Eropa Ingin Senjata Nuklir, Sementara Iran Dilarang Punya Nuklir

Polandia, Lithuania, dan Latvia menyambut baik usul pemanfaatan senjata nuklir Perancis. Sementara itu, AS ingin melucuti nuklir Iran dengan ancaman aksi militer.

08 Mar 2025 10:15 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

BRUSSELS, SABTU - Di tengah kekhawatiran Eropa atas pergerakan Amerika Serikat, Polandia dan negara-negara Baltik menyambut baik usulan Presiden Perancis Emmanuel Macron agar Perancis menjadi payung nuklir Eropa. Sementara itu, Iran mendapat tekanan untuk melepaskan program nuklirnya.

Menurut The New York Times, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan, perubahan besar geopolitik AS telah menempatkan Polandia serta Ukraina dalam situasi yang secara obyektif lebih sulit. Alhasil, Polandia harus secara drastis meningkatkan ukuran militer dan membuka peluang terkait senjata nuklir. 

”Sudah waktunya bagi kita untuk melihat dengan berani kemungkinan kita memiliki senjata paling modern,” kata Tusk dalam pidato tentang keamanan di Parlemen Polandia, walau tidak secara eksplisit mengusulkan pengembangan senjata nuklir, Jumat (7/3/2025).

Tusk menambahkan, Polandia berbicara dengan Perancis tentang potensi memperluas payung nuklir Perancis ke negara-negara Eropa. Perancis merupakan satu-satunya anggota Uni Eropa dengan kekuatan nuklir di luar Inggris dan Rusia.

Sehari sebelumnya, dalam pertemuan di Brussels, Tusk telah menyatakan, Uni Eropa (UE) harus mempertimbangkan usulan Perancis secara serius. Polandia sekarang memegang jabatan presiden bergilir UE. ”Seperti biasa, detailnya penting, tetapi kesediaan Perancis dalam hal ini sangat signifikan,” ujarnya.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk (tengah) menyampaikan pidato di depan parlemen tentang situasi di Ukraina, Warsawa, Polandia, Jumat (7/3/2025).

Negara-negara Baltik juga berminat atas tawaran Macron. Mereka mendorong lebih banyak pengeluaran pertahanan oleh negara-negara UE untuk menghindari agresi Rusia di masa depan.

Presiden Lithuania Gitanas Nausėda memuji usulan tersebut sebagai ide yang sangat menarik. ”Kami memiliki harapan yang tinggi karena payung nuklir akan berfungsi sebagai pencegahan yang sangat serius terhadap Rusia,” katanya.

Perdana Menteri Latvia Evika Siliņa menyebut proposal Perancis sebagai ”kesempatan untuk berdiskusi”. Menurut dia, memerlukan lebih banyak waktu untuk berbicara dengan sekutu Eropa lainnya pada tingkat domestik.

Rusia dan AS adalah negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia, masing-masing mempunyai lebih dari 5.000 hulu ledak nuklir. China memiliki sekitar 500 hulu ledak nuklir, Perancis memiliki 290 hulu ledak nuklir, dan Inggris memiliki 225 hulu ledak nuklir, menurut Federasi Ilmuwan Amerika.

Selama bertahun-tahun, penangkal nuklir bagi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO berasal dari AS. Ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak negara Eropa tidak mengembangkan senjata nuklir sendiri. Namun, Presiden AS Donald Trump belakangan menunjukkan keraguan pada NATO serta keberpihakan pada Rusia terkait perang Ukraina-Rusia.

Meskipun Perancis juga adalah anggota NATO, kekuatan nuklirnya bukan bagian dari struktur komando militer aliansi tersebut. Senjata nuklir Perancis hanya akan digunakan dalam situasi pertahanan diri yang ekstrem sehingga penempatan senjata di luar negeri dilarang.

A boy looks at a fragment of the Russian missile sitting atop the displayed damaged Russian tank in central Kyiv, Ukraine, Sunday, March 2, 2025. (AP Photo/Efrem Lukatsky)

Situasi Polandia dan Inggris

Polandia merupakan penanda tangan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT). Perjanjian ini melarang negara-negara yang selain lima kekuatan nuklir yang dideklarasikan tahun 1970 untuk memperoleh senjata atom.

