Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas menjadi simbol harapan dan ketenangan bagi banyak warga Jakarta setelah Lebaran.
13 Apr 2025 19:05 WIB · Metro
Seusai Lebaran, alih-alih berbelanja pakaian atau gawai baru seperti lazimnya, sejumlah warga Jakarta justru berbondong-bondong memburu emas. Harga emas yang terus melonjak tidak menyurutkan antusiasme masyarakat, justru memacu semangat untuk mendapatkannya di tengah ketidakpastian ekonomi.
Toko-toko yang menjual berbagai jenis perhiasan emas di dalam Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, dipenuhi pengunjung yang ingin berinvestasi sekaligus mempercantik penampilan mereka pada Minggu (13/4/2025). Pengunjung sibuk memeriksa koleksi emas dengan saksama, memilih perhiasan yang sesuai dengan selera masing-masing.
Kenaikan harga emas tidak menyurutkan minat pembeli untuk mengoleksi perhiasan. Fenomena belanja emas setelah Lebaran ini juga tak lepas dari peningkatan pendapatan karena banyak orang menerima tunjangan hari raya.
Di salah toko emas Cikini Gold Center, Doni Prasetyo (51) asyik berbincang mengenai emas dengan anak laki-lakinya. Ia mengatakan bahwa nilai emas tidak hanya terletak pada kecantikannya, tetapi juga pada fungsinya sebagai penjaga nilai di masa depan.
”Dulu saya pikir emas itu cuma buat perempuan. Tapi sekarang saya sadar, emas itu buat siapa saja yang mau hidup tenang di hari tua,” kata Doni, Minggu.
Harga emas yang naik tak menyurutkan niat Doni untuk membelinya. Pada Kamis (13/4/2025), harga emas Antam seharga Rp 1.904.000 per 1 gram atau melonjak Rp 15.000 dari harga sebelumnya Rp 1.889.000 pada Jumat (11/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/35c968bdd66e9f80c1acbe12b2e77b8e-WhatsApp_Image_2025_04_13_at_17.51.32.jpeg)
”Saat ketidakpastian meningkat (seperti inflasi dan ketidakpastian ekonomi), mencari aset yang relatif ’aman’ itu perlu. Emas memiliki reputasi tahan terhadap inflasi dan gejolak pasar. Jadi, meski harganya naik, orang bisa tetap membelinya untuk melindungi nilai kekayaan,” ujar Doni.
Bagi sebagian warga, membeli emas bukan hanya soal investasi, melainkan juga tradisi turun-temurun. Hal ini dikatakan oleh warga Jakarta Barat, Siti Aminah (35), yang pergi membeli emas bersama putrinya.
”Sejak zaman nenek saya, setiap Lebaran pasti beli sedikit emas walaupun cuma 1 gram. Biar ada kenang-kenangan dan simpanan,” ujarnya.
Menurut Siti, membeli emas atau perhiasan setelah Lebaran adalah bentuk tabungan yang lebih nyata ketimbang menabung di bank. ”Kalau uang, kadang-kadang tergoda untuk dipakai. Tapi kalau emas, disimpan saja, lama-lama banyak,” katanya.
Kali ini, Siti memilih membeli gelang emas dan cincin emas untuknya dan anaknya. Alasan utama ia memilih emas perhiasan adalah fungsinya yang ganda, yakni dapat dijadikan investasi, sekaligus bisa dipakai.
Fenomena pembelian emas tidak hanya melibatkan generasi tua dan milenial. Banyak anak muda Jakarta juga mulai aktif membeli emas, bukan hanya untuk perhiasan, melainkan juga untuk investasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/bec9308410ef7731262b7b3a1d4c5f52-WhatsApp_Image_2025_04_13_at_17.51.50.jpeg)
Warga Jakarta Pusat Sherly (25), misalnya. Ia sudah merencanakan pembelian emas ini sejak awal Ramadhan. Menurut dia, dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, memiliki emas adalah salah satu bentuk antisipasi.
”Awalnya sempat ragu beli sekarang soalnya lagi mahal. Tapi kalau ditunda takutnya besok lebih mahal hagi,” kata Sherly.
Ia rela menunda rencana membeli smartphone baru dan memilih mengalokasikan sebagian THR serta bonus tahunannya untuk membeli emas batangan 5 gram.
Menurut dia, kemudahan akses ke layanan digital, termasuk pembelian emas secara online, membuat anak muda lebih percaya diri untuk berinvestasi.
”Sekarang gampang banget. Bisa beli, bisa cek harga real-time, bahkan bisa simpan di brankas digital,” ujarnya.
Sherly bahkan tergabung dalam komunitas kecil berbasis media sosial yang rutin berbagi tips membeli emas, mengenali ciri-ciri emas murni, hingga mengelola investasi logam mulia secara kolektif.
Selain untuk investasi, pembelian emas seusai Lebaran juga dipicu oleh kebutuhan sosial dan budaya, seperti pernikahan, lamaran, dan seserahan. Sebab, banyak warga melangsungkan pernikahan seusai Lebaran.
Rina Marlina (24), warga Bekasi, memilih gelang emas untuk seserahan. Keluarga besar meminta ada simbol emas dalam acara lamaran dan seserahan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi keluarga.
Ia juga mendapat pesanan dari beberapa kerabatnya untuk memilih kalung dan gelang emas untuknya sebagai hadiah pernikahan.
”Hari ini akan membeli banyak perhiasan. Hari ini juga ambil cincin nikah pesanan saya,” kata Rina saat ditemui di salah toko emas di Cikini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/246d5953d6745b276d732a7a64281aa6-WhatsApp_Image_2025_04_13_at_17.51.06.jpeg)
Fenomena berbelanja emas ini diamini oleh salah satu pemilik toko emas di Cikini, Sriyanto (45). Bahkan, penjualan emas naik sekitar 40 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Begitu juga permintaan perhiasan.
Menurut Sriyanto, produk emas batangan kecil 1 gram hingga 10 gram menjadi primadona pembeli. ”Pembeli memilih ukuran kecil karena lebih fleksibel dijual kembali,” tuturnya.
Ia memperkirakan tren ini kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Dengan prediksi pelemahan ekonomi global, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai akan tetap tinggi.
”Meski harga emas tinggi, dalam jangka panjang aset ini masih dianggap stabil. Risiko jangka pendek tetap ada. Namun, sebagai bagian dari diversifikasi, investasi emas tetap masuk akal,” kata Sriyanto.
Investasi emas sebaiknya dilakukan melalui lembaga resmi seperti Antam, Pegadaian, atau platform digital yang diawasi oleh otoritas keuangan. Pembeli harus memastikan emas yang dibeli memiliki sertifikat keaslian untuk menghindari risiko penipuan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai keputusan masyarakat untuk berinvestasi emas di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini merupakan langkah yang logis dan strategis.
”Ada tiga faktor yang membuat belakangan ini emas batangan banyak dibeli masyarakat, yakni tekanan ekonomi global, imbal investasi besar, dan dana darurat,” katanya.
Menurut Bhima, masyarakat mencoba untuk menggeser portofolio investasinya menjadi emas batangan sehingga ada demand yang meningkat di tengah situasi ekonomi yang cukup memburuk.
Selain itu, secara budaya, perhiasan emas memiliki nilai sosial di Indonesia. Dikenakan dalam acara keluarga atau sosial, emas menjadi simbol status dan keberhasilan ekonomi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/17/c700d36f-07c2-4258-b81c-7911f03bf517_png.png)
Melihat situasi ekonomi dunia yang saat ini sedang tertekan dan harga emas terus mengalami lonjakan, Bhima meminta pemerintah memastikan bahwa pasokan emas dalam negeri bisa memenuhi permintaan pasar serta mengendalikan nilai tukar rupiah.
Pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) lainnya, Nailul Huda, juga mengatakan, emas masih akan menjadi safe haven untuk investasi, terutama untuk investor yang menghindari risiko.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa investasi emas dalam bentuk perhiasan maupun emas batangan perlu dilakukan dengan pemahaman yang tepat.
Pembelian emas harus dilakukan di toko tepercaya dan memastikan kadar emas sesuai dengan kebutuhan. Investor juga perlu menentukan tujuan keuangan jangka panjang sebelum membeli emas, seperti untuk dana pensiun atau pendidikan anak. Hal ini untuk membantu dalam memilih jenis emas yang sesuai, apakah emas batangan atau perhiasan.
Investasi emas sebaiknya dilakukan melalui lembaga resmi seperti Antam, Pegadaian, atau platform digital yang diawasi oleh otoritas keuangan. Pembeli harus memastikan emas yang dibeli memiliki sertifikat keaslian untuk menghindari risiko penipuan.
Dengan ini, masyarakat diharapkan dapat berinvestasi emas secara lebih bijak dan aman serta memaksimalkan potensi keuntungan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Bagi warga Jakarta, di tengah ketidakpastian dunia, emas tetap menjadi simbol harapan. Emas diyakini akan bertahan dalam waktu yang panjang.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul