KONFLIK

Empat Tahun Bara Perang Ukraina-Rusia yang Membakar Kehidupan

Empat tahun bara perang Ukraina-Rusia tak kunjung padam. Korban terus berjatuhan. Krisis kemanusiaan tak terelakkan. Perang ”membakar” kehidupan banyak orang.

23 Feb 2026 14:08 WIB · Internasional

AP

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Pada Kamis (24/2/2022), Rusia memulai operasi militer khusus ke Ukraina. Armada militer dan bala tentara dikerahkan besar-besaran. Operasi militer ini menandai dimulainya perang Ukraina-Rusia yang tepat berlangsung empat tahun pada Selasa (24/2/2026) besok.

Perang telah merenggut ratusan ribu korban jiwa dan mengubah kehidupan jutaan orang. Korbannya tak cuma para tentara, tetapi juga rakyat biasa. Banyak warga sipil tewas dan terluka parah. Empat tahun berlalu, air mata orang-orang yang kehilangan keluarganya belum sepenuhnya kering. Jutaan warga Ukraina mengungsi, bahkan terpaksa meninggalkan negaranya. Anak-anak terampas masa depannya.

Usia Kira baru tiga bulan saat sebuah rudal menghantam apartemen orangtuanya di Kota Odessa, Ukraina, pada 23 April 2022. Bersama ibunya, Valeria (28), dan neneknya, Lyudmila (54), tiga generasi dalam satu keluarga itu tewas oleh serangan militer Rusia.

Ayah Kira, Yuriy, yang sedang berbelanja, selamat dari serangan itu. Ia sangat terpukul kehilangan tiga orang yang dikasihinya sekaligus. Mantan pengacara itu mengais puing-puing apartemennya untuk mencari barang-barang milik bayi mungilnya sebagai kenang-kenangan.

Seorang ayah meletakkan tangannya di jendela saat dia mengucapkan selamat tinggal kepada putrinya di depan kereta evakuasi di stasiun kereta api pusat di Odessa pada 7 Maret 2022. - Odessa, yang ditakutkan Ukraina bisa menjadi target serangan Rusia selanjutnya di selatan, adalah pelabuhan utama negara dan sangat penting bagi perekonomiannya. Tetapi kota berpenduduk satu juta orang yang dekat dengan perbatasan Rumania dan Moldova juga memiliki tempat khusus dalam imajinasi Rusia. *** Local Caption *** A father puts his hand on the window as he says goodbye to his daughter in front of an evacuation train at the central train station in Odessa on March 7, 2022. - Odessa, which Ukraine fears could be the next target of Russia's offensive in the south, is the country's main port and is vital for its economy. But the city of one million people close to the Romanian and Moldovan borders also holds a special place in the Russian imagination. (Photo by BULENT KILIC / AFP) / AFP PICTURES OF THE YEAR 2022

Di tengah perang yang terus berkecamuk, tak banyak pilihan pekerjaan di Odessa. Kota yang berjarak sekitar 500 kilometer dari ibu kota Kyiv ini kerap menjadi sasaran serangan udara Rusia. Banyak warganya yang dievakuasi ke berbagai tempat.

Setahun setelah serangan itu, Yuriy memilih bergabung dengan tentara Ukraina. Pilihan ini membuatnya semakin berisiko menjadi sasaran serangan Rusia. Ia tewas pada September 2023 dalam pertempuran di sekitar Bakhmut, salah satu titik paling berdarah dalam perang tersebut.

”Ada ratusan kisah seperti ini di seluruh negeri (Ukraina),” kata sahabat Valeria, Alla Korolyova, kepada kantor berita AFP, pertengahan Februari lalu.

Korolyova menunjukkan foto bayi mungil Kira di ponselnya. Foto itu dikirimkan oleh Valeria sebelum serangan mematikan tersebut. Korolyova merindukan sahabatnya itu beserta bayinya yang belum sempat ia kenal lebih dekat.

(FILES) This file photo taken on March 13, 2022, shows anti-tank obstacles laid out along a street in the southern Ukrainian city of Odessa. - The UN cultural agency on January 25, 2023, added the historic centre of Ukraine's port city of Odessa to its World Heritage List despite opposition from Russia. (Photo by BULENT KILIC / AFP) *** Local Caption *** Arsip foto yang diambil pada 13 Maret 2022 ini menunjukkan barikade anti-tank yang diletakkan di sepanjang jalan di kota Odessa, Ukraina selatan.

”Valeria adalah secercah cahaya. Dia mencintai budaya Ukraina, yaitu opera. Dia memiliki tawa yang khas yang sangat saya rindukan,” ujarnya.

Invasi Rusia memaksa banyak orang Ukraina beralih pekerjaan menjadi tentara. Mereka mungkin saja tidak menginginkan perang, tetapi harus melakukannya demi mempertahankan negaranya. Orang-orang terlibat dalam pertempuran yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Anastasiia (19), mantan barista, mempunyai hobi menerbangkan pesawat nirawak (drone). Hobi itu menjadi alasannya direkrut menjadi tentara Ukraina sebagai pilot drone untuk memetakan serangan musuh.

Di usia yang masih sangat muda, Anastasiia harus bertaruh nyawa sebagai serdadu negaranya. Ia kemudian dipercaya menjadi operator first person view (FPV). Tugasnya merekam visual di lokasi tertentu sehingga dapat lebih dipahami oleh pasukan yang dikerahkan ke lapangan.

Quote

Sejumlah pihak menanti jembatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Sebab, memperpanjang perang sama artinya membiarkan lebih banyak korban berjatuhan. Itu berarti melanggengkan penderitaan bagi jutaan orang.

”Menjadi perempuan di angkatan bersenjata masih sulit. Anda harus terus-menerus membuktikan Anda layak melakukan pekerjaan itu, dan setara dengan orang lain,” ujarnya dilansir dari BBC.

Menentang perang

Di tengah penderitaan yang dialami warga Ukraina selama perang, tak sedikit warga Rusia yang berempati. Negara mereka berkonflik, tetapi solidaritas kemanusiaan tak bisa dibendung. Mereka berunjuk rasa menolak operasi militer ke negara tetangganya itu.

Empati itu bukannya tanpa risiko. Banyak warga Rusia yang ditangkap saat berunjuk rasa. Namun, gelombang protes untuk mengakhiri krisis kemanusiaan tersebut tidak sepenuhnya bisa dihentikan.

Varvara, warga Moskwa, mengambil risiko. Ia ikut turun ke jalan untuk meneriakkan penolakan perang. Bersama ribuan warga lainnya, pencinta kucing itu mengkritisi kebijakan negaranya sendiri yang menginvasi Ukraina.

Pengungsi melintasi jembatan yang hancur saat mereka melarikan diri dari kota Irpin, barat laut Kyiv, pada 7 Maret 2022. - Ukraina menolak tawaran Moskow untuk mendirikan koridor kemanusiaan dari beberapa kota yang dibombardir pada hari Senin setelah muncul beberapa rute yang akan membawa pengungsi ke Rusia atau Belarusia. Proposal Rusia untuk perjalanan aman dari Kharkiv, Kyiv, Mariupol dan Sumy datang setelah warga sipil Ukraina yang ketakutan mendapat kecaman dalam upaya gencatan senjata sebelumnya. *** Local Caption *** Evacuees cross a destroyed bridge as they flee the city of Irpin, northwest of Kyiv, on March 7, 2022. - Ukraine dismissed Moscow's offer to set up humanitarian corridors from several bombarded cities on Monday after it emerged some routes would lead refugees into Russia or Belarus. The Russian proposal of safe passage from Kharkiv, Kyiv, Mariupol and Sumy had come after terrified Ukrainian civilians came under fire in previous ceasefire attempts. (Photo by Dimitar DILKOFF / AFP) / AFP PICTURES OF THE YEAR 2022

”Saya memperingatkan orang-orang terdekat bahwa saya mungkin akan ditangkap. Saya meninggalkan kunci cadangan rumah dan berharap kucing saya tidak akan kelaparan selama saya tidak ada,” katanya.

Perang Ukraina-Rusia juga membawa penderitaan bagi warga Rusia yang tinggal di perbatasan. Wilayah Rusia barat yang berbatasan dengan Ukraina, seperti Kursk dan Belgorod, menjadi sasaran gempuran artileri, pesawat nirawak, dan serangan darat pasukan Ukraina. Bahkan, Ukraina mengklaim telah menguasai sebagian wilayah itu.

Dilansir dari kantor berita Al Jazeera, Ben the Brit (25), warga Kursk, mengatakan, setahun lalu, saat pasukan Ukraina masih berada di wilayah itu, serangan udara terjadi hampir setiap hari. ”Yang mungkin mengejutkan orang adalah betapa terbiasanya penduduk setempat, termasuk saya. Tidak ada yang berlari ke tempat perlindungan setiap kali terjadi serangan,” ujarnya.

Monka, seorang operator drone FPV dari brigade penyerang ketiga, merakit drone FPV, Rabu (5/11/2025) di Oblast Kharkiv, Ukraina. 


AP/Julia Demaree Nikhinson

Tak cuma kehidupan yang semakin mencekam, banyak warga Rusia di perbatasan yang tewas akibat perang. Situs berita lokal melaporkan, sedikitnya 458 warga sipil tewas dalam serangan Ukraina di wilayah Belgorod.

Menanti jembatan perdamaian

Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Washington, Amerika Serikat, memperkirakan, 325.000 personel militer Rusia tewas dalam perang Ukraina-Rusia selama empat tahun, sementara korban tewas dari militer Ukraina mencapai 140.000 orang. Perang juga merenggut nyawa lebih dari 3.000 masyarakat sipil.

Perundingan damai Ukraina-Rusia yang dimediasi AS belum membuahkan hasil. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menginginkan gencatan senjata di sepanjang garis kontak yang ada.

Foto yang dirilis Layanan Media Istana Kepresidenan Ukraina memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berjabat tangan dengan calon presiden Amerika Serikat Donald Trump usai bertemu di New York, Jumat (27/9/2024). This handout photograph released by the Ukrainian presidential press service on September 27, 2024 shows Ukrainian President Volodymyr Zelensky (L) and Republican presidential nominee former US President Donald Trump, shake hands during a meeting on September 27, 2024 in New York. The meeting coincides with Zelensky's visit to New York for the United Nations General Assembly. (Photo by Handout / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin berkeras agar Ukraina menarik diri dari Donetsk, Ukraina timur. Hal ini ditolak oleh Zelenskyy sehingga kesepakatan damai antara kedua negara tampaknya tidak terwujud dalam waktu dekat.

”Masalah teritorial penting bagi Rusia. Namun, perang ini memiliki tujuan yang lebih ambisius, yaitu menciptakan Ukraina yang sepenuhnya berada dalam lingkup pengaruh Rusia,” ujar Tatiana Stanovaya, peneliti Carnegie Russia Eurasia Center.

Sejumlah pihak menanti jembatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Sebab, memperpanjang perang sama artinya membiarkan lebih banyak korban berjatuhan. Itu berarti melanggengkan penderitaan bagi jutaan orang.

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra