Iran menyerang pangkalan militer di Suriah, sementara AS menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
20 Jul 2026 10:00 WIB · Internasional
KOMPAS/HARRY SUSILO
TEHERAN, SENIN — Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran kini merambat luas di Timur Tengah, termasuk ke Suriah. Kedua pihak terus melancarkan serangan balasan ke target-target vital yang memberikan dampak berbahaya pada kawasan.
Selain negara-negara Teluk, cakupan serangan balasan Iran terus meluas di kawasan Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Senin (20/7/2026), menyatakan, telah meluncurkan serangan mendadak terhadap pusat komando ”musuh” di Suriah.
”Serangan mendadak berlangsung terhadap pusat komando operasi khusus musuh di wilayah Al-Tanf, Suriah, sebagai pembalasan atas prajurit di Iranshahr yang gugur,” bunyi pernyataan kantor berita IRNA di Telegram.
Menurut IRGC, militer Iran telah menyerang pangkalan Al-Tanf, dekat perbatasan Suriah dengan Jordania dan Irak pada pada Jumat (17/7/2026). Pangkalan ini dikuasai tentara Suriah pada Februari 2026 setelah AS menarik diri. Namun, sumber militer Suriah kemudian membantah bahwa ada serangan yang terjadi.
Serangan itu disebut untuk membalas kematian personel militer yang tewas akibat serangan AS terhadap barak di Iranshahr, Provinsi Sistan dan Baluchestan, bagian tenggara Iran. Kantor berita Tasnim melaporkan, Minggu (19/7/2026), pemakaman untuk tiga tentara telah berlangsung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/19/1b12fad5-e4bc-4e51-9a0f-1267e44bf01c_jpg.jpg)
Pada saat yang bersamaan, Iran terus melancarkan serangan balasan terhadap sekutu-sekutu AS di Teluk. Kementerian Dalam Negeri Bahrain, menyatakan, sirene serangan udara di negara itu berbunyi pada Minggu malam hingga Senin. Pelabuhan Salman di Bahrain menjadi kantor pusat Armada Kelima AS.
”Sirene telah dibunyikan. Warga dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan menuju ke tempat aman terdekat,” tulis Kemendagri Bahrain di X.
Bahrain bersama negara-negara Teluk lain dan Jordania menjadi sasaran serangan balasan Iran sejak permusuhan AS-Iran dimulai kembali pada Juli 2026. AS-Iran sudah saling menyerang selama lebih dari sepekan terakhir meski kedua pihak sudah menandatangani kesepakatan perdamaian sementara melalui mediasi Pakistan, Juni lalu.
Militer Kuwait pada Senin mengatakan, pertahanan udaranya sedang menghadapi serangan pesawat nirawak. ”Staf Umum Angkatan Darat mencatat bahwa setiap ledakan yang terdengar adalah akibat dari sistem pertahanan udara yang mencegat serangan musuh,” kata AD Kuwait dalam unggahan di X.
Baik Bahrain maupun Kuwait mengecam serangan Iran karena dianggap melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817. Manama dan Kuwait City menuduh Teheran berulang kali menargetkan warga dan fasilitas sipil vital dalam serangannya, seperti fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air.
Peningkatan serangan tersebut terjadi setelah Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Minggu, mengklaim AS menyerang sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). AEOI mengecam serangan tersebut karena dinilai melanggar hukum internasional, menurut kantor berita Mehr.
”Pasukan AS, dalam tindakan agresif yang bertentangan dengan hukum internasional, menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir Darkhovin yang sedang dibangun. Serangan menggunakan sejumlah proyektil pada hari Minggu,” kata AEOI dalam pernyataan di televisi pemerintah.
AEOI tidak menyebut kapan serangan terjadi. PLTN Darkhovin terletak di Provinsi Khuzestan, bagian barat daya Iran. Fasilitas ini sedang dalam tahap awal pembangunan sejak 2022.
Tehran Times melaporkan, AEOI menyebutkan serangan AS tersebut adalah bagian dari rangkaian serangan yang lebih luas yang menyasar berbagai fasilitas nuklir Iran. Padahal, program nuklir Teheran disebut bersifat damai, termasuk PLTN Darkhovin yang menjadi simbol kemandirian ilmiah negara itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/b67db746-8b1e-4c05-941f-f714b36504a1.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/09/8fece16a7cecb74c7e944b3dfb3a7669-20260709_DMS_Program_Nuklir_Iran_1_mumed.png)
Serangan AS terhadap Iran juga berlangsung secara intensif selama beberapa hari terakhir. Komando Tengah AS (Centcom) melancarkan serangan udara baru pada Minggu setelah dua personel militer AS tewas dan satu personel hilang dalam serangan Iran di Jordania, Jumat lalu.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan pihaknya sedang menyelidiki laporan tentang serangan di PLTN Darkhovin. ”Karena baru dibangun, fasilitas itu tidak mengandung material nuklir saat terakhir kali diperiksa,” ujar badan pengawas nuklir PBB tersebut.
”Meskipun insiden tersebut diyakini tidak menimbulkan risiko radiologis apa pun, semua pihak yang berseteru perlu menahan diri secara militer di sekitar semua lokasi terkait nuklir,” tutur Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi.
Program nuklir Iran telah menjadi salah satu poin utama perselisihan Teheran dengan negara-negara Barat. AS, Israel, dan negara lainnya menduga Iran berupaya membuat senjata nuklir. Pembahasan tentang pembatasan program ini masuk dalam negosiasi AS-Iran yang tak kunjung menunjukkan hasil positif.
AS memulai putaran serangan udara baru terhadap Iran pada Senin pagi. Serangan Washington kini memasuki malam kesembilan berturut-turut. Serangan ini terjadi setelah militer AS mengumumkan kematian personel AS lainnya di Irak akibat serangan pesawat nirawak Iran, Sabtu.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, serangan militer terbaru AS terhadap Iran bertujuan untuk menghormati personel yang gugur dalam beberapa hari terakhir. Ia juga menyatakan duka atas kematian mereka.
”Kami menyerang Iran dengan sangat keras lagi malam ini dan kami melakukannya untuk menghormati tiga patriot hebat,” kata Trump kepada wartawan saat ia kembali ke Washington setelah final Piala Dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/20/89964e05-958e-4ca2-99ec-6815117dd0c4_jpg.jpg)
Selama saling serang berlangsung, AS terus menyasar berbagai fasilitas sipil Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik. ”Serangan-serangan tersebut akan terus melemahkan kemampuan militer Iran untuk menyerang kapal-kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz,” bunyi pernyataan Centcom.
Saat serangan AS dimulai, sebuah kapal terbakar di Selat Hormuz, dekat garis pantai Oman, Senin pagi. Menurut militer Inggris, tidak jelas apa yang memicu kebakaran.
Adapun Israel memperingatkan, serangan Iran dapat meluas. Tel Aviv menyebutkan, rudal Iran yang meluncur ke arah kota pelabuhan Aqaba di Jordania turut membuat warga di Kota Eilat, Israel, yang berbatasan bersiaga. Israel meluncurkan dua rudal pencegat untuk mencegah puing-puing berjatuhan. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase