Membawa delapan kilogram emas, empat orang ditangkap di Jepang. Kalau sukses, mereka bisa dapat lebih dari Rp 10 miliar.
22 Okt 2025 08:00 WIB · Internasional
Soal emas, di Jepang, ada yang berusaha meraih untung dengan cara tidak tepat. Caranya, menyelundupkan bubuk emas dari Hong Kong ke Jepang.
Kasus itu diulas media Hong Kong, South China Morning Post, Selasa (21/10/2025). Ada empat orang ditangkap karena bersekongkol membawa sekitar 8 kilogram emas. Nilainya 98,7 juta yen atau sekitar Rp 10,79 miliar.
Sebenarnya, kasus itu terjadi pada Juli 2024. Walakin, penangkapan baru pada Senin pekan ini. Para pelaku adalah tiga perempuan yang naik pesawat dari Hong Kong dengan pakaian dalam hasil modifikasi.
Dalam pakaian itu, diselipkan bubuk emas. Polisi tidak mengungkap bagaimana cara tiga perempuan itu menyisipkan emas di pakaian dalamnya. Apakah bobot emas dibagi rata pada ketiga orang itu atau ada yang membawa lebih banyak dari yang lain.
Hal yang jelas, pelaku sudah ditangkap. Alasan utama menyelundupkan emas adalah menghindari membayar pajak 9,87 juta yen atau Rp 1,08 miliar kala tiba di Bandara Haneda, Tokyo.
Otak penyelundupan bernama Masamori Nishimura (34). Ia mengerahkan tiga perempuan menjadi kurir penyelundupan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/26/f17e7b4736238ff6a493bddfe40a6a8a-000_36RH89Q.jpg)
Salah satu perempuan mengklaim direkrut oleh Nishimura. Ketiga perempuan yang saling kenal itu bergabung dalam skema tersebut dengan imbalan uang tunai dan biaya perjalanan. Namun, mereka menerima pakaian dalam berisi emas dari seorang pria lain di Hong Kong atas instruksi Nishimura.
Keempat pelaku sedang diselidiki polisi. Kasus itu diserahkan Bea Cukai Tokyo kepada Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo
Kasus penyelundupan emas di Jepang akhir-akhir ini melonjak. Harga logam mulia tersebut terus naik di tengah ketidakpastian menjelang perundingan perdagangan AS-China. Harga acuan emas yang ditetapkan oleh Tanaka Precious Metal Technologies Tokyo mencapai rekor 23.370 yen (sekitar Rp 2,5 juta) per gram pada Selasa.
Seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi, perburuan emas terus berlanjut di berbagai belahan dunia. Pekan lalu, Kamis (16/10/2025), harga emas di New York, Amerika Serikat, untuk kali pertama mencapai 4.300 dollar AS (Rp 71,37) per troy ounce, standar untuk mengukur logam mulia. Satu troy ounce setara dengan 31,1 gram.
Harga emas berjangka telah naik hampir 60 persen sejak awal tahun 2025. Perdagangan kini berkisar di harga 4.268 dollar AS per troy ounce. Pada awal Januari lalu, harga masih sekitar 2.670 dollar AS per troy ounce.
Para investor cemas, emas menjadi ”tempat berlindung yang aman” untuk uang mereka. Sebab, Presiden AS Donald Trump masih menabuh genderang perang tarif impor kepada China sekaligus telah memberlakukan kenaikan tarif kepada berbagai negara. Rentetan tarif itu jelas membebani perekonomian dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/03/5726607e-f1bd-4bcb-a30a-7d430fe8e6d9.jpg)
Sementara itu, prospek suku bunga dari bank-bank sentral tampaknya akan lebih rendah. Bulan lalu, The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin serta memproyeksikan akan melakukannya dua kali lagi tahun ini. Emas menjadi investasi yang lebih menarik.
Pada saat yang bersamaan, permintaan emas bank-bank sentral seluruh dunia terus bertambah. Permintaan ini terjadi ketika ketegangan geopolitik terus berlangsung, termasuk perang di Jalur Gaza dan Ukraina.
Harga perak juga mengalami lonjakan persentase yang lebih besar pada tahun ini. Harga perak berjangka naik sekitar 70 persen sehingga diperdagangkan di atas 50 dollar AS per troy ounce, pekan lalu.
Meningkatnya ketertarikan untuk berinvestasi pada emas bukan tanpa efek sama sekali. Semakin banyak pedagang perhiasan melaporkan lonjakan pelanggan yang ingin memeriksa nilai emas yang mereka miliki. Pelanggan terkadang ingin melebur atau menjual pusaka keluarga demi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga.
Namun, pelanggan lainnya juga merasa kaget karena tidak lagi membeli produk emas tertentu. Apalagi jika produk tersebut terdampak oleh kenaikan biaya material dan tarif. Peritel besar, seperti Pandora dan Signet, telah mengakui hambatan ini dalam laporan keuangan terbaru mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/6df4da43-f2b9-4dab-b9c4-d91c3a3fd1d3_jpeg.jpg)
Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas, lembaga independen di AS, telah memperingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam berinvestasi emas. Nilai logam mulia bisa sangat fluktuatif.
”Seiring harga naik sesuai permintaan, artinya ketika kecemasan atau ketidakstabilan ekonomi tinggi, orang-orang yang biasanya mendapatkan keuntungan dari logam mulia justru menjadi penjual,” bunyi catatan komisi itu.
Animo terhadap emas juga memberi konsekuensi terhadap kesehatan dan lingkungan. Penggunaan merkuri, logam beracun untuk mengikat emas dalam penambangan ilegal di seluruh dunia, ikut meningkat. Merkuri mencemari air dan ikan sehingga dapat menumpuk di tubuh manusia. Pada akhirnya, manusia bisa mengalami kerusakan neurologis.
Sudah banyak pemberitaan terkait dampak keracunan merkuri akibat penambangan emas. Beberapa kasus terjadi di Senegal, Meksiko, dan Peru. (AP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari