KETAHANAN PANGAN

El Nino Belum Datang, Produksi Beras Sudah Berkurang

Pemulihan sawah terdampak bencana di Sumatera yang belum merata, banjir, dan potensi terjadinya El Nino menekan sektor perberasan nasional pada 2026.

10 Apr 2026 16:45 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Hendriyo Widi

El Nino belum datang. Namun, produksi beras nasional pada Januari-Mei 2026 sudah diramal berkurang. Upaya menjaga keberlanjutan swasembada beras nasional sepanjang 2026 menjadi semakin menantang.

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Mei 2026 sebanyak 16,57 juta ton. Volume produksi itu turun 376.292 ton atau 2,22 persen dibandingkan dengan realisasi produksi pada Januari-Mei 2025.

Penurunan produksi beras itu seiring dengan susutnya luas panen padi. Dalam perbandingan yang sama, luas panen padi diperkirakan berkurang 128.371 hektar atau 2,35 persen dari 5,47 juta hektar menjadi 5,35 juta hektar.

Penurunan produksi beras itu justru terjadi sebelum El Nino—pemicu kemarau panjang—tiba. Sejumlah lembaga iklim dunia meramal El Nino bakal terjadi pada Juli 2026 hingga Juli 2027 (Kompas, 4/3/2026).

Quote

Intensitas El Nino diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen. Kemungkinan kecil, yakni kurang dari 20 persen, El Nino bisa berkembang menjadi kategori kuat.

Perkembangan Produksi dan Proyeksi Beras 2024-2026

Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Nino berpotensi berkembang sepanjang paruh kedua 2026. Intensitas El Nino diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen.

”Kemungkinan kecil, yakni kurang dari 20 persen, El Nino bisa berkembang menjadi kategori kuat,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, melalui siaran pers di Jakarta, pada 5 April 2026.

Lalu, apa yang membuat produksi beras nasional turun sebelum El Nino tiba? Setidaknya terdapat dua faktor pemicu. Pertama, bencana ekologis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi pada akhir November 2025.

Bencana tersebut menyebabkan 107.327 hektar lahan pertanian di ketiga provinsi itu rusak berat, sedang, dan ringan. Tanaman padi dan jagung yang gagal panen akibat bencana di Sumatera mencapai 44.600 hektar (Kompas, 15/1/2026).

Kementerian Pertanian telah memulai rehabilitasi sawah-sawah yang terdampak bencana itu. Namun, rehabilitasi tersebut belum merata. Kondisi itu berpotensi membuat total luas panen padi dan produksi beras di Aceh, Sumut, dan Sumbar pada Januari-Mei 2026 turun masing-masing seluas 92.669 hektar dan sebanyak 285.653 ton dibandingkan dengan Januari-Mei 2026.

Basrizal (61) berjalan di lahan sawahnya yang tertimbun material banjir bandang pada 27 November 2025 di sekitar bantaran Sungai Guo di RT 02 RW 06, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (24/2/2026). Tiga bulan pascabencana, puluhan hektar sawah di Kuranji belum dapat digarap karena tertimbun material "galodo". Kementerian Pertanian menyiapkan program rehabilitasi terhadap sawah terdampak bencana Sumatera.

BPS mencatat, pada Januari-Mei 2026, luas panen padi di Aceh, Sumut, dan Sumbar masing-masing berkurang sebesar 21,46 persen, 18,22 persen, dan 8,33 persen secara tahunan. Adapun produksi beras di Aceh, Sumut, dan Sumbar juga diramal turun masing-masing 24,43 persen, 15,28 persen, dan 12,67 persen secara tahunan.

Pemicu kedua adalah banjir yang terjadi di sejumlah daerah akibat cuaca ekstrem pada Januari 2026 hingga awal April 2026. Dalam rentang waktu itu, banjir berulang melanda sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Di Jateng, misalnya, banjir berulang melanda sejumlah daerah sentra beras, seperti Kabupaten Demak dan Grobogan. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani, pada 4 April 2026, sampai mendorong pemerintah untuk mengatasi banjir di kedua daerah tersebut tidak berulang.

Merujuk data BPS, luas panen padi di Jateng pada Januari-Mei 2026 diperkirakan berkurang 7.613 hektar atau 0,92 persen secara tahunan menjadi 817.127 hektar. Hal itu menyebabkan produksi beras di Jateng hanya meningkat tipis sebesar 0,23 persen secara tahunan.

Petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana saat memeriksa kondisi tanggul yang jebol di Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). Banjir yang terjadi pada Jumat (3/4/2026) merendam 9 desa dari 4 kecamatan hingga menyebabkan ribuan warga terdampak.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
06-04-2026
 *** Local Caption ***

Rentetan dampak El Nino

Di tengah situasi dan kondisi itu, El Nino siap datang merongrong sektor perberasan nasional. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan perlunya memitigasi rententan dampak El Nino.

Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef Abra Talattov, Jumat (10/4/2026), mengatakan, El Nino dapat berdampak pada sektor hulu dan hilir perberasan nasional. Di hulu, kemarau panjang akibat El Nino dapat memicu gagal tanam dan panen padi serta menurunkan produktivitas beras dan menggeser musim tanam padi.

Indonesia pernah mengalami pergeseran musim tanam akibat dampak El Nino yang terjadi pada Juli 2023 hingga Mei 2024. Hal itu menyebabkan produksi beras pada 2023 dan 2024 turun masing-masing 1,4 persen dan 1,55 persen secara tahunan.

”Di hilir, penurunan produksi beras akan menjalar dengan cepat. Hal itu akan berpengaruh pada kenaikan harga beras dan lonjakan inflasi pangan,” katanya.

Quote

Di hulu, kemarau panjang akibat El Nino dapat memicu gagal tanam dan panen padi serta menurunkan produktivitas beras dan menggeser musim tanam padi.

Dampak positif dan negatif El Nino

Abra juga berpendapat, produksi beras nasional pada 2019-2024 masih stagnan. Hal itu mencerminkan sistem perberasan nasional masih rapuh dan tidak memiliki daya tahan terhadap tekanan perubahan iklim.

Sementara kenaikan produksi beras pada 2025 mencerminkan pemulihan siklikal akibat kondisi iklim yang membaik. Namun, pemulihan itu diperkirakan tidak cukup kuat menjadi penyangga menghadapi risiko El Nino pada 2026.

”Pemerintah berpotensi menghadapi dilema kebijakan antara impor untuk menjaga pasokan atau menahan impor dengan konsekuensi instabilitas harga domestik dan tekanan sosial-ekonomi,” kata Abra.

Berdasarkan data BPS, produksi beras nasional pada 2019-2024 berada di kisaran 30 juta ton hingga 32 juta ton. Pada 2025, Indonesia mampu swasembada beras dengan produksi beras sebanyak 34,7 juta ton.

Buruh mengangkut beras yang baru tiba dari Karawang, Jawa Barat di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (11/8/2025). Untuk mengoptimalkan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP, Perum Bulog akan menjadikan pedagang pasar tradisional sebagai penyalur permanen beras SPHP.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
11-08-2025

Pada 7 April 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjamin stok pangan aman di tengah perang di Timur Tengah dan potensi terjadinya El Nino. Beras misalnya. Merujuk data Proyeksi Neraca Pangan hingga Mei 2026, neraca beras surplus sebesar 16,39 juta ton.

Bahkan, per 7 April 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog mencapai 4,6 juta ton. Jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat selama 10 bulan hingga 11 bulan ke depan.

”El Nino diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Jadi, dengan CBP sebesar itu, kebutuhan konsumsi beras nasional terjamin aman,” kata Amran (Kompas, 7/4/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto