Emak-emak hingga Pedagang Pasar Ikut Demonstrasi di Depan Kantor Bupati Pati

Berbagai elemen masyarakat mengikuti unjuk rasa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). Mereka memprotes berbagai kebijakan Bupati Pati Sudewo.

13 Agt 2025 11:26 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kristi Dwi Utami

PATI, KOMPAS — Puluhan ribu warga, mulai dari emak-emak, tukang becak, hingga pedagang pasar tumpah ruah mengikuti unjuk rasa di depan kantor Bupati Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). Melalui aksi tersebut, mereka memprotes sejumlah kebijakan Bupati Pati Sudewo yang dinilai merugikan rakyat.

Berdasarkan pantauan Kompas, masyarakat mulai mendatangi kawasan kantor Bupati Pati sejak Rabu pukul 07.30. Mereka datang dengan berjalan kaki dari sejumlah titik karena jalan di sekitar alun-alun ditutup untuk kendaraan bermotor.

Mayoritas mereka datang bersama rombongan dari kampungnya masing-masing. Namun, ada pula yang datang bersama keluarganya.

Di antara masyarakat yang hadir, ada Solihatin (60), warga Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, yang datang bersama putrinya. Solihatin mengaku datang ke lokasi unjuk rasa dengan mengendarai sepeda motor, berboncengan dengan putrinya.

”Saya sengaja datang ke sini karena ingin ikut menyuarakan kekecewaan akibat pajak yang kemarin dinaikkan. Meskipun sudah dibatalkan dan bilang yang telanjur membayar akan dikembalikan, sampai sekarang belum ada kejelasan,” kata Solihatin saat ditemui di sekitar kantor Bupati Pati.

Spanduk dibentangkan bertuliskan tuntutan mundur untuk Bupati Pati Sudewo di Alun-alun Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025).

Solihatin yang merupakan ibu rumah tangga itu juga mengaku kecewa dengan sikap arogan Sudewo. Menurut dia, sebagai pemimpin, Sudewo seharusnya bisa mendengar masukan dari rakyat.

Sementara itu, Bandi (70), warga Kecamatan Pati, juga turut hadir dalam unjuk rasa. Ayah dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak itu mengaku sengaja meliburkan diri karena ingin ikut berunjuk rasa.

Sama dengan Solihatin, Bandi juga kecewa dengan kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebesar 250 persen. Akibat kebijakan itu, Bandi yang biasanya membayar pajak sebesar Rp 250.000 per tahun harus membayar sebesar Rp 950.000.

”Kebijakan itu sangat memberatkan rakyat. Sekarang ini cari uang sulit, malah pajak dinaikkan. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya malah menurunkan, bukan menaikkan,” ujar Bandi.

Massa yang berkumpul untuk demonstrasi menentang kebijakan Bupati Sudewo di Alun-alun Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025). Demonstrasi besar-besaran dilakukan warga menolak kenaikan PBB-P2 dan pernyataan Bupati Pati Sudewo yang dianggap arogan.

Selain terkait PBB-P2, Bandi juga kecewa dengan kebijakan penarikan pajak terhadap pedagang yang diterapkan Sudewo. Meski rencana itu akhirnya dibatalkan setelah diprotes masyarakat, hal tersebut dinilai tetap membuat masyarakat, termasuk para kerabatnya yang sehari-hari berdagang, merasa resah.

Sekitar 230 pedagang dari Pasar Yai di Kecamatan Pati juga turut mengikuti unjuk rasa. Mereka datang karena ingin memprotes kebijakan Sudewo yang berencana menggusur Pasar Yai karena akan dijadikan bundaran.

”Sudewo ini tidak menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi malah membuat penggangguran. Pokoknya kami ingin agar Pasar Yai tetap dipertahankan,” ujar Wawan, Koordinator Pedagang Pasar Yai.

Berdasarkan pantauan di depan kantor Bupati Pati pada pukul 10.45 WIB, unjuk rasa masih berlangsung. Massa aksi masih bertahan karena keinginan mereka agar Sudewo menemui mereka tak kunjung dipenuhi.

Polisi berjaga dengan peralatan penghalau massa saat berlangsungnya demonstrasi besar-besaran di Alun-alun Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (13/8/2025).

Sebelumnya diberitakan, sekitar 100.000 warga Pati bakal mengikuti ujuk rasa di depan kantor Bupati Pati. Mereka tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu.

”Tuntutan kami untuk aksi besok adalah lengserkan Sudewo. Masyarakat sudah enggak butuh pemimpin yang arogan, semena-mena. Masyarakat pengin punya pemimpin yang bisa menyejahterakan masyarakat, memikirkan masyarakat,” kata Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Ahmad Husein (29), Selasa (12/8/2025).

Quote

Sekarang ini cari uang sulit, malah pajak dinaikkan. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya malah menurunkan, bukan menaikkan.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Kota Pati Komisaris Besar Jaka Wahyudi mengatakan, kepolisian menerjunkan 2.781 personel gabungan dari 14 polres di Jateng, TNI, dan satuan polisi pamong praja untuk mengamankan jalannya unjuk rasa, Rabu. Menurut Jaka, pihaknya telah mengimbau seluruh petugas untuk melakukan pengamanan secara humanis.

”Kami berkomitmen akan memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menyampaikan pendapat dan akan menjamin keamanan sampai selesai acara. Harapnya bisa berjalan secara kondusif, aman, dan lancar sesuai dengan harapan kita semuanya,” ujar Jaka.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan