Rahmat Erwin Abdullah, debut di kelas 88 kg, menikmati perlombaan yang mengantarnya meraih medali emas SEA Games Thailand 2025.
16 Des 2025 19:52 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
CHONBURI, KOMPAS — Bersama Luluk Diana Tri Wijayana dan Rizki Juniansyah, Rahmat Erwin Abdullah mengangkat beban tim angkat besi Indonesia untuk berprestasi di SEA Games Thailand 2025. Rahmat, debut di kelas 88 kg, begitu menikmati perlombaan yang mengantarnya meraih medali emas.
Rahmat Erwin Abdullah memastikan medali emas keempatnya di SEA Games dalam perlombaan di Gedung Chonburi Sport School, Chonburi, Selasa (16/12/2025). Rahmat mencatatkan total angkatan 362 kilogram (snatch 160 kg, clean and jerk 202 kg).
Total angkatan itu masih di bawah rekor dunia clean and jerk yang pernah Rahmat pecahkan saat turun di kelas 81 kg, yakni 209 kg. Maka, wajar jika ketika mengangkat beban 202 kg, Rahmat seperti tak kesulitan.
”Saya menikmati perlombaan saja, meskipun pas lihat lawan agak kaget karena badannya besar-besar, tapi angkatan bisa diadu,” ujar Rahmat yang biasa turun di kelas 73 kg dan 81 kg pada kategori berat badan sebelumnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/6297c173bfc2b8147f6ec6ca2c091ab5-DSC00370.jpeg)
SEA Games Thailand 2025 adalah debut Rahmat di kelas berat. Mulanya, Rahmat ingin tampil kelas 79 kg. Namun, karena lifter sesama Indonesia, Rizki Juniansyah, juga berencana turun di kelas yang sama, mereka kemudian ”berduel” di seleksi nasional.
Beban tak kasatmata yang berada di pundak Rahmat saat duel membuatnya bahkan tak sanggup mengangkat snatch 155 kg. Padahal, bagi Rahmat yang bahkan pernah melakukan angkatan snatch hingga 160 kg di kelas 73 kg, angkatan 155 kg tidak sulit dilakukan.
Rahmat memutuskan tidak melanjutkan percobaan ketiga. Adapun Rizki pun memenangi duel dengan angkatan snatch 162 kg dan clean and jerk 205 kg.
Dengan hasil itu, Rahmat harus naik ke kelas berat. Sadar bahwa bukan 88 kg kelas yang diinginkannya, Rahmat memutuskan mengubah pola pikir. Alih-alih memendam kekecewaan yang terlalu lama karena tidak bisa turun di kelas yang diinginkan, Rahmat memilih tetap menjalaninya tanpa banyak ekspektasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/633fbf65e5529c1c6cc5d9029b7018c3-DSC00296.jpeg)
Lebih bisa tenang, menikmati, santai saja. Tidak mau terlalu ambil pusing atau terbenani.
Lifter peraih perunggu di Olimpiade Tokyo 2020 ini berambisi meraih medali emas, tetapi dia juga ingin menikmati perlombaan. Apalagi, kelas 88 kg beserta lawan-lawannya adalah baru bagi Rahmat.
Kata Rahmat, dia tidak lagi semenggebu-gebu dulu. Ambisi untuk menang selalu ada, tetapi di SEA Games keempatnya ini, dia tidak mau terlalu menaruh beban besar untuknya sendiri.
Rahmat tidak membebani dirinya angkatan fantatis atau pemecahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Fokusnya adalah level yang lebih tinggi, yakni Asian Games dan Olimpiade.
”Lebih bisa tenang, menikmati, santai saja. Tidak mau terlalu ambil pusing atau terbenani,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/db14a8d5c13192206adc8d79806bc45d-DSC00403.jpeg)
Ketika beban tak kasatmata di pundak Rahmat itu hilang, saat itu pula dia bisa menikmati perlombaan dan mempersembahkan emas. Pelatih yang juga ayah Rahmat, Erwin Abdullah, mengatakan, anaknya tidak mau terlalu memaksakan. Apalagi, selain debut di kelas 88 kg, SEA Games Thailand 2025 juga kemungkinan besar menjadi ajang terakhir Rahmat tampil di kategori berat badan tersebut.
Setelah perubahan sebelumnya diumumkan pada Desember 2024 dan kelas baru diterapkan mulai 1 Juni 2025, Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) kembali mengumumkan perubahan pada 3 November 2025. Kelas baru itu akan mulai diterapkan 1 Agustus 2026 di semua kompetisi.
Pada perubahan terbaru ini, sektor putra terdiri atas delapan kelas yang dimulai dari 60 kilogram, 65 kg, 70 kg, 75 kg, 85 kg, 95 kg, 110 kg, +110 kg. Hanya ada empat kategori berat badan yang berubah dari sebelumnya, yakni 71 kg, 79 kg, 88 kg, dan 94 kg.
Sementara itu, pada sektor putri, kategori baru dimulai dari 49 kg, 53 kg, 57 kg, 61 kg, 69 kg, 77 kg, 86 kg, +86 kg. Sebelumnya, kelas putri diawali 48 kg, 53 kg, 58 kg, 63 kg, 69 kg, 77 kg, 86 kg, dan +86 kg.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/1f11b7075c66e5e7b7e1d4537feaf310-DSC00461.jpeg)
Kelas yang memungkinkan bagi Rahmat adalah 75 kg dan 85 kg. Namun, seperti kategori berat badan sebelumnya, ada kemungkinan Rahmat dan Rizki menginginkan kelas yang sama.
”Kami belum tahu nanti seperti apa, akan turun di kelas mana. Kita lihat nanti,” ujar Erwin.
Menurut Erwin, satu hal yang penting saat ini adalah ketika beban Rahmat terangkat, medali emas bisa ada di tangan. Medali itu menambah perolehan tim angkat besi Indonesia di SEA Games 2025 menjadi tiga medali emas.
Sebagai cabor unggulan, angkat besi dibebankan target empat medali emas. Medali emas baru diraih Luluk Diana Tri Wijayana di kelas 48 kg putri dan Rizki Juniansyah di kelas 79 kg putra. Dengan tambahan medali dari Rahmat, beban tim angkat besi sedikit terangkat.
Kini, satu-satunya harapan tim angkat besi Indonesia untuk menambah medali emas adalah Alyamaulida Kartika. Alya akan turun di kelas 77 kg putri pada Jumat (19/12/2025).
Rahmat memilih bermain ”aman” dengan mengambil 202 kg pada kesempatan ketiga clean and jerk. Angkatan itu hanya membuat Rahmat unggul satu kilogram dari pesaing ketatnya, Quoc Toan Nguyen (Vietnam), yang akhirnya meraih perak.
Quoc Toan Nguyen adalah peraih medali emas di kelas 89 kg SEA Games Kamboja 2023. Tidak seperti Rahmat, Quoc Toan Nguyen terbiasa turun di kelas berat. Dia hanya perlu sedikit menurunkan bobot tubuhnya agar bisa bersaing di kelas 88 kg yang relatif baru diterapkan.
Namun, di atas kertas, Rahmat memang lebih unggul dari Quoc Toan. Bahkan, ketika Rahmat sama-sama turun di Kamboja 2023, tetapi tampil di kelas lebih ringan (81 kg), total angkatannya sudah melebihi angkatan emas Quoc Tan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/85ea3b7b8bf194acb2710ae5636fcbb4-DSC00447.jpeg)
Di kelas 81 kg, Rahmat mampu mencatatkan total 359 kg. Adapun total angkatan Quac Tan di kelas 89 kg adalah 345 kg.
Persaingan ketat untuk memperebutkan emas sudah terasa sejak angkatan snatch. Bersama Muhammad Hafizuddin Roslin (Malaysia), mereka sama-sama mencatatkan angkatan terbaik 160 kg. Hafizuddin bahkan sempat menaikkannya menjadi 162 kg, tetapi gagal.
Lantaran jumlah angkatan snatch sama, satu-satunya cara mengamankan emas adalah dengan ”bertarung” di clean and jerk. Rahmat dikenal jagoan di angkatan tersebut karena berkali-kali memecahkan rekor dunia, baik saat turun di kelas 73 kg maupun 81 kg.
Sampaikan dukungan Anda untuk atlet Indonesia
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah dari Chonburi, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari