Temani Zelenskyy, Para Pemimpin Eropa Beramai-ramai Datangi Trump

Berbeda dari lawatan Februari 2025 yang jadi bencana diplomasi, lawatan Agustus 2025 ke Gedung Putih tidak akan dihadiri Zelenskyy sendirian.

17 Agt 2025 18:47 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada, Iwan Santosa

BERLIN, MINGGU - Sejumlah pemimpin Eropa akan terbang ke Amerika Serikat. Mereka mendampingi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Presiden AS Donald Trump di Washington DC pada Senin (18/8/2025).

Kantor Kanselir Jerman pada Minggu mengumumkan, Kanselir Friedrich Merz akan terbang ke Washington DC bersama Zelenskyy. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga mengumumkan akan mendampingi Zelenskyy ke AS. Sejumlah pemimpin lain dari Eropa, kata von der Leyen, juga diminta Zelenskyy mendampingi ke Washington DC pada Senin ini.

“Atas permintaan Presiden Zelenskyy, saya akan bergabung dalam pertemuan dengan Presiden Trump dan para pemimpin lainnya di Gedung Putih besok,” kata Von der Leyen.

Presiden Perancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Italia Georgia Meloni, Presiden Finlandia Alexander Stubb, dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah mengumumkan kehadiran mereka.

Trump mengundang Zelenskyy kembali ke Gedung Putih untuk membahas perdamaian Rusia-Ukraina. Berbeda dari lawatan pada Februari 2025, lawatan kali ini tidak akan dihadiri Zelenskyy sendirian.

Lawatan Februari menjadi bencana diplomatik. Trump dan wakilnya, JD Vance, memarahi Zelenskyy dan menyebut Ukraina tak tahu terima kasih.

Perjalanan beramai-ramai ke Washington DC disebut guna menjamin Eropa punya suara dalam upaya perdamaian yang digalang Trump. Ini mengingat upaya membahas perdamaian di Ukraina antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak mengikutsertakan Zelenskyy.

“Pembahasan, yang juga akan dihadiri para pemimpin Eropa, bertujuan mendorong koordinasi antara Eropa dan AS, guna mencapai perdamaian yang adil dan abadi, yang melindungi kepentingan vital Ukraina dan Eropa,” demikian pernyataan Kantor Kepresidenan Perancis.

Pada Minggu sore waktu Brussels, para pemimpin Eropa menggelar telekonferensi video untuk membahas persiapan pertemuan dengan Trump. "Mereka akan memerincikan hal yang menurut mereka penting soal jaminan keamanan, apa yang dapat mereka lakukan sendiri, apa yang dapat dilakukan koalisi, dan apa yang diharapkan dari AS. Tentu saja, mereka berharap komitmen yang kokoh," kata seorang pejabat salah satu anggota Uni Eropa (UE) yang mempersiapkan pertemuan tersebut. Pejabat itu menolak identitasnya diungkap.

Presiden Donald Trump berjalan ke atas panggung bersama Presiden Rusia Vladimir Putin Jumat (15/8/2025), di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, Alaska.

Rencana pertemuan dengan Zelenskyy diumumkan Trump selepas bertemu Putin di Alaska. Dalam pertemuan pada Jumat, Trump-Putin gagal menyepakati gencatan senjata seperti diminta Ukraina dan Eropa.

Trump malah mengumumkan mendorong Rusia-Ukraina sekalian saja meneken perjanjian damai. "Gencatan senjata tidak akan bertahan lama," kata Trump.

Zelenskyy mengatakan, keengganan Rusia menghentikan pertempuran atau gencatan senjata merumitkan upaya bina damai. Penghentian pertempuran, kata Zelenskyy, adalah elemen pokok penghentian perang dan mencapai perdamaian langgeng serta adil bagi semua pihak.

“Jika Moskwa tidak memiliki kemauan untuk melaksanakan perintah sederhana guna menghentikan serangan, mungkin diperlukan upaya yang sangat besar untuk membuat Rusia memiliki kemanuan untuk menerapkan yang jauh lebih besar: hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara tetangganya selama beberapa dekade,” ujar Zelenskyy di media sosial.

Menjelang dan selepas pertemuan Alaska, Ukraina-Rusia terus baku serang pada Minggu. Moskwa mengklaim Ukraina menerbangan 300 pesawat nirawak ke arah Rusia. Sementara Ukraina menyebut, 60 pesawat nirawak serta beberapa rudal Rusia dijatuhkan ke wilayahnya.

Trump mendesak Kyiv segera berdamai dengan Moskwa. "Rusia kekuatan sangat besar dan mereka (Ukraina) bukan," kata Trump.

Protesters hold up Ukrainian flags outside Joint Base Elmendorf-Richardson during a meeting between US President Donald Trump and Russian President Vladimir Putin in Anchorage, Alaska, on August 15, 2025.  (Photo by Bastien INZAURRALDE / AFP)

Dalam telepon ke Zelenskyy, Trump mengatakan Putin setuju menjeda pertempuran di sebagian besar palagan bila Ukraina setuju memberi Donetsk ke Rusia. Rusia membidik kapasitas industi Donetsk. Bersama Donetsk, hingga 20 persen wilayah Ukraina diduduki Rusia sejak 2014.

Berdasarkan keterangan pejabat yang paham, dalam panggilan telepon dengan Zelenskyy dan para pemimpin Eropa, Trump menyatakan dukungan terhadap usulan Putin untuk mengambil alih kendali penuh atas dua wilayah Ukraina timur yang sebagian besar dikuasai Rusia. Imbalannya, pembekuan garis depan di dua wilayah lainnya.

Kepada kantor berita AFP, sumber itu menyebutkan, Putin secara de facto menuntut Ukraina meninggalkan Donbas. Donbas terdiri dari wilayah Donetsk dan Luhansk. Untuk penyerahan itu, pasukan Rusia akan menghentikan serangan di wilayah Kherson dan Zaporizhia di Ukraina selatan. Di kedua wilayah itu, kota-kota utama masih berada di bawah kendali Ukraina.

Dalam beberapa bulan setelah invasi skala penuh ke Ukraina pada September 2022, Rusia mengklaim telah mencaplok empat wilayah itu. Namun, pasukan Rusia belum sepenuhnya menguasai satu pun dari keempatnya.

Zelenskyy menolak setiap gagasan perdamaian yang mengharuskan Ukraina melepaskan wilayahnya. Para pemimpin Eropa berpendapat senada.

Eropa melunak

Namun, selepas pertemuan Trump-Putin, posisi Eropa agak mengendur. "Terserah Ukraina untuk membuat keputusan soal wilayahnya. Perbatasan internasional tidak boleh diubah paksa," demikian pernyataan para pemimpin Eropa selepas pertemuan Alaska.

Eropa siap mendukung pertemuan AS-Rusia-Ukraina atau AS-Ukraina. UE siap bekerja sama dengan AS.

Bagi PM Hongaria Viktor Orban, pertemuan Alaska membuat perdamaian semakin dekat. Sejak Rusia menyerbu Ukraina, Hongaria mempertahankan posisi lebih dekat ke Rusia dibanding mitranya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa. Berulang kali Hongaria menolak menyetujui sanksi UE ke Rusia.

Sementara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menelepon Menlu Hongaria Peter Szijjarto dan Menlu Turki Hakan Fidan selepas pertemuan Alaska. Hongaria, kata Szijjarto, berharap perdamain segera tercapai setelah perang hampir empat tahun.

"Resolusi konflik yang tahan lama merupakan kepentingan kami. Demikian pula kedamaian dan keamanan di Eropa Tengah," kata dia selepas menerima telepon Lavrov.

Fidan juga mendapat penjelasan dari Lavrov soal Alaska. Sejak Rusia menyerbu Ukraian, Turki beberapa kali memediasi. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada, Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase