Saudi. Dalam serangan selama sepekan, Houthi juga mengklaim menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman dan tiga pulau strategis, termasuk wilayah Yaman di Selat Bab el-Mandeb yang menjadi pintu masuk selatan Laut Merah menuju Terusan Suez.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyampaikan pidato dalam sebuah aksi unjuk rasa di Sanaa, Yaman, pada tangal 2 Mei 2025. Pada 11 September 2026, Saree menyatakan pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb aman bagi semua pihak, kecuali Arab Saudi, setelah kelompok yang didukung Iran tersebut menguasai koridor pelayaran penting itu.

Dikuasainya pulau-pulau tersebut memberikan tekanan lebih besar pada pengiriman minyak Arab Saudi. Pada akhirnya, pasokan dan harga minyak global ikut terganggu.

Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh berupaya merebut kembali wilayah-wilayah pendudukan Houthi. Pada Minggu (13/9/2026), misalnya, militer melancarkan serangan udara terhadap Houthi di Mokha, Kota Dhubab, dan tempat lain di Provinsi Taiz. Upaya ini belum membuahkan hasil.

Pada Senin, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman membahas perkembangan regional dengan Kepala Komando Tengah (Centcom) Amerika Serikat Laksamana Brad Cooper di Jeddah. Pertemuan ini terjadi setelah Riyadh meminta bantuan militer dari Presiden AS Donald Trump untuk membantu memerangi Houthi.

Trump menolak untuk memperluas perang di kawasan. Namun, Washington berjanji untuk memberikan bantuan berupa berbagi intelijen dan penargetan, ujar tiga sumber yang menolak menyebutkan nama.

Pasokan minyak

Arab Saudi merupakan produsen minyak terbesar di Timur Tengah. Pipa Timur-Barat sepanjang 1.200 kilometer, Laut Merah, dan Selat Bab el-Mandeb menjadi salah satu opsi jalur distribusi minyak Riyadh. Keberadaan jalur ini semakin penting setelah Teheran menutup Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dan Iran sejak Februari 2026.

Namun, perbaikan pipa minyak Timur-Barat yang diserang pekan lalu dapat berlangsung selama tiga hingga lima pekan. Saat ini, sebagian besar pipa tidak dapat berfungsi, kata dua pejabat regional.

”Rata-rata 2,6 juta hingga 4 juta barel minyak per hari telah melewati jalur pipa dan keluar dari pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, di Laut Merah sejak akhir Agustus 2026. Volume ini sekarang berisiko hilang dari pasar,” bunyi analisis Rystad Energy, perusahaan riset energi.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), empat juta barel per hari setara dengan sekitar 4 persen dari pasokan minyak global. Arab Saudi memproduksi hampir 10 juta barel minyak per hari pada September 2025, tetapi turun menjadi 6 juta barel per hari pada Agustus 2026.

Setelah Houthi menguasai Selat Bab el-Mandeb, semakin sedikit minyak yang melewati selat tersebut. Analis di Melius Research memperkirakan, sekitar 3 juta barel minyak per hari bergerak melalui selat pada awal September 2026, tetapi sekarang kemungkinan tidak ada sama sekali.

Kendaraan mengantre mengisi bahan bakar minyak di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Jalan Cemara, Medan, Sumatera Utara, Rabu (15/7/2026). Setelah berbulan-bulan krisis solar bersubsidi, tiga hari ini Sumut juga mengalami kelangkaan Pertalite dan Pertamax.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran atas krisis di pasar energi global. Meski beberapa rute alternatif masih tersedia, termasuk segelintir kapal yang boleh melintasi Selat Hormuz, guncangan terhadap pasokan bisa mendorong harga minyak lebih tinggi. Pada Senin, harga minyak mentah Brent mencapai lebih dari 105 dolar AS per barel.

”Lonjakan harga Brent baru-baru ini membuktikan bahwa pasar sudah merespons atas kehilangan pasokan yang signifikan. Persediaan Arab Saudi dapat mendukung ekspor dalam beberapa hari mendatang, tetapi situasi dapat berubah dengan cepat,” tambah Janiv Shah, Wakil Presiden Pasar Minyak untuk Rystad Energy.

Negara-negara di Asia dan Afrika sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. Salah satu konsekuensi langsung dari kekurangan pasokan adalah melonjaknya biaya bahan bakar dan tagihan energi rumah tangga.

Di Nigeria, menurut pelacak energi Global Petrol Prices, harga solar naik 92 persen dan harga bensin naik hampir 61 persen daripada harga pada akhir Februari 2026. Indonesia mencatat kenaikan solar sebesar 87 persen dan bensin 38 persen, sementara Lebanon mengalami lonjakan solar hingga 80 persen dan bensin 46 persen.

Lewat Selat Hormuz

Profesor sejarah maritim di Universitas Campbell, Salvatore Mercogliano, pelayaran minyak melalui Selat Hormuz masih bisa menjadi pilihan. Sebelum blokade Iran, sekitar 20 juta barel minyak melewati perairan setiap hari.

Perusahaan data maritim Lloyd’s List Intelligence mencatat, terjadi 90 transit pada minggu pertama September 2026. Jumlah ini memang masih lebih rendah dibandingkan sekitar 130 kapal sebelum perang.

”Jika pipa Timur-Barat ini adalah satu-satunya metode bagi Arab Saudi untuk mengeluarkan minyak mereka, itu akan menjadi bencana besar. Akan tetapi, karena rute Hormuz telah dibuka kembali, meski hanya sebagian, situasi ini bukanlah akhir bagi Arab Saudi. Mereka masih bisa mengeluarkan minyak,” kata Mercogliano.

Warga berenang saat kapal kargo dan komersial berlabuh di Selat Hormuz di luar Bandar Abbas, Iran, Kamis (6/8/2026). AP/Amirhosein Khorgooi/ISNA
Seorang petugas menunjuk pergerakan kapal di Selat Hormuz pada situs pelacakan kapal di Nicosia, Siprus, Senin (4/6/2026). Harga minyak dunia turun dan pasar saham menguat setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia.

Namun, Arab Saudi dan Iran belum menemukan titik temu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan, Senin, Arab Saudi telah menuntut agar pertemuan Iran dengan negara-negara regional lain di bawah koordinasi Oman dibatalkan ”untuk sementara waktu”.

Pertemuan ini awalnya akan membahas Selat Hormuz. ”Pertemuan tersebut adalah kesempatan yang tepat untuk memulihkan keamanan di kawasan,” tutur Baghaei.

Menurut Baghaei, Iran dan Oman, negara yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, telah menyelesaikan kesepakatan tentang pengelolaan jalur perairan tersebut. Hasil kesepakatan bakal diumumkan nanti.

Arab Saudi telah mengajukan amendemen terhadap perjanjian tersebut. Riyad berpendapat, perjanjian itu dapat memiliki implikasi jangka panjang bagi Selat Hormuz yang berdampak negatif pada negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) lainnya, menurut seorang pejabat Teluk. Negara-negara Teluk sangat bergantung pada selat ini untuk menyalurkan minyak. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase