Investasi Emas Saat Dunia Tak Baik-baik Saja

Emas tak pernah jadi aset favorit para investor visioner, tetapi kini terlalu besar untuk diabaikan. Pertanyaannya, mengapa dan sampai kapan harga emas akan meroket.

13 Okt 2025 06:00 WIB · Internasional

Oleh Nur Hidayati

Investor legendaris Warren Buffett sudah lama dikenal tidak ”menggemari” investasi emas. Emas disebutnya sebagai aset tak produktif. Emas tak mendatangkan aliran uang seperti imbal hasil obligasi, keuntungan saham, atau investasi pada unit produksi barang dan jasa yang memang menghasilkan uang.

Uang bukan untuk ditaruh atau disimpan saja, melainkan seharusnya ”bekerja” untuk mendatangkan uang yang lebih banyak. Begitu kira-kira Buffett memaknai investasi. Sebaliknya, keuntungan yang didapat dari emas, menurut Buffett, hanya terbentuk karena kekhawatiran akan ketidakpastian.

Pendapat Buffett bertahan, meskipun dalam 100 tahun terakhir, setiap kali ketidakpastian ekonomi meningkat atau krisis membayangi, investasi emas tampil sebagai primadona.

Pola itu tercatat sejak era Great Depression (1929-1939), Perang Dunia II, krisis minyak tahun 1970-an, kejatuhan industri internet alias Dotcom Bubble pada awal 2000-an, krisis keuangan tahun 2008, dan pandemi Covid-19.

Quote

Keuntungan yang didapat dari emas, menurut Buffett, hanya terbentuk karena kekhawatiran akan ketidakpastian.

Di tengah situasi krisis dan lonjakan harga emas, kinerja bursa saham biasanya jatuh. Pada periode 1970-1979, ketika harga emas bertumbuh lebih dari 600 persen di inflasi melejit, kinerja indeks saham S&P 500 tergerus 11 persen.

Contoh lain, pada krisis keuangan yang dipicu kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat, dalam periode Januari 2008 hingga Desember 2009, indeks S&P 500 anjlok 23 persen.

Pola kenaikan harga emas dibarengi remuknya kinerja bursa saham itu tak terlihat saat ini. Hingga pekan lalu, kinerja indeks saham utama dunia seperti S&P 500 masih tercatat tinggi. Nilai tukar dollar AS pun terbilang stabil walaupun sempat melemah setelah pengumuman perang tarif Donald Trump pada April lalu.

Pedagang menunjukkan koleksi emas batangannya di salah satu toko emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa(22/4/2025). Harga emas Antam pada Selasa mencetak rekor tertinggi dan tembus di atas Rp 2 juta per gram, yaitu tepatnya Rp 2.016.000 atau naik Rp 36.000 dari hari sebelumnya.

Joe Davis, kepala ekonom Vanguard, seperti dikutip The New York Times, Sabtu (11/10/2025), berpendapat, perbedaan pola relasi emas dan bursa saham kali ini terjadi karena investor melihat ekonomi dengan cara yang ”berbeda”. Ketidakpastian kini terbaca bahkan di tengah dinamika ekonomi yang mungkin tampak tak terlalu buruk.

Pekan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia memang bakal sedikit melambat. Meski demikian, IMF menilai kondisinya masih lebih baik daripada yang semula dibayangkan.

Memang, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengingatkan pelaku ekonomi agar bersiap-siap. ”Ketidakpastian adalah normal baru dan masih akan ada di sini,” ujarnya, dirilis kantor berita Reuters, pekan lalu.

Peringatan Georgieva, antara lain, tergambar pada guncangan ekonomi dan politik yang sudah dialami dunia dalam 10 bulan terakhir setelah Donald Trump kembali duduk sebagai Presiden AS. Bukan hal mudah memprediksi apa lagi kejutan yang akan dibuat Trump dalam tiga tahun ke depan.

Kenyataannya, dalam 10 bulan terakhir, harga emas dunia tercatat tumbuh fantastis, yakni 54 persen. Pertumbuhan nilai emas ini melampaui pertumbuhan di bursa saham global, pertumbuhan nilai dollar AS, bitcoin, ataupun komoditas utama seperti minyak mentah. Harga emas mencapai 4.000 dollar AS per troy ounce pada pekan lalu.

SAN FRANCISCO, CALIFORNIA - OCTOBER 07: In this photo illustration, a one-ounce gold bar, a gold nugget, and gold coins are displayed at Witter Coins on October 07, 2025 in San Francisco, California. Investors pushed the price of gold to $4,000 per ounce for the first time, and it has surged more than 50 percent this year. (Photo Illustration by Justin Sullivan/Getty Images) (Photo by JUSTIN SULLIVAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Emas pun menjadi terlalu besar untuk diabaikan oleh para investor. Perusahaan layanan keuangan dan bank investasi multinasional Morgan Stanley pun kini menyarankan diversifikasi aset investasi dengan memasukkan emas.

Biasanya, Morgan Stanley merekomendasikan komposisi alokasi aset investasi 60:40 untuk saham dan obligasi (Financial Times, 6/10/2025). Kini, komposisi bobot investasi yang disarankan menjadi 60:20:20 dengan perbandingan setara antara emas dan aset berpendapatan tetap seperti obligasi.

Ray Dalio, penasihat investasi dan pendiri Bridgewater Associates dalam konferensi pekan lalu juga menyebutkan, emas bisa lebih aman daripada dollar AS. Ia merekomendasikan investor mengalokasikan hingga 15 persen aset portofolio keuangan mereka dalam bentuk emas.

Quote

Morgan Stanley pun kini menyarankan diversifikasi aset investasi dengan memasukkan emas.

Lantas, apakah opini Warren Buffet soal investasi emas yang ”tidak produktif” itu sudah terbukti keliru? Tidak juga. Lebih tepatnya, ketepatan investasi masih bergantung pada seberapa mampu seorang investor menanggung risiko serta seberapa besar ia ingin membangun kekayaan.

Aturan dasar bahwa emas tidak menciptakan kekayaan, tetapi mencegah orang jatuh miskin tetap berlaku. Ini karena emas pada dasarnya bersifat mempertahankan atau melindungi nilai aset (hedge). Inflasi selalu menggerus nilai uang, tetapi tidak berdampak serupa pada emas.

Mengapa harga melonjak

Kenaikan harga emas diperkirakan masih berlanjut pada 2026. Metal Focus, lembaga konsultan sekaligus periset pasar logam mulia, memprediksi harga emas akan bergerak menuju 5.000 dollar AS per troy ounce pada 2026 (Reuters, 9/10/2025).

Adapun proyeksi Goldman Sachs lebih moderat, dengan menempatkan emas di kisaran 4.300 dollar AS per troy ounce pada akhir 2026 (Fortune, 2/10/2025).

Mengapa harga emas melonjak? Kebijakan Trump berpengaruh besar dalam dinamika 10 bulan terakhir, walau bukan satu-satunya faktor. Ini tampak dari kenaikan harga emas yang juga sudah tercatat pada 2024, sebelum Trump kembali menduduki Gedung Putih. Sepanjang 2024, harga emas sudah bertumbuh 27 persen.

Mundur sedikit ke belakang, tren kenaikan harga emas sudah terbaca ketika sejumlah bank sentral menaikkan porsi emas sebagai bagian dari cadangan devisa secara signifikan dalam tiga tahun terakhir. Bahwa bank sentral memiliki simpanan emas bukanlah hal baru. Akan tetapi, kenaikan belanja emas oleh bank sentral bertumbuh signifikan sejak 2022.

World Gold Council, seperti dilaporkan Bloomberg (1/10/2025), mencatat belanja emas oleh bank sentral memberi lebih dari 1.000 ton per tahun sejak 2022. Kini emas yang dipegang oleh bank sentral secara akumulatif diperhitungkan mencapai 20 persen dari seluruh volume emas yang pernah ditambang.

Pelanggan memilih cincin perhiasan yang ditawarkan salah satu toko emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa (22/4/2025). Harga emas Antam pada Selasa mencetak rekor tertinggi dan tembus di atas Rp 2 juta per gram, yaitu tepatnya Rp 2.016.000 atau naik Rp 36.000 dari hari sebelumnya.

Peningkatan belanja emas oleh bank sentral ini bermula ketika AS dan sekutunya membekukan dana bank sentral Rusia di negara-negara itu sebagai bagian dari sanksi atas invasi Rusia ke Ukraina. Hal ini menunjukkan kerentanan aset dalam mata asing ketika berhadapan dengan sanksi ekonomi.

Pembelian emas terutama dilakukan oleh negara-negara pada pasar berkembang (emerging market), terutama bank sentral China, India, dan Turki. Selain pelindung nilai aset dari sanksi ekonomi dan inflasi, cadangan emas oleh bank sentral juga menjadi bentuk mitigasi terhadap turbulensi geopolitik.

Selain oleh bank sentral, Bloomberg mengingatkan, belanja emas yang berakar dalam tradisi masyarakat di China dan India juga tidak dapat diabaikan. Kedua negara itu merupakan pasar terbesar dunia untuk produk logam berharga.

Baik di India maupun China, perhiasan dan emas batangan lazim dibeli dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai simbol kesejahteraan dan kemapanan. Rumah tangga di India bahkan diperkirakan memiliki 25.000 metrik ton emas, lima kali lipat lebih banyak daripada simpanan emas Pemerintah AS di Fort Knox.

Pengaruh Trump

Berlanjut ketika Trump kembali ke Gedung Putih, fungsi emas sebagai pelindung nilai semakin dibutuhkan dalam instabilitas geopolitik dan ekonomi. Perang tarif yang diluncurkan Trump pada April 2025 bukan sekadar mengguncang tatanan perdagangan global dan mendongkrak ketidakpastian.

Penerapan tarif bea masuk tinggi ke pasar AS itu juga menimbulkan kecemasan atas inflasi di AS. IMF mencatat, dari rata-rata tarif AS sudah turun menjadi 17,5 persen pada Oktober 2025 dari semula 23 persen pada April. Namun, tingkat tarif ini bisa terus berubah. Ancaman tarif AS ke China, misalnya, masih seolah timbul-tenggelam.

Kebijakan terakhir Trump yang memicu penghentian operasionalisasi layanan pemerintah federal (government shutdown) pun tak luput dikeluhkan para investor. Langkah pemerintah Trump itu, antara lain, membuat indikator-indikator ekonomi kunci yang dibutuhkan pelaku pasar mundur diterbitkan.

Padahal, pelaku pasar mesti mengantisipasi banyak hal berdasarkan indikator ekonomi itu. Salah satunya terkait prospek penurunan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed. Di sisi lain, investor juga resah dengan intervensi Trump yang dianggap mengikis independensi The Fed.

Dengan kata lain, faktor-faktor pendongkrak ketidakpastian ekonomi masih membuat para investor siaga. Kecenderungan menunda investasi untuk menunggu perkembangan situasi bisa dirasakan berbagai kalangan. Pandangan pesimis ataupun optimistik sedang beradu di pasar.

Di tengah situasi yang tampak tidak baik-baik saja ini, harga emas terus naik. Namun, pandangan skeptis juga masih bertahan. Emas memang melindungi nilai aset, tetapi tidak seharusnya membuyarkan strategi investasi yang disiplin dan berorientasi nilai dalam jangka panjang, termasuk pada sektor riil.

Selamat berinvestasi pada emas atau aset lainnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nur Hidayati
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto