Bulog mengemban tugas berat dalam beberapa waktu ke depan, yakni menyerap gabah dan beras dalam negeri sebanyak 3 juta ton setara beras.
08 Feb 2025 16:32 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menunjuk Mayor Jenderal Novi Helmy Prasetya sebagai Direktur Utama Perum Bulog. Novi menggantikan Wahyu Suparyono yang sebelumnya menjabat sebagai direktur utama sejak 10 September 2024 atau menjabat tak sampai lima bulan lamanya.
Selain itu, Hendra Susanto juga ditunjuk sebagai Direktur Keuangan Bulog menggantikan Iryanto Hutagaol. Keputusan penggantian jabatan direksi Bulog tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-30/MBU/02/2025 tertanggal 7 Februari 2025. Sebelumnya, Novi menjabat sebagai Asisten Teritorial Panglima TNI. Adapun Hendra sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan.
Tak hanya jajaran direksi, jajaran dewan pengawas Bulog turut dirombak. Salah satunya adalah Wicipto Setiadi yang digantikan oleh Verdianto Iskandar Bitticaca, seorang purnawirawan Polri dengan jabatan terakhir sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/12/f2feb92e-68a8-4a3c-9205-451d3cde5d12_png.png)
Manajer Humas Bulog Andrew R Shahab saat dihubungi, Sabtu (8/2/2025), di Jakarta, membenarkan bahwa direktur utama Bulog saat ini dijabat perwira tinggi TNI aktif. Ditanya soal masa jabatan Novi sebagai direktur utama Bulog, ia tidak menjawab lugas.
”Untuk masa penugasan (sebagai direktur utama Bulog) ditentukan dan diatur sesuai penugasan dari Kementerian BUMN,” ujarnya.
Bulog mengemban tugas berat dalam beberapa waktu ke depan, yakni menyerap gabah dan beras dalam negeri sebanyak 3 juta ton setara beras. Untuk menjalankan tugas tersebut, pemerintah telah mengalokasikan dana Rp 16 triliun bagi Bulog. Dana untuk menyerap gabah dan beras itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 (Kompas.id, 8/2/2025).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengemukakan, dalam rapat koordinasi telah disepakati bahwa Bulog harus menyerap gabah dan beras sebanyak 3 juta ton setara beras hingga April 2025. Hal itu mengingat produksi beras nasional, terutama pada Januari-Maret 2025, meningkat signifikan dibandingkan dengan periode sama 2024.
”Bulog juga diwajibkan membeli gabah kering panen di tingkat petani sesuai harga pembelian pemerintah, yakni Rp 6.500 per kilogram. Ini guna menjaga stabilitas pangan nasional dan kesejahteraan petani, terutama saat panen raya,” katanya melalui siaran pers.
Penulis:
Aris PrasetyoEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan