TIMUR TENGAH

AS Kembali Blokade Selat Hormuz, Houthi dan Arab Saudi Saling Serang

Ketegangan di kawasan Teluk meningkat. Iran akan melawan campur tangan AS di Selat Hormuz. Distribusi minyak global yang berangsur pulih kembali terancam.

14 Jul 2026 08:45 WIB · Internasional

AP Photo/Razieh Poudat

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

WASHINGTON, SELASA — Amerika Serikat mengumumkan memblokade Selat Hormuz lagi. Sebaliknya, Iran menegaskan akan mempertahankan kendalinya di jalur vital energi global itu. Sementara Houthi, sekutu Iran di Yaman, saling serang dengan Arab Saudi. Kondisi ini membuat situasi di kawasan Teluk kembali runyam.  

Memanasnya kawasan Teluk membuat masa depan perundingan damai AS-Iran di ujung tanduk. AS baru saja mengumumkan putaran serangan baru terhadap Iran, Senin (13/7/2026). Selat Hormuz yang mengalirkan seperlima minyak mentah dunia masih menjadi titik krusial konflik tersebut.

”Serangan ini akan terus menimbulkan kerugian besar bagi pasukan Iran dan mengurangi kemampuan mereka untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah dan pengiriman komersial di Selat Hormuz,” tulis pernyataan Komando Tengah AS (Centcom).

Presiden AS Donald Trump mengatakan, militer AS telah menyerang Iran dengan sangat keras. Ini menjadi serangan ketiga berturut-turut. Ia menegaskan serangan itu akan terus berlanjut.

Cuplikan layar ini diambil dari rekaman video yang dibagikan oleh Komando Tengah AS di platform media sosial X dan tersedia melalui AFPTV pada 13 Juli 2026 yang diduga menunjukkan serangan AS terhadap instalasi militer Iran.

”Kami melumpuhkan semua kemampuan ofensif mereka dan kami mengendalikan selat tersebut (Hormuz). Kami memberlakukan kembali blokade,” ujar Trump.

Trump memberitahukan perubahan kebijakan AS di Selat Hormuz. Ia berencana mengenakan biaya tol untuk kapal yang melewati selat tersebut. Padahal, sebelumnya, ia menyatakan tidak akan melakukannya.

”Kami melindungi bagian dunia yang sangat kaya. Kami mengeluarkan uang. Jadi, apa yang telah kami lakukan adalah kami akan mendapatkan penggantian biaya perlindungan,” katanya.

Sejak perang berkobar pada 28 Februari 2026, distribusi minyak melalui Selat Hormuz tersendat. Iran memblokade selat itu sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Infografik Selat Hormuz yang Strategis
Infografik AFP aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Kebijakan tarif tol di Selat Hormuz telah mengancam kebebasan navigasi dan meningkatkan ketegangan. Hal ini kemungkinan besar menyebabkan gangguan ekonomi lebih lanjut yang berdampak lebih luas secara global.

Harga minyak mentah Brent yang menjadi standar internasional naik 7,8 persen menjadi 81,92 dolar AS per barel. Kenaikan itu masih jauh di bawah harga tertinggi selama Perang Iran yang hampir mencapai 120 dolar AS per barel.

Trump juga telah mengirimkan pemberitahuan resmi kepada Kongres AS bahwa Perang Iran telah kembali berkobar. ”Saya mengarahkan tindakan militer ini sesuai dengan tanggung jawab saya untuk melindungi warga AS dan keamanan nasional serta kepentingan kebijakan luar negeri AS,” tulis Trump dalam surat tertanggal 10 Juli 2026 yang dilihat oleh Reuters, Senin.

Surat tersebut menguraikan tindakan Trump, termasuk memerintahkan gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April 2026, yang kemudian diperpanjang. Ada juga keterangan terkait upaya untuk mencapai solusi diplomatik terhadap konflik tersebut.

Quote

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia menyatakan, angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan campur tangan AS dalam pengelolaan Selat Hormuz. Intervensi AS yang berulang kali di jalur perairan strategis tersebut telah membahayakan keamanan regional, perdagangan internasional, dan navigasi maritim.

Trump pun menjelaskan nota kesepahaman (MOU) terkait kesepakatan damai sementara AS-Iran yang ditandatanginya pada 17 Juni lalu. Ia mengklaim Iran telah melanggarnya, salah satunya dengan menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Hal itu mendorongnya untuk memerintahkan serangan baru terhadap Iran.

Iran tegakkan kedaulatan

Menanggapi langkah Trump, Iran akan melawan intervensi AS di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengejek Trump di media sosial terkait rencana AS mengenakan pungutan di selat itu. Rencana ini dianggap melegitimasi posisi Iran yang memegang kendali di jalur perairan tersebut.

”Presiden AS benar sekali. Siapa pun yang menyediakan jalur aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz harus diberi kompensasi atas layanan ini. Iran selalu menjadi penjaga selat dan akan tetap demikian selamanya,” ujarnya.

APTOPIX Iran War Strait of Hormuz

Dilansir dari media Iran, Tasnim, juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Mohebbi menyebutkan, campur tangan AS di Selat Hormuz telah menempatkan keamanan pasokan minyak dan gas dunia dalam bahaya serius. AS akan diminta pertanggungjawaban atas konsekuensi yang ditimbulkan.

”Kami akan terus menjalankan kedaulatan dan pengelolaan atas Selat Hormuz dengan kekuatan dan tekad penuh. Kami akan memaksa pihak asing dan sekutu mereka untuk tunduk pada kehendak bangsa Iran,” katanya.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia menyatakan, angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan campur tangan AS dalam pengelolaan Selat Hormuz. Intervensi AS yang berulang kali di jalur perairan strategis tersebut telah membahayakan keamanan regional, perdagangan internasional, dan navigasi maritim.

”Setiap dukungan logistik yang diberikan kepada pasukan AS akan dianggap sebagai tindakan melawan kedaulatan dan keamanan nasional Iran. AS serta mitra regionalnya bertanggung jawab atas setiap penurunan keamanan lebih lanjut atau perluasan konflik,” tulis pernyataan itu.

This picture shows ships sailing near the Strait of Hormuz off the eastern coast of the United Arab Emirates at Khor Fakkan on July 13, 2026. The United States is "taking over" the Strait of Hormuz and will be paid for protecting it, US President Donald Trump declared on July 13, as Washington and Tehran once again fought over the vital waterway. (Photo by AFP) /
Dalam gambar yang diperoleh dari kantor berita ISNA Iran pada 18 Juni 2026, terlihat kapal-kapal berlabuh di Bandar Abbas di sepanjang Selat Hormuz.

Houthi balas serangan Arab Saudi

Dampak meningkatnya ketegangan AS-Iran telah meluas. Houthi, proksi Iran di Yaman, melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Abha di Arab Saudi, Senin. Belum ada laporan korban jiwa dalam serangan tersebut.

Houthi menyatakan, serangan itu merupakan balasan atas serangan udara Arab Saudi ke Bandara Internasional Sanaa sehari sebelumnya. Arab Saudi belum berkomentar terkait tuduhan ini.

Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak terbang melalui wilayah udara Arab Saudi. Ia mengatakan, peringatan itu harus ditanggapi dengan serius sampai blokade di Bandara Internasional Sanaa dicabut.

”Sebagai tanggapan atas agresi kriminal Arab Saudi ini, Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer yang menargetkan Bandara Internasional Abha menggunakan sejumlah rudal balistik dan pesawat tanpa awak,” kata Saree.

APTOPIX Yemen Mideast Wars

Pada Senin sore, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat membahas situasi di Yaman. Para pejabat di dewan itu prihatin tentang risiko eskalasi yang lebih luas.

”Yaman dan kawasan yang lebih luas tidak mampu menanggung siklus eskalasi lain. Kami menyerukan kepada semua aktor untuk terlibat secara konstruktif dalam negosiasi di bawah naungan PBB,” kata Asisten Sekretaris Jenderal PBB Khaled Khiari.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal tanker nasional menjadi sasaran dua rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz di perairan teritorial Oman. Serangan ini menewaskan satu awak kapal berkebangsaan India dan melukai delapan awak lainnya. (REUTERS/AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul