Eropa Suka, Rusia Murka soal Nuklir Perancis

Rusia menilai pidato Macron agar Perancis menjadi payung nuklir Eropa sebagai ancaman. Perancis memiliki 290 hulu ledak nuklir, terbesar keempat di dunia.

07 Mar 2025 11:20 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

MOSKWA, JUMAT — Rusia marah besar dengan tawaran Presiden Perancis Emmanuel Macron. Sebaliknya, sebagian anggota Uni Eropa suka dengan tawaran Macron soal perlindungan senjata nuklir bagi Eropa.

Rusia menyebut Macron terkena waham Napoleon. Sebutan itu merujuk pada Kaisar Napoleon yang memimpin Perancis menundukkan sejumlah kerajaan di Eropa pada abad ke-19. Pasukan itu gagal menundukkan Rusia pada 1812.

”Beberapa orang tetap belum bisa menerima itu. Beberapa orang ingin kembali ke era Napoleon. Akan tetapi, mereka lupa bagaimana itu berakhir,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (6/3/2025) malam waktu Moskwa atau Jumat dini hari WIB.

Pernyataan disampaikan sehari selepas Macron menawarkan payung nuklir Perancis untuk Eropa. Perancis salah satu dari anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang punya bom nuklir. ”Saya memutuskan membuka pembicaraan strategis tentang perlindungan dengan penggentar bagi sekutu di Benua Eropa,” ujar Macron dalam siaran langsung di media sosial pada Rabu malam.

Quote

AS, sekutu kita, telah mengubah posisi dalam perang ini, kurang mendukung Ukraina dan meragukan apa yang terjadi kelak.

Ia menggunakan istilah yang lazim dipakai untuk menyebut senjata nuklir. Mengacu data The Federation of American Scientists (FAS), yang memantau cadangan senjata nuklir berbagai negara, Perancis punya setidaknya 290 hulu ledak nuklir.

infografik Negara dengan Pemilikan Senjata Nuklir Tahun 2022

Hingga 80 persen hulu ledak nuklir Perancis terpasang di kapal selam bertenaga nuklir. Sisanya siap diluncurkan dari lumbung di darat atau pesawat pengebom jarak jauh. ”Penggentar nuklir melindungi kita, keutuhannya, kedaulatan, Perancis. Ini melindungi kita lebih dibandingkan banyak tetangga kita,” lanjut Macron.

Pernyataan disampaikan terkait perubahan sikap Amerika Serikat soal perang Ukraina dan persekutuan militer dengan Eropa. Di bawah Donald Trump, AS cenderung mau mengakhiri dukungan bagi Ukraina menghadapi pendudukan Rusia. AS juga kembali menunjukkan keberatan menyediakan payung militer bagi Eropa.

”AS, sekutu kita, telah mengubah posisi dalam perang ini, kurang mendukung Ukraina dan meragukan apa yang terjadi kelak. Saya ingin meyakini Amerika Serikat tetap di pihak kita. Walakin, kita perlu bersiap jika hal itu tak terjadi,” lanjut Macron.

Mendorong perang

Juru Bicara Kantor Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov menyebut, pernyataan Macron sangat bermusuhan. Ia menyebut Paris sepertinya sedang mempertimbangkan perang.

Sementara Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut, pernyataan Macron mengancam Rusia. ”Kalau dia menganggap kami sebagai ancaman dan meminta pertemuan para kepala staf (militer) Eropa serta Inggris, menyebut penting menggunakan senjata nuklir melawan Rusia, jelas ini ancaman,” ujarnya.

Ia juga menyebut Macron lebih buruk dari Napoleon dan Adolf Hitler. ”Tidak seperti para pendahulu mereka, yang juga ingin berperang melawan Rusia, Napoleon, Hitler, Tuan Macron tidak bertindak dengan sangat anggun karena setidaknya mereka mengatakannya secara terus terang: ’Kita harus menaklukkan Rusia, kita harus mengalahkan Rusia’,” lanjut Lavrov.

In this pool photograph distributed by Russian state agency Sputnik, the Tupolev Tu-160M "Ilya Muromets" strategic bomber takes off from the runway of an aircraft manufacturer in Kazan on February 22, 2024. (Photo by Dmitry AZAROV / POOL / AFP) *** Local Caption *** Dalam foto yang didistribusikan lembaga negara Rusia Sputnik, pesawat pengebom strategis Tupolev Tu-160M "Ilya Muromets" lepas landas dari landasan pacu pabrik pesawat di Kazan, Rusia, pada 22 Februari 2024.

Kepala Biro Analisis Politik dan Militer Rusia Alexander Mikhailov meragukan Perancis bisa menyediakan payung nuklir bagi Eropa. ”Perancis punya industri militer paling kuat di Eropa. Menghasilkan beragam senjata, mulai dari senjata ringan sampai rudal untuk kapal selam. Akan tetapi, penting memahami bahwa selama masih menjadi bagian NATO, Perancis bahkan tak punya kewenangan mengelola cadangan senjata nuklirnya tanpa koordinasi dengan Washington,” ujarnya.

Sementara Juru Bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova menyebut, Macron mungkin ingin bantuan untuk mengukur kekuatan militernya yang sebenarnya. Pidato Macron dinilai berisi ”catatan pemerasan nuklir” dan merupakan ancaman yang ditujukan kepada Rusia.

”Ambisi Paris untuk menjadi ’pelindung’ nuklir seluruh Eropa telah muncul ke permukaan dengan menyediakan ’payung nuklir’ sendiri, hampir untuk menggantikan payung Amerika. Sudah jelas, ini tidak akan memperkuat keamanan Perancis sendiri atau sekutunya,” katanya.

Foto yang diambil dari rekaman video Kementerian Pertahanan Rusia, Rabu 926/10/2022) memperlihatkan peluncuran rudal penjelajah antarbenua (ICBM) Yars di Plesetsk, Rusia. Di tengah suasana perang, Rusia melakukan latihan dengan menggunakan rudal jelajah antarbenua yang bisa membawa hulu ledak nuklir. (Russian Defense Ministry Press Service via AP)

Eropa suka

Sementara itu, sebagian pemimpin Eropa suka dengan gagasan Macron. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan, anggota UE perlu membahas gagasan Macron. ”Semua gagasan bagus perlu jadi bagian pembahasan kita,” ujarnya.

PM Polandia Donald Tusk juga menyebut, gagasan itu harus amat dipertimbangkan UE ataupun NATO. ”Perincian penting, tetapi kemauan Perancis dalam perkara ini paling penting,” katanya.

Polandia menjadi lokasi transit utama pengiriman senjata dan aneka bantuan untuk Ukraina. Kala Napoleon menyerbu Rusia pada 1812, sebanyak 100.000 tentara Polandia membantu Perancis.

Sementara PM Latvia Evika Siliņa menyebut usulan Macron sebagai kesempatan untuk berunding. Di sisi lain, ia juga menyebut perlu waktu membahas gagasan itu di tingkat nasional ataupun regional.

Adapun Presiden Lituania Gitanas Nausėda menyebut tawaran Macron sebagai gagasan amat menarik. ”Kami amat berharap karena payung nuklir akan menjadi penggentar serius terhadap Rusia,” ujarnya.

Calon Kanselir Jerman Friedrich Merz malah lebih dulu menggagas payung nuklir oleh Perancis untuk UE. Kini, Jerman menjadi pangkalan sebagian rudal nuklir AS. Rudal itu bagian dari sistem pertahanan NATO di Eropa.

Infografik Sejumlah Pengangkut Hulu Ledak Nuklir di Dunia

Bedah kekuatan

Rusia dan AS adalah negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia, yaitu masing-masing mempunyai lebih dari 5.000 hulu ledak nuklir. China memiliki sekitar 500 hulu ledak nuklir, Perancis memiliki 290 hulu ledak nuklir, dan Inggris memiliki 225 hulu ledak nuklir.

Selama puluhan tahun, senjata nuklir utama Eropa berasal dari AS yang menjadi simbol solidaritas trans-Atlantik. AS memiliki senjata nuklir di Eropa dan menempatkan puluhan ribu tentara di pangkalan-pangkalan benua itu. Ditambah lagi, AS menyediakan beberapa kemampuan militer yang tidak dapat ditandingi Eropa, seperti pengisian bahan bakar di udara.

Kesepakatan penangkalan nuklir tersebut tertera dalam perjanjian pertahanan kolektif NATO Pasal V. Kesepakatan ini diperkuat selama beberapa dekade oleh politisi AS. Akan tetapi, jaminan bahwa senjata nuklir adalah bagian inti dari strategi penangkalan aliansi tidak mengikat secara hukum.

Perancis adalah satu-satunya negara dengan senjata nuklir di Uni Eropa. Negara dengan senjata nuklir keempat terbesar di dunia ini menghabiskan sekitar 5,6 miliar euro (atau setara Rp 98,92 triliun) setiap tahun untuk pemeliharaan persediaan 290 senjata nuklir yang dapat diluncurkan dari kapal selam dan udara.

Perancis menghabiskan sekitar 15 persen dari anggaran pertahanan tahunan untuk memodernisasi kemampuan nuklirnya. Tidak seperti Inggris yang teknologinya dikabarkan bergantung kepada AS, senjata nuklir Perancis beroperasi secara independen.

Doktrin nuklir Perancis bersifat defensif. Artinya, senjata dirancang untuk menghalangi calon agresor sembari mengusung ancaman kuat dan melindungi kepentingan vital negara. Dengan demikian, senjata nuklir Perancis hanya akan digunakan dalam situasi pertahanan diri yang ekstrem. Penempatan senjata nuklir di luar negeri dilarang.

Presiden Perancis Emmanuel Macron berbicara kepada media selama konferensi pers di akhir Dewan Khusus Eropa untuk membahas dukungan berkelanjutan bagi Ukraina dan pertahanan Eropa di markas besar UE di Brussels, Belgia, Kamis (6/3/2025). Para pemimpin Uni Eropa mengadakan pembicaraan darurat di Brussels saat pemerintahan Trump membatalkan aliansi tradisional dan menarik kembali dukungan masa perang terhadap Ukraina. KTT tersebut mempertemukan semua 27 pemimpin UE untuk pertama kalinya sejak pertemuan AS-Ukraina pada 28 Februari 2025.

Seperti presiden-presiden Perancis pendahulu, Macron turut menolak untuk menempatkan pencegah nuklir Perancis di bawah komando UE atau NATO. Ia menegaskan posisi itu dalam pidato pada Rabu.

Tidak seperti AS, Perancis tidak menawarkan komitmen jangka panjang untuk mencegah atau menanggapi ancaman nuklir atau non-nuklir terhadap sekutu untuk membela mereka. Perancis juga hanya memiliki sebagian kecil senjata nuklir udara ketimbang yang dimiliki AS.

Setiap peningkatan sistem nuklir akan memakan ongkos dan memerlukan perubahan logistik serta operasional yang signifikan. Padahal, pemerintah sudah terbebani secara finansial.

Menurut para ahli, Perancis memerlukan waktu hingga satu dekade untuk meningkatkan persenjataannya hanya dengan 100 hulu ledak. ”Dalam situasi saat ini, kekuatan nuklir Perancis dan Inggris merupakan pelengkap bagi penangkalan jangka panjang AS, tetapi mereka tidak akan menjadi solusi yang layak jika terjadi penarikan tiba-tiba kekuatan nuklir AS. Perancis dan Inggris tidak memberikan jaminan pencegahan yang diperluas sebagaimana yang dilakukan AS di NATO,” demikian pernyataan CSIS Washington.

Sejauh ini, belum ada usulan untuk mengganti infrastruktur nuklir AS secara serentak. Para pengamat mengatakan, negara sekutu dapat diintegrasikan ke dalam latihan dan pelatihan nuklir Perancis melalui penyediaan pengawalan udara serta pengembangan pasokan dan dukungan logistik. Ini bertujuan untuk menciptakan tingkat interoperabilitas. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .