Myles Lewis-Skelly hanya remaja tanggung potensial saat datang ke Indonesia. Hanya dalam 18 bulan, dia mulai menapaki jalan jadi bintang baru timnas Inggris.
18 Mar 2025 07:38 WIB · Olahraga
Jauh sebelum kehebatan pemain Arsenal, Myles Lewis-Skelly, dilihat dunia, pencinta sepak bola di Indonesia sudah lebih dulu menyaksikan langsung potensi besarnya. Sekitar satu setengah tahun lalu, remaja 18 tahun itu sempat berlaga di Piala Dunia U-17 Indonesia 2023.
Lewis-Skelly menjadi ”buah bibir” setelah pengumuman daftar skuad tim nasional Inggris terbaru. Dia merupakan satu-satunya remaja yang dipanggil oleh pelatih kepala Thomas Tuchel. Sang bek sayap melompati jenjang kelompok usia U-21 dengan langsung masuk ke tim senior.
”Saya sangat bergembira. Sejujurnya saya sangat gembira sampai berteriak-teriak di sekitar rumah saya. Pastinya saya bersemangat menanti apa yang akan terjadi, tetapi harus tetap fokus dan tidak terbawa perasaan,” kata Lewis-Skelly tentang pemanggilan pertamanya ke tim senior.
Inggris, bersama Lewis-Skelly, akan memulai perjalanan babak grup kualifikasi Piala Dunia 2026 pada Sabtu (22/3/2025) dini hari WIB, yaitu melawan Albania. Setelah itu, mereka akan melawan Latvia. Kedua laga itu akan berlangsung di kota kelahiran Lewis-Skelly, yaitu London, tepatnya di Stadion Wembley.
Jika seorang peramal berkata Lewis-Skelly akan dipanggil timnas pada enam bulan lalu, mungkin tidak seorang pun percaya. Sebelumnya, dia hanya bagian dari tim akademi Arsenal. Dia baru diberikan debut oleh Manajer Mikel Arteta pada 23 September 2024 versus Manchester City.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/50ac44f6a7a69309a9e2a050949483f4-wires_photo_19_.jpg)
Lewis-Skelly sempat menjadi bahan lelucon pada laga tersebut. Dia sudah menerima kartu kuning sebelum debut karena mengganggu permainan dari luar lapangan. Baru masuk sebentar saat injury time, dia terlibat konfrontasi dengan penyerang Erling Haaland. ”Siapa kamu?” sindir Haaland.
Kesempatan debut itu menjadi titik balik kariernya. Arsenal mengalami badai cedera di posisi bek sayap kiri. Bencana Arsenal itu menjadi berkah tersembunyi baginya. Lewis-Skelly mulai dipercaya sebagai pemain mula dan menjadi andalan ”Si Meriam” dalam empat bulan terakhir.
Aura kebintangan Lewis-Skelly terpancar pada pertemuan versus City selanjutnya, awal Februari. Dia membantu Arsenal menang 5-1 atas tim rival dan menyumbang satu gol. Dia merayakan gol dengan selebrasi dengan gaya bertapa ala Haaland. Itu cukup untuk menjawab pertanyaan Haaland.
Tuchel berkata, tim pelatih terkesan seperti orangtua saat membahas pemanggilan Lewis-Skelly. Mereka ingin menjaga sang remaja sehingga muncul kebimbangan antara terlalu cepat dan tidak. ”Namun, dengan kualitas dan kedewasaan yang ditunjukkan, kami sepakat memanggilnya,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/22/12c010a1-e4de-49a0-bbce-38c933bfb23e_jpg.jpg)
”Untuk pemanggilan pertama, kami mengakselerasi karier Lewis-Skelly lagi, yang mana sudah berada dalam jalur cepat selama beberapa bulan terakhir. Dia bermain reguler untuk Arsenal, tim terkuat kedua di Liga Inggris. Dia sungguh luar biasa,” puji Tuchel.
Lewis-Skelly sudah bermain 26 kali, 16 sebagai starter, untuk Arsenal sepanjang musim ini. Belakangan, pemain kelahiran 2006 itu menjadi pilihan utama di posisi bek sayap kiri. Riccardo Calafiori yang dibeli dari Bologna pada musim panas justru lebih sering menjadi pelapisnya.
Ketika tampil di Indonesia, Lewis-Skelly tidak bermain sebagai bek sayap. Dia merupakan gelandang bertahan. Posisi itu sudah dilatih sejak dari akademi. Perpindahan dari gelandang ke bek sayap berawal dari inisiatif Arteta. Sang remaja menyambut baik tawaran untuk berpindah posisi.
Arteta selalu memainkan peran inverted full-back untuk bek sayap kiri. Dalam peran itu, pemain akan naik ke posisi gelandang saat penguasaan bola. Lewis-Skelly dinilai cocok karena punya teknik mumpuni sebagai mantan gelandang dan keunggulan fisik spesial untuk menjaga penyerang sayap lawan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/14/c74fb9d6-3035-4b7d-bbf5-0789a4e04af7_jpg.jpg)
Kemampuan serba bisa itu membuat Tuchel lebih banyak pilihan taktik. Seperti diketahui, di sisi kiri, Inggris tidak memiliki tipe pemain seperti itu. Mereka selama ini mengandalkan bek sayap murni yang bertugas menyisir area pinggir lapangan, seperti Luke Shaw.
Menariknya, evolusi Lewis-Skelly belum selesai. Arteta membuka peluang untuk sang pemain kembali ke posisi aslinya. ”Dia bisa bermain di banyak posisi, berperan sebagai ”nomor 6 dan 8”. Itu tergantung dari hubungan dengan pemain lain dan bagaimana dia berevolusi di dalam tim,” kata Arteta.
Menurut gelandang andalan Arsenal sekaligus timnas Inggris, Declan Rice, hal paling spesial dari Lewis-Skelly adalah kemampuan fisik. Meskipun tidak tampak terlalu kekar dengan tinggi 1,78 meter, Lewis-Skelly seperti tidak bisa dijatuhkan. Rice jarang melihat bocah remaja dengan tubuh sekokoh itu.
Sangat masuk akal jika Lewis-Skelly mendapatkan akses jalur cepat ke timnas senior. Semua itu karena dia berhasil mengakselerasi kemampuannya. Dari teknik, fisik, hingga mentalitas, dia terlihat melampaui batas normal untuk pemain berusia 18 tahun.
Warga Indonesia beruntung bisa melihat langsung proses evolusi sang bintang baru ”Tiga Singa”. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .