Walau tak setenar ”el clasico”, daya ledak ”el gran derbi” tak bisa diremehkan. Duel ”sedarah” ini bahkan bisa membelah kota dan ribuan keluarga di dalamnya.
27 Mei 2025 05:00 WIB · Olahraga
”El clasico” memang telah lama menjadi daya tarik LALIGA. Namun, pertarungan besar di Spanyol tidak hanya itu. Di selatan Spanyol, tepatnya wilayah Andalusia, terdapat derbi kuno yang tidak kalah panas. Masyarakat sekitar menyebutnya ”el gran derbi” atau derbi agung antara Sevilla dan Real Betis. Derbi ini bahkan bisa membelah kota serta keluarga.
Real Madrid dan Barcelona boleh dikatakan sebagai tim dengan daya tarik terbesar di Eropa, bahkan dunia. Para penggemar kedua tim tersebut berada di mana-mana. Akan tetapi, bisa jadi tidak ada pendukung atau fans Real dan Barca di kawasan Andalusia. Sebab, kawasan ini sejak lama terbelah menjadi dua, antara ”merah” dan ”hijau”.
Mereka yang mendiami kawasan ini hampir seluruhnya adalah para pendukung Betis (hijau) atau Sevilla (merah). Fans Barca atau Real nyaris tidak mendapat tempat di kawasan ini.
Sejarah pertemuan Betis dan Sevilla diperkirakan sudah ada sejak 1909, atau dua tahun setelah Betis berdiri pada 1907. Nuansa pada el gran derbi tergolong sedikit berbeda dengan el clasico atau derbi Basque yang mempertemukan Real Sociedad dan Athletic Bilbao.
Rivalitas yang sudah mendarah daging antara Betis dan Sevilla diperkuat dengan fakta bahwa kedua klub ini berasal dari kota yang sama, kota Sevilla, yang merupakan ibu kota wilayah Andalusia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/a3cbc5dd711da0627dd01ed9d5a78cec-135F44BC_5E48_4FA2_AD46_B8F2D43C16E3_76703_0000095877F812FE.JPG)
Ini berbeda dengan el clasico yang jelas-jelas mempertemukan dua klub dari kota atau kawasan berbeda, yaitu Madrid (Real) dan Catalonia (Barca). Rivalitas tim sekota, Real dan Atletico Madrid, pun kurang bergema, tertelan rivalitas abadi Barca dan Real.
Adapun derbi Basque tidak benar-benar mempertemukan dua tim dari satu kota lantaran Sociedad berasal dari kota San Sebastian, sementara Athletic Bilbao dari kota Bilbao. Keduanya merupakan kota yang berbeda, tetapi masih berada dalam kawasan Basque.
Itu berbeda dengan Betis dan Sevilla berasal dari kota yang sama. Kedua klub itu pun berkompetisi di level atas piramida sepak bola Spanyol. Aura persaingan kedua tim sudah terasa menyengat pada hari pertama saya menginjakkan kaki di kawasan ini, Senin (19/5/2025). Di sebuah restoran, seorang pramusaji dengan setengah bercanda mengernyitkan dahi setelah melihat pergelangan tangan saya dihiasi gelang merah dengan logo Sevilla.
”Anda seharusnya tidak memakai (gelang) itu,” katanya sembari menunjuk pergelangan tangan saya. Kami tertawa kemudian.
Usut punya usut, pramusaji itu belakangan diketahui merupakan pendukung Betis. Sengitnya rivalitas di antara kedua tim sudah membelah Andalusia sejak dulu kala. Jika bukan penggemar Betis, dipastikan mereka adalah pendukung Sevilla. Demikian pula sebaliknya. Tidak ada warga Sevilla yang menjadi fans Barca atau Real. Segala di Sevilla adalah tentang merah atau hijau.
Aroma rivalitas pun turut mengakar kuat di internal klub tanpa kenal waktu ataupun momentum. Di kompleks latihan Betis, ada papan kecil yang menunjukkan informasi mengenai klasemen sementara LALIGA. Pengurus Betis meletakkan logo setiap klub LALIGA lengkap dengan urutan posisi di klasemen. Semua logo klub tertempel di papan itu, kecuali logo Sevilla. Mereka agaknya tidak berkenan terdapat logo klub merah di tengah markas klub hijau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/f76b5ade6586c6057b2556b1ce4a57b7-IMG_4945.jpg)
Saking mendarah dagingnya rivalitas di antara kedua klub, keterbelahan akibat derbi kuno ini tidak hanya melanda kota, tetapi juga keluarga. Sangat jamak dijumpai satu keluarga tidak kompak mendukung salah satu tim. Sang ayah bisa jadi merupakan pendukung Sevilla, sementara istri atau anaknya fans berat Betis.
”Itu bisa terjadi karena ikatan pernikahan. Jadi, sebelum mereka menikah, suaminya adalah pendukung Sevilla, sedangkan istrinya penggemar Betis. Nah, biasanya anaknya nanti akan memilih menjadi penggemar salah satunya,” kata Ramon, seorang warga Sevilla.
Meski rivalitas hingga membelah warga kota soal pilihan klub kesayangan, mereka tetap bisa hidup berdampingan secara akur. Siulan atau ejekan antarsuporter masih kerap dijumpai setiap kali el gran derbi tersaji, tetapi tidak sampai menimbulkan korban. Rivalitas berjalan santun tanpa kekerasan fisik. Paling maksimal adalah terjadinya saling sindir dalam batas yang masih sangat normal.
Tindakan preventif tetap diberlakukan pihak keamanan karena el gran derbi adalah pertarungan di antara saudara sedarah antarsesama warga Andalusia. Saat pertandingan, pengamanan akan terasa lebih ketat. Polisi berkuda dan juga dengan helikoper akan sigap berpatroli untuk mengantisipasi terjadinya gesekan lebih dalam.
Polarisasi antara merah dan hijau semakin menguat saat laga. ”Itu (derbi) adalah pengalaman yang luar biasa. Ada banyak semangat di kedua belah pihak. Saat pertandingan berlangsung, seisi kota seakan berhenti. Seluruh pasang mata fokus pada pertandingan itu selama 90 menit,” kata Kepala Proyek Olahraga Internasional Sevilla Jose Collado mengenang el gran derbi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/5299c486135a1fa306e146a19e141879-SEVILLA_18.jpg)
Musim ini, el gran derbi menjadi milik kedua tim. Tidak ada yang lebih dominan. Betis takluk 0-1 saat bertandang ke markas Sevilla di Stadion Ramon Sanchez-Pizjuan. Kekalahan itu bisa dibalas Betis dengan kemenangan 2-1 saat ganti menjamu Sevilla di Stadion Benito Villamarin.
Betis bisa berbangga lantaran menjalani musim yang lebih baik dibandingkan dengan Sevilla. Mereka finis di peringkat keenam liga serta melaju hingga final Liga Konferensi Eropa.
Adapun Sevilla tengah terpuruk dengan tertahan di papan bawah, tepatnya di peringkat ke-16. Prestasi kedua tim memang jarang berjalan linier. Saat Betis sedang dalam performa bagus, Sevilla menjalani musim yang buruk. Demikian pula sebaliknya.
Perjalanan kedua klub mengukir kisah rivalitas sengit yang tercatat abadi dalam sejarah. Bahwa meski seisi kota terpolarisasi, el gran derbi nyatanya hanya membelah, tetapi tidak sampai memisahkan.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Sevilla, SpanyolEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .