PIALA DUNIA 2026

Enigma Nomor Sembilan ”Die Mannschaft”

Empat Piala Dunia diraih Jerman dengan penyerang tajam. Tanpa itu, jalan kampiun di edisi 2026 terlihat suram.

09 Jun 2026 11:00 WIB · Olahraga

GETTY IAMGES VIA AFP

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Apa persamaan dari empat skuad tim nasional Jerman ketika meraih trofi Piala Dunia pada 1954, 1974, 1990, dan 2014? ”Die Mannschaft” menapaki podium tertinggi berkat kehadiran penyerang tengah tajam yang dapat menggaransi minimal tiga gol.

Mari kita mulai pembahasan dari jejak awal Jerman—dulu disebut Jerman Barat—diakui sebagai tim raksasa setiap ajang Piala Dunia digelar. Pengakuan itu dimulai pada Swiss 1954.

Pada keikutsertaan perdana mereka setelah Perang Dunia II, Jerman Barat tampil brilian dengan menumbangkan kandidat utama juara saat itu, Hongaria, dengan skor 3-2. Dua penyerang utama Jerman Barat, Helmut Rahn dan Max Morlock, membantu membalikkan ketertinggalan dua gol dalam delapan menit awal laga, salah satu gol dicetak Ferenc Puskas.

Rahn, yang disebut sebagai ”Der Boss”, mencetak brace alias dwigol yang memastikan Jerman Barat melawan kemustahilan. Ia menutup turnamen dengan koleksi empat gol. Adapun Morlock konsisten menjadi bagian penting lini serang Jerman Barat sepanjang turnamen.

Berlanjut ke edisi Jerman Barat 1974, gelar Piala Dunia kedua diraih setelah mengungguli Belanda, yang dihuni Johan Cruyff, 2-1. Trofi juara dunia dipastikan Jerman Barat melalui gol salah satu penyerang terbaik yang dimiliki Die Mannschaft, yakni Gerd Müller. Sumbangan empat gol Müller memuluskan langkah Jerman juara di tanah sendiri.

Pada Italia 1990, Jerman Barat hadir sebagai tim yang paling merata. Tidak ada pemain bintang yang paling menonjol, tetapi mereka memiliki gacoan di seluruh lini.

Pos penjaga gawang diisi Bodo Illgner. Partai perebutan gelar juara dimenangi Jerman Barat 1-0 atas Argentina, yang berstatus juara bertahan.

Pelatih timnas Jerman Julian Nagelsmann tiba di lapangan sepak bola Soldier Field, Chicago, AS, Jumat (5/6/2026), untuk latihan tim.

Di barisan bek terdapat Andreas Brehme. Maju ke lini tengah dipimpin oleh sang kapten, Lothar Matthaus. Kemudian, ujung tombak mengandalkan Rudi Voeller dan Juergen Klinsmann.

Duo Voeller dan Klinsmann sama-sama mencetak tiga gol. Dominasi gol mereka tercipta pada babak penyisihan. Jerman pun menjadi tim paling produktif di edisi itu berkat koleksi 15 gol.

Gelar Piala Dunia terakhir yang diraih pada Brasil 2014 juga ditopang penyerang-penyerang hebat. Mereka adalah Thomas Müller yang ciptakan lima gol, Andre Schuerrle dengan tiga gol, serta dua gol dari Miroslav Klose menegaskan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia.

Setelah Klose undur diri dari sepak bola, Die Mannschaft seakan mengalami kerinduan akut terhadap pemain nomor sembilan murni atau penyerang tengah. Itu bisa disaksikan pada Rusia 2018 dan Qatar 2022.

Dalam dua edisi Piala Dunia itu, Jerman bukan hanya gagal melanjutkan tradisi selalu menembus semifinal pada periode 2002 hingga 2014. Mereka tampil bak tim semenjana di level dunia. Bintang empat di atas logo mereka seakan kehilangan tuah.

Mereka selalu gugur sejak babak penyisihan. Dua gol hanya bisa dihasilkan dari Rusia. Lalu, enam gol di Qatar juga tidak bisa mengangkat mereka dari nasib buruk.

Jerman kehilangan penyerang tengah yang bisa menjadi tumpuan gol utama. Jelang bertarung di Piala Dunia 2026, ketiadaan nomor sembilan tajam tetap membayangi Die Mannschaft yang kali ini diasuh Julian Nagelsmann.

Para pemain timnas Jerman, antara lain Felix Nmecha, Jonathan Tah, dan Leroy Sane (kiri-kanan), tiba di lapangan sepak bola Soldier Field, Chicago, AS, Jumat (5/6/2026), untuk latihan tim.

Gejala itu sudah terlihat ketika Nagelsmann mengumumkan 26 nama yang dibawanya ke Amerika Utara, Selasa (26/5/2026). Nomor khusus penyerang tengah andalan, sembilan, diberikan kepada Jamie Leweling yang berposisi sebagai pemain sayap.

Leweling bahkan baru memainkan empat laga bersama Jerman. Catatan golnya pun masih satu. Itu tercatat ketika membantu Jerman menaklukkan Belanda, 1-0, pada Liga Nasional Eropa 2024-2025, Oktober 2024. Pemain berusia 25 tahun itu menutup musim 2025-2026 dengan 11 gol dari 50 laga untuk VfB Stuttgart.

Belum pasti

Nagelsmann memanggil tiga pemain yang bisa bermain di pos nomor sembilan. Mereka adalah Kai Havertz (Arsenal/#7), Nick Woltemade (VfB Stuttgart/#11), dan Deniz Undav (VfB Stuttgart/#26).

Kualitas ketiganya tentu belum bisa disejajarkan dengan Rahn, Voeller, apalagi Klose. Woltemade dan Undav bahkan akan menjalani Piala Dunia perdana. Mereka baru bergabung dengan skuad Jerman dalam satu tahun terakhir.

Havertz lebih berpengalaman berkat aksi di Qatar 2022 dan merupakan pemain tersubur Die Mannschaft pada Piala Dunia 2022. Ia telah cetak 21 gol dari 57 penampilan. Dua gol dicetak penyerang asal Arsenal itu empat tahun silam.

Namun, Havertz memiliki kendala fisik selama musim 2025-2026. Ia hanya tampil pada 24 laga untuk Arsenal dengan koleksi enam gol. Itu adalah kuantitas gol terendahnya dari sejak masih membela Bayer Leverkusen pada 2017-2018.

Sementara itu, Woltemade dan Undav bermodal masing-masing empat gol menuju Amerika Utara. Nagelsmann tidak terlalu peduli dengan catatan produktivitas para penyerangnya itu.

Germany WCup Soccer

Satu hal yang menjadi pertimbangan utamanya memiliki mereka adalah penyesuaian dengan filosofi permainan. Bagi Nagelsmann, trio penyerang tengah itu bisa memberikan kontribusi besar dalam performa taktik kolektif sehingga tidak sekadar diharapkan mencetak gol.

”Terpenting dari pemilihan para pemain adalah kami yakin mereka adalah tim terbaik bagi Die Mannschaft saat ini. Mereka bisa bekerja sama dengan baik sebagai sebuah grup,” tutur Nagelsmann dilansir Bild.

Nagelsmann memang senang dengan peran hibrida dari penyerang utama. Havertz dan Woltemade piawai memainkan peran itu untuk membantu rekan setim mendapat ruang di sepertiga akhir pertahanan lawan.

Dengan begitu, Nagelsmann perlu mengasah efektivitas pemain dari lini tengah untuk menyumbang gol, seperti Florian Wirtz, Jamal Musiala, Nadiem Amiri, dan Lennart Karl. Hal itu yang gagal dilakukan Joachim Loew di 2018 dan Hans-Dieter Flick pada 2022.

”Saya lebih menganggap Musiala, juga Wirtz, sebagai pemain yang berpotensi membuat perbedaan bagi tim,” kata Matthaus seperti dikutip Tribuna.

Jerman seharusnya tidak kesulitan untuk mengunci puncak Grup E menghadapi tiga tim kuda hitam yang terdiri dari Ekuador, Pantai Gading, dan debutan, Curacao. Itu adalah ujian sempurna bagi para penyerang Jerman untuk menjawab keraguan.

Status juara grup juga bakal memberikan mereka tantangan relatif mudah di babak 32 besar karena akan menghadapi salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Jalan terjal Die Mannschaft baru akan tersaji pada fase 16 besar. Mereka berpeluang langsung bertemu sesama kekuatan raksasa asal Eropa, Perancis. (REUTERS)

Skuad Jerman

Kiper: Oliver Baumann (Hoffenheim), Manuel Neuer (Bayern Muenchen), Alexander Nübel (Stuttgart)

Bek: Waldemar Anton (Borussia Dortmund), Nathaniel Brown (Eintracht Frankfurt), David Raum (RB Leipzig), Antonio Rüdiger (Real Madrid), Nico Schlotterbeck (Borussia Dortmund), Jonathan Tah (Bayern Muenchen), Malick Thiaw (Newcastle)

Midfielders: Pascal Gross (Brighton), Joshua Kimmich (Bayern Muenchen), Felix Nmecha (Borussia Dortmund), Aleksandar Pavlovic (Bayern Muenchen), Angelo Stiller (Stuttgart), Leon Goretzka (Bayern Muenchen), Florian Wirtz (Liverpool), Jamie Leweling (Stuttgart)

Forwards: Maximilian Beier (Borussia Dortmund), Kai Havertz (Arsenal), Lennart Karl (Bayern Muenchen), Jamal Musiala (Bayern Muenchen), Leroy Sané (Galatasaray), Deniz Undav (Stuttgart), Nick Woltemade (Newcastle United)

Pelatih: Julian Nagelsmann


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto, Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra