Empat gajah dikerahkan untuk membuka akses jalan darat antardesa yang masih terputus pada sejumlah desa di Kecamatan Meurah Dua dan Kecamatan Meureudu di Pidie Jaya.
08 Des 2025 15:12 WIB · Lingkungan
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH
Empat gajah sumatera milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh turun tangan membantu pembersihan material bekas bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pengerahan gajah diharapkan bisa mempercepat terbukanya akses wilayah terisolasi dan pemulihan wilayah terdampak.
Gajah-gajah itu didatangkan dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree di Kabupaten Aceh Besar. Gajah dibawa menggunakan truk pada Minggu (7/12/2025) sore dan tiba di Pidie Jaya pada malam hari.
Esoknya, Senin pagi, keempat gajah mulai beroperasi membantu membuka akses jalan darat antardesa yang masih terputus di sejumlah desa di Kecamatan Meurah Dua dan Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.
”Gajah ini adalah gajah terlatih yang berpengalaman membantu di lokasi bencana. Sebelumnya, gajah-gajah ini ikut membantu pencarian korban dan pembersihan puing-puing material yang menutup akses jalan seusai Aceh dilanda tsunami pada tahun 2004 silam,” ujar Kepala Seksi Wilayah Sigli BKSDA Aceh Hadi Sofyan.
Sesampai di salah satu lokasi di Desa Meunasah Bie, Meurah Dua, gajah yang ditunggangi oleh mahout menuju akses jalan sempit di antara permukiman warga. Gajah berjalan sekitar 200 meter dari pinggir jalan antarkabupaten menuju lokasi yang tertimbun tumpukan batang pohon yang terbawa banjir bandang.
Gajah diinstruksikan untuk menyingkirkan batang-batang pohon berukuran cukup besar ke pinggiran jalan. Akses yang tertumpuk sejumlah batang pohon itu menghubungkan permukiman di Meunasah Bie.
Kami akan kirimkan gajah ke lokasi-lokasi yang masih memerlukan.
Karena tumpukan batang-batang pohon tersebut, beberapa permukiman yang masuk wilayah Meunasah Bie tidak bisa dilewati kendaraan darat ataupun alat berat. Hal itu menyulitkan pemulihan di permukiman tersebut.
Hadi mengatakan, pengerahan empat gajah itu berasal dari inisiatif BKSDA Aceh dan hasil koordinasi dengan pihak terkait, antara lain kepolisian. Gajah-gajah itu dikerahkan untuk membantu pembersihan karena petugas kesulitan membersihkan material bekas banjir di sejumlah akses antardesa yang terdampak.
Alat berat tidak mungkin bisa masuk ke wilayah itu karena jalan yang sempit. Selain itu, getaran pergerakan alat berat saat bekerja pun berisiko terhadap konstruksi rumah warga yang sudah rentan setelah dilanda bencana.
Untuk sementara, gajah ini akan fokus bekerja di sejumlah desa di Meurah Dua dan Meureudu, Pidie Jaya, selama tujuh hari ke depan. Kalau memang kondisi memungkinkan dan masih dibutuhkan, tidak tertutup kemungkinan gajah-gajah itu akan dikerahkan ke wilayah terdampak di kabupaten/kota lain.
”Saat ini, akses jalan darat antarkabupaten/kota belum sepenuhnya pulih, antara lain dari Pidie Jaya menuju Bireuen. Itu yang menyulitkan pengangkutan gajah ke kabupaten/kota lain. Tapi, kalau memang akses sudah pulih, kami akan kirimkan gajah ke lokasi-lokasi yang masih memerlukan,” kata Hadi.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Pidie Jaya Inspektur Satu Fauzi Atmaja mengatakan, keberadaan gajah itu sangat dibutuhkan untuk percepatan pembersihan tumpukan material yang terbawa banjir bandang di akses jalan antardesa ataupun kawasan permukiman di desa. Pasalnya, jalan antardesa berukuran sempit sehingga tidak bisa dijamah alat berat.
Paling tidak, sejauh ini ada tiga desa di Meurah Dua dan lima desa di Meureudu yang tidak bisa dimasuki alat berat. Kalau dipaksakan masuk, alat berat itu berisiko merusak bangunan rumah warga di sekitarnya. Sebaliknya, kalau tidak segera dibersihkan, tumpukan material itu akan menghambat pemulihan aktivitas warga.
”Selain bisa mempercepat pemulihan aktivitas, terbukanya akses jalan antardesa pun bisa memperlancar pendistribusian bantuan. Sebab, ada sejumlah desa yang masih sulit diakses karena jalan menuju ke wilayah-wilayah bersangkutan masih tertutup tumpukan material,” tutur Fauzi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/07/b674a4152539f7eab64d1d4b41c66995-20251207TOK27.jpg)
Fauzi menambahkan, pembersihan yang dilakukan oleh gajah itu tidak menutup kemungkinan bisa membantu menemukan korban yang masih tertimbun tumpukan material. ”Itu bisa saja terjadi. Sebab, hingga sekarang, kami belum tahu apa saja yang ada di dalam tumpukan material tersebut,” ujarnya.
Warga Desa Meunasah Bie, Nurma (61), mengatakan, akibat masih ada tumpukan material, genangan air tidak bisa mengalir dari sejumlah rumah warga, termasuk di rumahnya. Kondisi itu membuat Nurma dan ratusan warga lain belum bisa kembali ke rumah masing-masing. Sejauh ini, mereka masih mengungsi di pos pengungsian di tepi jalan antarkabupaten yang tidak jauh dari desa.
Akibat berhari-hari tidur atau beristirahat dengan seadanya di posko pengungsian, banyak warga mulai mengeluhkan sakit. Penyakit yang paling banyak diderita ialah flu, demam, hingga radang tenggorokan. Flu dan demam diyakini akibat pengungsi tidur bertumpuk di tempat yang relatif terbuka atau tidak berdinding tertutup.
Adapun radang tenggorokan disinyalir karena pengungsi terus-menerus terpapar debu jalanan. Debu berasal dari sisa lumpur bencana yang mengering, tetapi belum bersih sepenuhnya. ”Jadi, kami sangat berharap pembersihan tumpukan material oleh gajah-gajah ini bisa segera memulihkan permukiman supaya kami bisa segera kembali ke rumah,” kata Nurma.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/836d936d0b97a6715953ac688e781aff-20251206TOK68.jpg)
Berdasarkan laporan pantauan data penanggulangan bencana alam hidrometeorologi di Pos Komando Terpadu Pemerintah Aceh pada Minggu pukul 20.00 WIB, korban meninggal mencapai 382 jiwa, hilang 99 orang, luka berat 482 orang, dan luka ringan 3.789 orang.
Bencana di Aceh pun menyebabkan 269.448 keluarga atau 945.434 jiwa mengungsi. Mereka tersebar di 1.978 lokasi pengungsian. Secara keseluruhan, 464.432 keluarga atau 1.872.419 jiwa terdampak bencana Aceh. Mereka tersebar di 3.658 kampung di 225 kecamatan di 18 kabupaten/kota.
Dengan segala cara, tim gabungan di lapangan terus berupaya membuka akses jalan yang masih putus.
Warga yang berada di pengungsian belum bisa kembali ke rumah karena rumahnya masih terendam sisa material bencana ataupun rusak. Tercatat ada 156.404 rumah warga yang rusak beserta 65.105 hektar lahan sawah, 14.741 hektar kebun, dan 40.328 hektar tambak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/f68d0c04da411f59de7c3c44d11306ba-20251206TOK18.jpg)
Pemulihan belum optimal karena masih banyak akses jalan darat dan jembatan yang putus. Setidaknya ada 461 jalan dan 332 jembatan yang rusak sehingga akses dari dan menuju lokasi terkait masih sulit dilalui atau ditembus.
”Dengan segala cara, tim gabungan di lapangan terus berupaya membuka akses jalan yang masih putus. Pembukaan akses dilakukan dengan pembersihan, perbaikan, dan penyediaan sarana-prasarana darurat. Ini menjadi prioritas utama karena sangat memengaruhi percepatan pendistribusian bantuan maupun pemulihan di wilayah terdampak,” tutur juru bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti