Ekspor Anjlok, Sulsel Dituntut Tak Sekadar ”Copy Paste” Kebijakan

Kinerja ekspor Sulawesi Selatan turun hingga 20,4 persen secara tahunan selama Januari-September 2025 seiring melemahnya ekspor komoditas kakao, ikan, dan nikel.

04 Nov 2025 14:45 WIB · Ekonomi & Bisnis

RENY SRI AYU ARMAN

Oleh Saiful Rijal Yunus

MAKASSAR, KOMPAS - Hingga triwulan III-2025, ekspor Sulawesi Selatan anjlok dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan mencapai 20,41 persen atau sekitar 300 juta dollar AS secara tahunan. Ekspor komoditas unggulan, seperti kakao, ikan dan udang, serta nikel, turun tajam seiring minimnya minimnya gebrakan mendukung diversifikasi produk dan pasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, hingga September 2025 total ekspor Sulawesi Selatan mencapai 1,203 miliar dollar AS. Angka ini turun 308 juta dollar AS atau 20,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1,511 miliar dollar AS.

Selain faktor harga komoditas global, produksi berbagai komoditas unggulan juga melempem. Volume ekspor kakao, misalnya, turun 51 persen dari 8.300 ton pada kurun Januari-September 2024 menjadi 4.040 ton pada Januari-September 2025. Adapun ekspor biji-bijian berminyak turun 23,86 persen dari 122.000 ton menjadi 93.230 ton di periode yang sama.

Penurunan volume ekspor paling drastis terjadi pada komoditas udang dan ikan. Ekspor komoditas andalan Sulsel ini turun 65,93 persen, dari 11.270 ton menjadi 3.840 ton pada periode yang sama.

Ekspor Sulawesi Selatan hingga September 2025 anjlok hingga 20,4 persen. Sejumlah komoditas unggulan menunjukkan kinerja yang melambat, bahkan turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.

”(Selama Januari-September 2025) Terjadi penurunan (nilai ekspor) sebesar 20,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lima komoditas ekspor terbesar adalah nikel, kakao, besi dan baja, biji-bijian berminyak, hingga garam dan belerang,” kata Kepala BPS Sulawesi Selatan (Sulsel) Aryanto dalam keterangannya, Senin (3/11/2025).

Secara nilai, empat dari lima komoditas utama tersebut mengalami penurunan signifikan. Komoditas itu mulai dari kakao, besi dan baja, biji-bijian, hingga nikel. Komoditas ini mengalami kontraksi dari satu hingga dua digit. Kenaikan ekspor hanya terjadi pada komoditas garam dan belerang, yaitu naik 59 persen atau 18 juta dollar AS.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel Munarti berpendapat, secara umum nilai dan volume ekspor memang menurun, baik saat dibandingkan dengan bulan sebelumnya maupun tahun sebelumnya. Ekspor beberapa komoditas meningkat, tetapi sebagian besar lainnya melambat.

Hal yang paling dominan yang membuat ekspor merosot, kata Munarti, adalah penurunan nilai dan volume ekspor nikel. Hal ini karena harga jual dunia yang turun dan produksi juga menurun.

Tanaman kakao yang berbuah di laboratorium pengembangan kakao PT Mars di Pangkep, Sulawesi Selatan, Rabu (18/5/2022). PT Mars berkomitmen mendorong petani mengembangkan kakao berkelanjutan.

”Kalau (ekspor) kakao secara tahun ke tahun memang turun, tetapi bulan ke bulan naik. Sementara (ekspor komoditas) yang lain juga melambat meski tidak signifikan,” katanya.

Pemerintah, kata dia, melakukan berbagai upaya agar pangsa ekspor Sulsel terus berkembang. Diversifikasi negara tujuan ditempuh dengan membuka keran ekspor di Afrika, Timur Tengah, dan Eropa. Hanya saja, beberapa hal memang belum berjalan ideal, terutama terkait harga jual produk.

Bergantung pada nikel

Saat dihubungi terpisah, ekonom Universitas Hasanuddin, Anas Iswanto Anwar, mengatakan, ekspor Sulsel yang anjlok dipengaruhi ekonomi global yang rentan. Terlebih secara struktur ekspor bergantung pada komoditas nikel. Akibatnya, ketika ekonomi negara terganggu, dan permintaan pasar melemah, ekspor Sulsel akan anjlok.

Selain itu, melemahnya ekspor beberapa komoditas lain, kata Anas, karena nilai tambah yang tidak banyak berubah dari sebelumnya. Hilirisasi produk belum berjalan optimal sehingga nilai jual tidak banyak berbeda. Selain itu, pangsa pasar juga selalu terbatas di beberapa negara utama saja.

Grafik harga nikel dari 20 Mei 2024 - 20 Mei 2025.

”Jadi kita perlu mengubah paradigma, bagaimana memberi nilai tambah pada komoditas unggulan kita. Namun, kalau melihat langkah Pemprov Sulsel saat ini, hampir copy paste saja, tidak ada gebrakan baru. Padahal, ini bukan masalah baru, melainkan kita membutuhkan solusi dan gebrakan baru,” kata Anas.

Menurut dia, idealnya Sulsel mendorong pengembangan sektor pertanian dan kelautan sebagai salah satu kekuatannya. Caranya antara lain dengan benar-benar membantu pelaku usaha dan mengalokasikan anggaran. Dengan demikian, sektor ini bisa melenting dan Sulsel tidak selalu bergantung pada nikel yang sangat rapuh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari