Anak-anak berisiko terpapar panas ekstrem. Risiko kesehatan terbesar bisa dialami masyarakat yang tinggal di lokasi kebakaran hutan atau lahan.
19 Mei 2026 18:05 WIB · Lingkungan
GAKKUM KEMENHUT
JAKARTA, KOMPAS — Musim kering yang diperkirakan makin ekstrem tahun ini karena El Nino menyebabkan kebakaran hutan dan lahan mulai meningkat signifikan, terutama di kawasan gambut. Para dokter anak memperingatkan risiko kesehatan serius pada anak-anak akibat suhu panas ekstrem dan paparan asap yang bisa berakibat fatal.
Laporan Pantau Gambut, Selasa (19/5/2026), menunjukkan sedikitnya 26.484 titik panas terdeteksi di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, 17.299 titik panas atau 65 persen di antaranya berada di kawasan fungsi lindung gambut.
Kalimantan menjadi wilayah paling rawan. Pantau Gambut mencatat 9.853 titik panas mengepung pulau itu hanya dalam empat bulan pertama tahun ini. Kalimantan Barat menjadi daerah paling terdampak dengan 9.270 titik panas, disusul Kalimantan Tengah 438 titik dan Kalimantan Selatan 25 titik.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Indonesia memasuki babak baru krisis asap, seperti yang pernah terjadi pada El Nino kuat 2015 dan 2019. Saat itu jutaan hektar lahan terbakar dan jutaan warga terpapar asap beracun selama berbulan-bulan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/06/fd433ab1-1640-4f0a-ab90-e59c713407a4_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/06/7ae247f5-8ec8-4065-9092-cd1dbee13af6_jpg.jpg)
Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian menilai pemerintah masih terjebak dalam pola penanganan karhutla bersifat reaktif dan seremonial. ”Pemerintah harus berhenti melakukan ritual tahunan penanganan karhutla,” ungkapnya.
”Selama perlindungan ekosistem gambut belum diperkuat melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan Ekosistem Gambut berbasis KHG, tumpang tindih kebijakan akan terus membuat kebakaran berulang di kawasan yang sama,” ujarnya.
Menurut Pantau Gambut, sebagian besar titik panas justru berada di area konsesi perusahaan. Sebanyak 91 persen titik panas di Kalimantan ditemukan di wilayah hak guna usaha (HGU) dan konsesi kehutanan. Hal ini menunjukkan pengeringan gambut untuk kepentingan perkebunan dan proyek skala besar masih berlangsung.
Selama perlindungan ekosistem gambut belum diperkuat melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan Ekosistem Gambut berbasis KHG, tumpang tindih kebijakan akan terus membuat kebakaran berulang di kawasan yang sama.
Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Tengah Janang Palanungkai mengatakan, kerusakan gambut diperparah oleh proyek-proyek besar seperti lumbung pangan (food estate) yang membuka ribuan hektar lahan gambut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/26/8e6f7a35b8cc9d7494d7c5b72ae6291e-20260426_H01_ADI_karhutla_mumed.png)
”Sekitar 31.000 hektar lahan gambut dikonversi untuk pengembangan PSN (Proyek Strategis Nasional) food estate yang kini terbukti gagal. Kondisi ini memperparah degradasi gambut di Kalimantan Tengah,” katanya menegaskan.
Selain memicu emisi karbon besar-besaran, kebakaran gambut juga menghasilkan kabut asap pekat yang mengandung partikel berbahaya. Asap inilah yang selama ini menjadi ancaman kesehatan masyarakat, terutama bayi dan anak-anak.
Cuaca panas ekstrem saat El Nino tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga bisa meningkatkan risiko heat stroke atau serangan panas yang bisa berbahaya.
Ketua Pengurus Pusat Ikan Dokter Spesialis Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso, dalam diskusi daring, secara terpisah, Selasa (19/5/2026), mengatakan, anak-anak rentan terdampak suhu panas ekstrem. ”Anak lebih rentan mengalami gangguan akibat cuaca panas karena mekanisme pengaturan suhu tubuhnya belum sebaik orang dewasa,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/07/249699d5c9e685ad77274a5b8f3cf6b2-cropped_image.jpg)
Menurut Piprim, heat stroke merupakan kondisi ketika suhu tubuh meningkat sangat tinggi dan tubuh tidak mampu lagi mendinginkan dirinya sendiri. Kondisi ini bisa berkembang cepat, terutama ketika anak terlalu lama berada di lingkungan panas tanpa asupan cairan yang cukup.
Gejala awalnya bisa tampak sederhana, seperti anak terlihat lemas, pusing, mual, berkeringat berlebihan, rewel, atau mengalami kram otot. Namun, jika terus berlanjut, kondisi dapat berkembang menjadi kejang, penurunan kesadaran, hingga kerusakan organ yang mematikan.
Dalam kondisi cuaca panas ekstrem, anak-anak lebih cepat kehilangan cairan tubuh. Risiko meningkat ketika mereka bermain di luar ruangan tanpa perlindungan cukup, tinggal di rumah dengan ventilasi buruk, atau terpapar asap kebakaran yang memperberat kerja paru-paru dan jantung.
Ketua Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI Darmawan Budi Setyanto menambahkan, cuaca panas selama El Nino dapat memicu dehidrasi lebih cepat pada anak. Banyak anak tak menyadari tubuhnya kekurangan cairan karena terlalu aktif bermain atau beraktivitas di luar ruangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/07/25/f88e848e-a849-402c-97d8-c3208d093aa3_jpg.jpg)
”Anak sering kali belum bisa mengenali rasa haus dengan baik. Karena itu, orangtua perlu aktif mengingatkan anak untuk minum,” ujar Darmawan.
Ia menjelaskan, kehilangan cairan dapat meningkatkan suhu tubuh dan memperbesar risiko heat exhaustion ataupun heat stroke. Selain suhu panas, paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama juga membuat tubuh anak bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil.
Risiko kesehatan terbesar bisa dialami masyarakat yang tinggal di lokasi kebakaran hutan atau lahan. Kombinasi panas ekstrem dan asap karhutla menciptakan ancaman ganda bagi kesehatan anak. Saat suhu meningkat, kualitas udara biasanya ikut memburuk karena konsentrasi polutan dan partikel halus meningkat di atmosfer.
Partikel asap kebakaran gambut dikenal sangat berbahaya karena ukurannya amat kecil dan dapat masuk jauh ke paru-paru. Paparan jangka panjang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi mata, bahkan gangguan perkembangan paru pada anak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/02/2c4b08af-ff08-43b8-83f6-14ed36f0e104_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/03/01/178e6c8d-8f16-483a-ae15-469fa59c364a.jpg)
Pengalaman kebakaran besar tahun 2015 menjadi pelajaran pahit. Saat itu, berbagai riset menunjukkan peningkatan tajam kasus ISPA di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sekolah-sekolah ditutup, bandara lumpuh, dan banyak anak harus dirawat karena gangguan pernapasan.
Namun, hingga kini pola penanganan karhutla dinilai belum berubah secara mendasar. Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Kalimantan Barat Indra Syahnanda mengatakan, aktivitas perusahaan di kawasan gambut turut memperparah kerusakan ekologis.
Hingga saat ini masih banyak aktivitas perusahaan yang membuka lahan dan mengancam ekosistem gambut. Hal ini mengakibatkan peningkatan risiko kebakaran.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan Raden Rafiq menilai kebakaran berulang tidak bisa dilepaskan dari praktik pengeringan gambut untuk kepentingan bisnis.
”Konsesi di kawasan gambut kerap menjadi sumber konflik, perampasan lahan, serta pemicu kebakaran berulang akibat praktik pengeringan gambut untuk kepentingan bisnis skala besar,” katanya.
Indonesia memiliki 13,43 juta hektar gambut tropis, salah satu yang terbesar di dunia. Lahan ini menyimpan sekitar 57 gigaton karbon. Ketika gambut dikeringkan dan terbakar, karbon tersebut terlepas ke atmosfer dan mempercepat pemanasan global.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Retma Wati