Sementara itu, Israel, India, dan Pakistan tidak pernah ikut dalam perjanjian tersebut. Korea Utara juga kemudian menarik diri dari NPT. Negara-negara ini lantas mengembangkan senjata nuklir sendiri.

Polandia sebetulnya memiliki sejarah dengan nuklir, termasuk lewat kehadiran sejumlah tokoh, seperti Marie Sklodowska-Curie dan Stanislaw Ulam. Saat ini, Polandia adalah salah satu negara dengan pengeluaran pertahanan terbesar di Eropa, yaitu sekitar 4 persen dari produk domestik bruto pada 2024. Jumlah ini dua kali lipat dari minimum 2 persen yang ditetapkan oleh NATO. 

”Polandia tidak akan menerima filosofi bahwa kami lemah dan tidak berdaya, bahwa jika Presiden Trump memutuskan untuk mengubah kebijakannya, kami tidak punya peluang,” kata Tusk.

Eropa memiliki sarana untuk mempertahankan diri, tetapi perlu menghilangkan satu hal. ”Yaitu kurangnya keinginan untuk bertindak, ketidakpastian, dan, terkadang, bahkan kepengecutan,” ucap Tusk.

An ASRAAM missile is seen on the back of a truck at RAF Northolt on March 6, 2025 in Ruislip, west of London. Britain's Chancellor of the Exchequer Rachel Reeves met with UK defence suppliers to Ukraine. Ukraine's armed forces will receive more advanced attack drones for its fight against Russia after the UK and an Anglo-US manufacturer sealed a £30 million ($38.7 million) deal, London said Thursday. (Photo by Dan Kitwood / POOL / AFP)

Adapun Inggris merupakan negara Eropa lain dengan senjata nuklir. Meski Inggris bukan lagi anggota UE, negara ini menunjukkan komitmen untuk membantu Eropa sebagai upaya untuk memulihkan hubungan dengan blok tersebut.

”Dalam hal memperluas penangkal nuklir kami atau menggunakannya untuk melindungi negara-negara Eropa lainnya, kami sudah melakukannya. Inggris telah menyerahkan kekuatan nuklirnya kepada NATO, membantu menjaga keamanan Eropa di kawasan Euro-Atlantik,” ujar Tom Wells, Juru Bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Nuklir Iran

Pada Jumat (7/3/2025), Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menulis surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ia mendesak perundingan soal senjata nuklir di negara tersebut.

”Saya telah menulis surat kepada mereka, yang mengatakan saya harap Anda akan bernegosiasi karena jika kita harus menggunakan kekuatan militer, itu akan menjadi hal yang mengerikan bagi mereka. Anda tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” tutur Trump kepada Fox Business.

Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York mengatakan kepada AFP, mereka belum menerima surat semacam itu. Tidak jelas dengan cara apa surat Trump itu dikirim ke Teheran.

infografik Negara dengan Pemilikan Senjata Nuklir Tahun 2022

Pada 2015, Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) berlaku untuk membatasi pengembangan program nuklir Iran. Sebagai gantinya, Iran mendapat keringan sanksi. Pada 2018, JCPOA mulai berakhir setelah AS mundur di era Trump dan menerapkan kembali sanksi besar atas Iran. Setahun kemudian, Iran mencabut komitmen pada JCPOA.

Sejak itu, Iran berhati-hati atas langkah diplomasi AS. ”Kami tidak akan bernegosiasi langsung dengan AS selama mereka melanjutkan kebijakan tekanan maksimum dan ancaman mereka,” ucap Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Ia tidak menanggapi surat Trump secara langsung. Araghchi adalah negosiator utama JCPOA.

Berbicara di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam di Arab Saudi, Araghchi juga memperingatkan bahwa program nuklir Iran tidak dapat dihancurkan melalui operasi militer. ”Ini adalah teknologi yang telah kami capai, dan teknologinya ada di otak dan tidak dapat dibom,” kata Araghchi.

Iran secara konsisten membantah klaim bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir. Bulan lalu, Kepala Badan Atom PBB Rafael Grossi mengatakan, Iran memperkaya uranium hingga 60 persen atau hampir setara dengan level senjata.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada