Perang di Timur Tengah belum usai, kemarau panjang akibat El Nino berpotensi terjadi. Pemerintah mengeluarkan sejumlah strategi untuk menghemat energi dan air.
29 Mar 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Perang di Timur Tengah dan El Nino tengah dan akan ”menghantui” Indonesia. Penghematan penggunaan energi dan air digulirkan. Khusus air, penghematan terfokus pada sektor pertanian.
Perang Iran versus Amerika Serikat-Israel tak kunjung usai. Kendati sejumlah kapal tanker minyak mentah berhasil keluar dari Selat Hormuz, krisis bahan bakar minyak (BBM) masih menghantui.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin stok energi masih aman. Indonesia masih mampu memproduksi sendiri sekitar 50 persen dari total kebutuhan bensin. Sisanya masih bergantung pada impor.
Dari total impor minyak mentah itu, 20-25 persen berasal dari Timur Tengah. Pada 26 Maret 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut telah memperoleh alternatif sumber impor minyak mentah selain dari negara-negara kawasan Teluk.
BBM di SPBU jangan dipakai untuk keperluan industri. Selain itu, penggunaan elpiji untuk keperluan memasak jangan sampai boros.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/36be744dbb632feb0d57d36ea4d8ddbf-20260313PRI14HR.jpg)
Melalui siaran pers, Bahlil menyatakan, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam menghadapi dampak konflik di Timur Tengah. Pemerintah juga membutuhkan dukungan masyarakat dengan cara memanfaatkan energi yang ada secara bijak.
Ia mencontohkan, BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) jangan dipakai untuk keperluan industri. Selain itu, penggunaan elpiji untuk keperluan memasak jangan sampai boros.
Demi penghematan BBM, pemerintah menerapkan kebijakan satu hari kerja dari rumah (WFH) per pekan bagi aparatur sipil negara. Opsi mengurangi waktu operasional program Makan Bergizi Gratis dari enam hari menjadi lima hari juga tengah dipertimbangkan. Selain bisa menghemat energi, kebijakan itu dapat mengefisienkan anggaran negara sekitar Rp 40 triliun.
Sementara itu, petani dan pelaku usaha penggilingan padi khawatir kebijakan penghematan BBM merembet ke sektor pertanian dan perberasan. Selama ini, kedua sektor tersebut juga bergantung pada BBM.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/05/df84c396-ab04-45ef-9427-6c70a5cc0197.jpg)
Anggota Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Jawa Barat, Maroni, mengatakan, sektor petanian dan perberasan sangat membutuhkan solar bersubsidi. Solar tersebut biasanya digunakan untuk mengoperasikan traktor pembajak, pompa air, dan mesin pemanen padi.
Selain itu, solar bersubsidi tersebut juga dibutuhkan pelaku usaha penggilingan padi kecil dan menengah untuk bahan bakar alat penggiling gabah menjadi beras. Oleh karena itu, jangan sampai pemerintah membatasi penggunaan solar bersubsidi di sektor pertanian dan perberasan.
”Kami juga berharap pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Jika harga BBM tersebut naik, harga beras juga turut naik,” kata Masroni yang juga mengelola penggilingan kecil di rumahnya di Indramayu, Jawa Barat.
Masroni meminta pemerintah menjaga ketersediaan solar bersubsidi selama musim tanam padi kedua (MT II) pada 2026. Ini mengingat adanya prakiraan fenomena El Nino yang akan memicu kemarau panjang. Jika El Nino terjadi, pasti banyak petani yang menggunakan pompa air untuk mengairi sawah selama MT II.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/26/7eb53e50725f944b3f447a0ba20e04bf-20250826DRA019.JPG)
Selain ”dihantui” dampak perang di Timur Tengah, Indonesia juga dibayangi potensi terjadinya kemarau panjang akibat El Nino. Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengeluarkan imbauan penghematan air di sektor pertanian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi peluang munculnya El Nino berkategori lemah-moderat mencapai 50-60 persen pada semester II-2026. Fenomena peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik itu berpotensi menyebabkan kemarau kuat dan panjang.
Puncak musim kemarau di sebagain besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Untuk sejumlah wilayah lain, puncak musim kering itu diproyeksikan terjadi pada Juli dan September 2026.
Wilayah yang mengalami puncak kekeringan pada Agustus 2026 adalah Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, terjadi juga di seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/045c9cf414ea6000ee4362952c6077a3-Porduksi_beras_dan_potensi_el_nino.jpg)
Untuk mengantisipasi krisis air, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan mendorong penerapan metode penghematan air sawah. Salah satunya dengan metode pembasahan dan pengeringan bergantian (alternate wetting and drying/AWD).
Metode pengairan berselang itu menjadi bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di sektor pertanian. Metode itu dapat menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.
Prinsip dasar metode AWD adalah mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembaban tanah sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang air secara berlebihan. Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut selama beberapa hari hingga batas tertentu, yakni 10-15 sentimeter (cm) di bawah permukaan tanah, sebelum diairi kembali.
Kepala BRMP Fadjry Djufry, Jumat (27/3/2026), menuturkan, metode AWD merupakan solusi adaptif terhadap keterbatasan air dan kekeringan. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat mengefisienkan penggunaan air dan menjaga kondisi tanaman tetap optimal.
”Petani juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan sawah secara terus-menerus,” ucapnya melalui siaran pers di Jakarta.
Secara umum, metode tersebut dapat menghemat penggunaan air irigasi sebesar 17 persen hingga 20 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/21/8090e6f0-9e6c-4366-b8ac-fdf284467bae.jpg)
Fadjry menjelaskan, AWD merupakan metode yang dikembangkan International Rice Research Institute pada 2009. Kementan mulai mengadaptasi dan menerapkan metode tersebut di Indonesia sejak 2013.
Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, metode AWD itu mampu menekan bahkan mengatasi kelangkaan air di sawah. Secara umum, metode tersebut dapat menghemat penggunaan air irigasi sebesar 17 persen hingga 20 persen.
”Penerapan AWD mampu menekan penggunaan air irigasi secara signifikan tanpa menurunkan produktivitas padi. Dalam kondisi tertentu, efisiensi ini bahkan membuka peluang perluasan layanan irigasi ke sawah lainnya,” katanya.
Di Desa Rancajawat, Kecamatan Tukdana, Kabupatan Indramayu, Jawa Barat, sekelompok petani menerapkan metode sejenis yang disebut sebagai sistem pengairan ruas jari sejak 2024. Bahkan, metode itu diterapkan di wilayah denga sumber air yang berlimpah, yakni di kawasan irigasi primer Bendung Rentang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/f21c3c490565f645837a505ed492f0dc-20250923TOK41.jpg)
Eka Hadirama (24), petani Desa Rancajawat, mengatakan, metode itu sebenarnya bernama sistem budidaya padi berbasis irigasi padi hemat air (IPHA). Sistem itu diperkenalkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.
Prinsipnya adalah mengatur masuk dan keluarnya air berdasarkan siklus basah-kering sawah. Biasanya, siklus basah berlangsung selama tujuh hari dan siklus kering tiga hari. Setelah dibasahi, ketinggian genangan air sawah harus diatur 2-3 cm dari atas permukaan tanah.
”Pengaturan ketinggian genangan air sawah itu tak perlu menggunakan tongkat ukur. Petani juga tak perlu membawa penggaris pengukur ketinggian air. Cukup dengan satu ruas jari atau satu setengah ruas jari orang dewasa, petani bisa mengetahui syarat ketinggian air sistem IPHA,” katanya.
Menurut Eka, sistem itu terbukti menghemat air hingga 30 persen. Genangan air yang dialirkan keluar juga bisa dimanfaatkan petani lain dari tengah hingga hulu irigasi. Konflik sosial petani yang berebut air juga semakin jarang terjadi.
Sistem itu terbukti tidak mengurangi produktivitas padi. Pada panen perdana padi di areal persawahan itu, produktivitas padi justru meningkat dari 6 ton per hektar menjadi 7 ton per hektar (Kompas, 25/9/2025).
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul