Lipsus LALIGA: ”Pipas”, Camilan Ikonik Suporter Spanyol

Jika suporter Jerman identik dengan bir, Spanyol punya ”pipas” sebagai camilan wajib tiap pertandingan. Ada faktor yang membuat ”pipas” begitu populer.

21 Mei 2025 14:01 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Madrid, Spanyol

Sepanjang pertandingan, Pablo (34) tidak berhenti menggigiti butir demi butir kuaci. Di saat matanya fokus pada laga Atletico Madrid kontra Real Betis, tangan serta mulutnya bergerak cepat memecah cangkang kuaci. Di atas pahanya, sampah cangkang kuaci menumpuk. Kuaci atau pipas dalam bahasa Spanyol adalah tradisi lama menonton sepak bola yang tidak bisa dipisahkan.

Meski sudah terdapat banyak pilihan makanan ringan lainnya, seperti berondong jagung atau keripik kentang, para suporter klub-klub di negeri ”Matador”, sebagaimana Pablo, masih memilih kuaci sebagai camilan menonton pertandingan. Jika di Jerman bir dan sosis adalah penganan paling populer di stadion-stadion, di Spanyol kita akan dengan mudah menjumpai suporter dengan pipas.

Lantaran cangkangnya kerap menimbulkan banyak sampah serta mengundang hewan pengerat, pipas mulai jarang diperjualbelikan di stadion, termasuk di Stadion Metropolitano, markas Atletico, tempat Pablo menonton.

Toko-toko makanan di luar ataupun dalam stadion hanya menyediakan berondong jagung, roti isi daging, permen, serta keripik kentang. Walau tidak dijual di stadion, para suporter berinisiatif membawa pipas dari kediaman mereka masing-masing. Selama 90 menit, satu orang bisa menghabiskan satu bungkus besar pipas.

Pablo (tengah) bersama dua rekannya menggigit cangkang ”pipas” atau kuaci di sela pertandingan LALIGA Spanyol antara Atletico Madrid dan Real Betis di Stadion Metropolitano, Minggu (18/5/2025). ”Pipas” merupakan camilan tradisional suporter sepak bola di Spanyol

”Kurang lengkap rasanya nonton pertandingan tanpa makan pipas. Ini sudah semacam tradisi lama cara kami dalam menyaksikan sepak bola di stadion. Pipas sangat nikmat karena selain gurih, kami bisa melepaskan ketegangan dari menonton pertandingan dengan menggigit kulitnya, terutama saat tim diserang bertubi-tubi,” kata Pablo, warga Kota Madrid, pendukung setia Atletico, kepada Kompas dalam liputan yang difasilitasi LALIGA, Minggu (18/5/2025).

LALIGA adalah pengelola kompetisi sepak bola level tertinggi di Spanyol. Dua raksasa sepak bola Spanyol, Barcelona dan Real Madrid, termasuk yang berlaga di kompetisi itu. Kompas menjadi satu-satunya wartawan dari Asia yang dilibatkan pada liputan tersebut.

Menyalurkan cemas

Sejumlah penelitian menyebutkan, orang-orang yang memiliki sifat mudah cemas butuh sarana melepaskan atau menyalurkannya. Bagi suporter seperti Pablo yang kerap terbawa suasana saat pertandingan, membuka cangkang pipas membantunya menyalurkan rasa cemas atau ketegangan. Tangan yang sibuk bergerak memecah cangkang pipas sudah seperti sarana terbaik melepaskan rasa cemas.

Akibat banyak suporter yang mengonsumsi pipas sepanjang pertandingan, banyak sampah cangkangnya yang bertebaran di bawah kursi tribune penonton. Pada jeda babak pertama, Pablo berinisiatif memasukkan sampah kulit pipas ke dalam kantong kertas.

Quote

Salah satu klub yang pada akhirnya benar-benar melarang konsumsi ”pipas” di dalam stadion adalah Elche.

Camilan pipas berganti dengan roti isi daging atau sandwich saat jeda babak pertama. Pablo dan dua rekannya lantas mengeluarkan sandwich lalu mengonsumsinya.

Tidak setiap suporter memiliki kesadaran seperti Pablo dan rekan-rekannya. Terkadang, ada suporter yang meninggalkan sampah kulit pipas berserakan bahkan setelah laga usai dan stadion kosong.

Para suporter Atletico Madrid berjalan menuju Stadion Metropolitano, Minggu (18/5/2025), jelang laga kontra Real Betis

Pemandangan sampah cangkang pipas jamak dijumpai di stadion-stadion Spanyol. Tidak hanya Stadion Metropolitano, di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, kandang Sevilla, pemandangan serupa juga mudah dijumpai. Hal inilah yang menyebabkan peredaran pipas di stadion mulai dibatasi.

Dilarang

Salah satu klub yang pada akhirnya benar-benar melarang konsumsi pipas di dalam stadion adalah Elche. Klub yang berkompetisi di Divisi Kedua (Segunda Division) dalam piramida sepak bola Spanyol tersebut secara efektif memberlakukan larangan per Mei 2025 di Stadion Manuel Martinez Valero.

Pihak Elche menegaskan, larangan mengonsumsi pipas didasari atas komitmen klub terhadap aspek keberlanjutan. Bagi Elche, situasi stadion bisa mewakili contoh kesopanan, rasa hormat, kebersihan, dan kebanggaan klub.

Elche bukanlah klub pertama yang mengambil kebijakan itu. Pada 2023, Valencia yang berkompetisi di LALIGA Spanyol sudah lebih dulu memberlakukannya. Langkah konkretnya, pihak klub berhenti memperdagangkan pipas di stadion.

Meski tidak menjual pipas, pihak Valencia tidak melarang suporter membawa pipas sendiri dari rumah. Namun, wajib membuang sampah cangkangnya ke dalam kantong yang dibawa secara mandiri.

Petugas keamanan memeriksa setiap suporter di pintu masuk Stadion Metropolitano, Madrid, Minggu (19/5/2025). Pengamanan ketat membuat tidak ada suporter tanpa tiket bisa menyusup. Pembelian botol air mineral pun dilakukan tanpa tutup untuk mencegah pelemparan botol ke lapangan.

Alasan Valencia tidak menjual pipas lantaran tumpukan sampah cangkangnya bisa mengundang hewan pengerat seperti tikus. Selain itu, mesin yang biasanya digunakan untuk membersihkan sampah cangkang dinilai menimbulkan polusi suara bagi penduduk yang tinggal di dekat stadion.

Solusi cerdas dilakukan klub LALIGA lainnya, Real Sociedad. Mereka berinisiatif mengubah sampah cangkang pipas menjadi pupuk. Pihak klub menyediakan tas ramah lingkungan kepada suporter sebagai wadah untuk menampung sampah pipas. Nantinya, kantong-kantong itu dikumpulkan lalu dicampur dengan sampah organik dan diubah menjadi pupuk. Pupuk-pupuk itu kemudian dikirim ke kebun buah Gipuzkoa.

Walau peredarannya mulai dibatasi, para suporter di Spanyol agaknya masih setia mengonsumsi pipas. Bagi mereka, pipas bukan sekadar camilan. Lebih dari itu, pipas sudah seperti ikon camilan khas pada setiap laga sepak bola di Spanyol.

Keberadaan pipas di stadion bukanlah ancaman, sebagaimana dilakukan Sociedad. Di mana ada kemauan, di situ selalu akan ada jalan.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Madrid, Spanyol
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari