Kita kini hidup di era baru yang berbahaya dan bakal lebih berbahaya di tahun-tahun mendatang seiring dengan pemanasan global.
30 Des 2024 10:00 WIB · Nasional
Dari Mayotte, yang terpencil di Samudra Hindia, utara Madagaskar, hingga kota-kota Eropa yang makmur, tak ada yang luput dari dampak dahsyat bencana iklim pada 2024.
Serangkaian bencana mematikan itu tak bisa dilepaskan dari rekor tahun terpanas, dengan suhu memecahkan rekor di atmosfer dan lautan, seperti bahan bakar untuk cuaca ekstrem. Tahun 2024 ditandai rekor suhu atmosfer tertinggi sepanjang sejarah, rata-rata lebih dari 1,5 derajat celsius sepanjang tahun.
Analisis dari para peneliti World Weather Attribution dan Climate Central dilaporkan pada pengujung tahun 2024 menunjukkan, orang-orang di seluruh dunia mengalami rata-rata 41 hari tambahan panas yang berbahaya tahun ini karena perubahan iklim yang disebabkan manusia.
Perubahan iklim juga memperburuk cuaca di dunia yang menyebabkan banyak bencana dan korban jiwa sepanjang tahun 2024. Perubahan iklim telah memainkan peran dan sering jadi peran utama dalam sebagian besar peristiwa yang kami pelajari.
”Perubahan iklim membuat panas, kekeringan, siklon tropis, dan hujan lebat lebih mungkin terjadi dan lebih intens di seluruh dunia, menghancurkan kehidupan dan mata pencarian jutaan orang dengan jumlah orang tak terhitung,” Friederike Otto, pimpinan World Weather Attribution dan ilmuwan iklim Imperial College, sebagaimana dilaporkan AFP pada Minggu (29/122024).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/14a01b223acd0b74efcba210a47c2132-Tahun_terpanas.png)
Untuk menganalisis panas ekstrem, tim ilmuwan internasional ini membandingkan suhu harian di seluruh dunia pada 2024 dengan suhu yang diperkirakan terjadi di dunia tanpa perubahan iklim. Hasilnya belum ditinjau sejawat, tetapi para peneliti menggunakan metode yang ditinjau sejawat.
Hasilnya ditemukan, sejumlah daerah mengalami panas ekstrem selama 150 hari atau lebih akibat perubahan iklim. ”Negara-negara termiskin dan paling tidak berkembang di planet ini mengalami angka (hari dengan panas ekstrem) lebih tinggi,” kata Kristina Dahl, wakil presiden ilmu iklim di Climate Central.
Hal yang lebih buruk lagi, kematian akibat panas kerap kali tak dilaporkan. ”Orang tidak harus meninggal dalam gelombang panas. Namun, jika kita tak bisa berkomunikasi dengan meyakinkan, tetapi sebenarnya banyak orang yang meninggal, akan jauh lebih sulit untuk meningkatkan kesadaran ini,” kata Otto.
”Gelombang panas sejauh ini merupakan peristiwa ekstrem yang paling mematikan dan itu adalah peristiwa ekstrem di mana perubahan iklim benar-benar mengubah keadaan,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/08/12/2ed792f4-d15d-4c75-b7c8-9caff24c3827.jpg)
Para peneliti World Weather Attribution dan Climate Central telah memeriksa dengan seksama 29 peristiwa cuaca ekstrem pada 2024 yang menewaskan sedikitnya 3.700 orang dan membuat jutaan orang mengungsi. Mereka menemukan 26 bencana di antaranya memiliki kaitan dengan perubahan iklim.
Panas ekstrem tahun ini menjadi bencana mematikan. Pada Juni 2024, lebih dari 1.300 orang meninggal selama ibadah haji di Arab Saudi ketika suhu mencapai 51,8 derajat celsius.
Apa yang terjadi di Arab Saudi ini merupakan bentuk nyata bagaimana panas ekstrem bisa sangat mematikan. Namun, lebih banyak lagi korban yang tidak dilaporkan, karena cuaca panas ekstrem, kadang dijuluki ”pembunuh diam-diam”.
Panas ekstrem yang mencapai rekor tertinggi di sejumlah negara, seperti di Thailand, India, Jepang, dan Amerika Serikat. Suhu panas ekstrem tersebut diperkirakan juga membunuh banyak orang.
Demikian halnya kondisi di Meksiko tahun ini, dilaporkan sangat ekstrem sehingga monyet howler jatuh mati dari pohon. Sementara di Pakistan jutaan anak-anak tidak bisa ke sekolah karena suhu udara naik di atas 50 derajat celsius.
Yunani juga mencatat gelombang panas paling awal yang pernah terjadi, yang memaksa penutupan Acropolis yang terkenal dan memicu kebakaran hutan yang mengerikan, di awal musim panas terpanas di Eropa.
Suhu lebih panas sepanjang tahun 2024 juga terjadi di Indonesia. Misalnya, analisis dari 31 stasiun pengamatan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara rata-rata Agustus 2024 di Indonesia 26,9 derajat celsius. Padahal, normal suhu udara klimatologis Agustus 2024 periode 1991-2020 di Indonesia 26,19 derajat celsius.
Gelombang panas sejauh ini merupakan peristiwa ekstrem yang paling mematikan dan itu adalah peristiwa ekstrem di mana perubahan iklim benar-benar mengubah keadaan.
Berdasarkan data tersebut, anomali suhu udara rata-rata bulan Agustus 2024 di Indonesia lebih panas sebesar 0,71 derajat celsius dari rata-rata. Anomali suhu udara Indonesia pada Agustus 2024 ini merupakan nilai anomali tertinggi kedua sepanjang periode pengamatan sejak 1981.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/10/517cb94a-d353-4315-840b-f8197d42ff15_jpg.jpg)
Pola cuaca El Niño, yang secara alami menghangatkan Samudra Pasifik dan mengubah cuaca di seluruh dunia, membuat sebagian cuaca ini lebih mungkin terjadi awal tahun. Menurut para peneliti, sebagian besar riset mereka menemukan perubahan iklim berperan lebih besar daripada fenomena itu dalam memicu peristiwa tahun 2024.
Menurut para peneliti, air laut yang hangat dan udara yang lebih hangat memicu badai yang lebih merusak. Sementara suhu udara menyebabkan banyak hujan lebat yang memecahkan rekor.
Perubahan iklim bukan hanya suhu yang sangat panas, karena lautan yang lebih hangat berarti penguapan yang lebih tinggi, dan udara yang lebih hangat menyerap lebih banyak uap air, yang merupakan resep yang tidak stabil untuk hujan lebat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/20/ffd573f1-7e40-497e-a96b-0771d60745d1.jpg)
Pada bulan April, Uni Emirat Arab menerima hujan selama dua tahun dalam satu hari, mengubah sebagian negara gurun itu menjadi laut, dan melumpuhkan Bandara Internasional Dubai.
Kenya, yang biasanya dilanda kekeringan, mengalami banjir terburuk dalam beberapa dekade. Sekitar 4 juta orang butuh bantuan setelah banjir menewaskan lebih dari 1.500 orang di Afrika Barat dan Tengah. Eropa, terutama Spanyol, juga dilanda hujan lebat yang menyebabkan banjir bandang mematikan tahun ini.
Afghanistan, Rusia, Brasil, China, Nepal, Uganda, India, Somalia, Pakistan, Burundi, Amerika Serikat, hingga Indonesia termasuk di antara negara-negara lain yang mengalami banjir pada 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/03/8fcb9689-ffd4-4a03-897b-6e25028ef4bc.jpg)
Permukaan laut lebih hangat juga menghasilkan energi bagi siklon tropis saat bergerak menuju daratan, menimbulkan angin kencang dan potensi kerusakannya. Badai besar menghantam Amerika Serikat dan Karibia, terutama Milton, Beryl, dan Helene, dalam musim badai di atas rata-rata tahun 2024.
Analisis Dana Nuccitelli, peneliti di Citizens’ Climate Lobby, menyebutkan, badai Milton, yang terbentuk di Teluk Meksiko pada awal Oktober 2024, menjadi contoh bagaimana perubahan iklim memperparah cuaca ekstrem.
Hal ini mengakibatkan suhu air tinggi, badai tersebut dengan cepat berubah dari badai tropis menjadi Kategori 5. Para ilmuwan di Climate Central memperkirakan suhu permukaan laut yang luar biasa hangat tersebut kemungkinan terjadi 400 hingga 800 kali lebih besar akibat perubahan iklim.
Filipina mengalami enam badai besar pada bulan November saja, hanya dua bulan setelah dilanda topan Yagi saat melanda Asia Tenggara. Rangkaian badai ini tak hanya memicu kerusakan, tetapi banyak korban jiwa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/b4b9c3b3-d6d7-41ac-a1e1-a29a6aa49f23.jpg)
Pada bulan Desember, para ilmuwan mengatakan pemanasan global telah membantu mengintensifkan topan Chino menjadi badai Kategori 4 saat bertabrakan langsung dengan Mayotte di Samudra Hindia.
Terletak di dekat Madagaskar di lepas pantai Afrika tenggara, Mayotte adalah wilayah termiskin di Perancis. Mayotte secara resmi memiliki 320.000 penduduk. Akibat badai, hampir seluruh layanan dasar di seluruh Mayotte hancur berantakan.
”Tragedi Mayotte mungkin merupakan bencana alam terburuk dalam beberapa abad terakhir dalam sejarah Perancis,” kata Perdana Menteri Francois Bayrou, seperti dilaporkan AFP.
Beberapa wilayah lebih basah karena perubahan iklim mengubah pola curah hujan, tetapi yang lain jadi lebih kering dan rentan kekeringan. Benua Amerika mengalami kekeringan parah pada 2024 dan kebakaran hutan membakar jutaan hektar di Amerika Serikat bagian barat, Kanada, dan lembah Amazon—yang biasanya merupakan salah satu tempat terbasah di Bumi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/7d0f78b1-542b-43ca-a746-a1c7583e41f7_jpg.jpg)
Antara Januari dan September, lebih dari 400.000 kebakaran tercatat di seluruh Amerika Selatan, menyelimuti benua itu dengan asap yang menyesakkan.
Program Pangan Dunia pada bulan Desember mengatakan, 26 juta orang di seluruh Afrika bagian selatan berisiko kelaparan karena kekeringan selama berbulan-bulan mengeringkan wilayah yang miskin itu.
Cuaca ekstrem menelan korban ribuan jiwa pada 2024 dan menyebabkan banyak orang lainnya hidup dalam kemiskinan yang parah. Kerugian yang ditimbulkan bencana tersebut tidak dapat dihitung.
Dalam hal kerugian ekonomi, perusahaan reasuransi Swiss Re yang berkantor pusat di Zurich memperkirakan kerugian global mencapai 310 miliar dollar AS, sebuah pernyataan yang dikeluarkan awal Desember.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/07/02/20210702-TCJ-Gelombang-Panas-mumed_1625212408.png)
Banjir di Eropa—terutama di provinsi Valencia di Spanyol, tempat lebih dari 200 orang meninggal pada bulan Oktober—dan badai Helene dan Milton meningkatkan kerugian, kata perusahaan tersebut.
Hingga 1 November, Amerika Serikat telah mengalami 24 bencana cuaca pada tahun 2024 dengan kerugian masing-masing melebihi 1 miliar dollar AS.
Kekeringan di Brasil merugikan sektor pertanian senilai 2,7 miliar dollar AS antara Juni dan Agustus, sementara ”tantangan iklim” mendorong produksi anggur global ke level terendah sejak 1961, kata sebuah badan industri.
Deretan bencana yang terjadi global dengan kerugian dan korban jiwa yang cenderung meningkat ini menjadi alarm nyata bahwa perubahan iklim karena ulah manusia semakin berbahaya.
Dampak pembakaran bahan bakar fosil yang memicu emisi gas rumah kaca itu tergambar jelas pada 2024. Kita kini hidup di era baru yang berbahaya dan bakal lebih berbahaya di tahun-tahun mendatang.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan