”One Nil to the Arsenal” Memanggil di Derbi London

Serangan Arsenal belum optimal, tetapi pertahanan mereka sangat solid. Dari derbi London versus Chelsea, terlihat prinsip yang akan dipegang Arsenal pada sisa musim.

17 Mar 2025 00:51 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Mungkin, orang yang paling bangga di Stadion Emirates dengan kemenangan 1-0 Arsenal atas Chelsea adalah George Graham. Mantan pemain dan manajer Arsenal itu mendengar langsung nyanyian “One Nil to The Arsenal” berkumandang. Nyanyian itu tercipta pada rezimnya.

Graham menonton langsung laga derbi London pada Minggu (16/3/2025) malam WIB. Pria 80 tahun itu pernah berseragam Arsenal dan Chelsea, tetapi lebih melekat dengan Arsenal karena sukses jadi manajer selama 1986-1995. Dia adalah sosok legenda hidup untuk “Si Meriam”.

Sesuai dengan papan skor, lagu “One Nil to The Arsenal” dikumandangkan puluhan ribu pendukung tuan rumah. Nyanyian lahir pada era 90-an, saat Graham menjadi manajer. Ketika itu, Arsenal memiliki pertahanan kokoh dan sering kali menang 1-0. Mereka bermain aman setelah mencetak gol.

Prinsip ala Graham yang menjadikan pertahanan sebagai pondasi kemenangan, diperlihatkan skuad Arsenal pada derbi. Manajer Mikel Arteta tidak peduli dengan skor akhir atau sebutan “ugly win”. “Satu-satunya hal yang kami harus lakukan adalah menang. Jika menang, kami ada di posisi lebih baik,” kata Arteta.

Hasil itu mungkin tidak semegah kemenangan tujuh gol tanpa balas atas PSV Eindhoven dalam laga pertama babak 16 besar Liga Champions. Namun, Martin Odegaard dan rekan-rekan sangat membutuhkan tiga poin. Mereka sudah gagal menang tiga kali beruntun di Liga Inggris.

Arsenal's Mikel Merino, center, greets supporters at the end of the English Premier League soccer match between Arsenal and Chelsea at Emirates stadium in London, Sunday, March 16, 2025. (AP Photo/Ian Walton)

Setelah unggul pada menit ke-20 berkat gol penyerang darurat Mikel Merino dari skema tendangan sudut, Arsenal tidak banyak menghasilkan peluang berbahaya. Meskipun begitu, mereka sukses melimitasi serangan Chelsea. Tim tamu hanya mencatat sekali tembakan tepat sasaran pada paruh kedua.

Chelsea boleh saja unggul penguasaan bola sampai 59 persen. Namun, dominasi itu tidak bisa diterjemahkan jadi peluang. Ketidakhadiran gelandang Cole Palmer berpengaruh ke kreativitas tim tamu, selain juga pertahanan Arsenal memang sangat disiplin setelah unggul.

Kegundahan lini depan Chelsea yang dipimpin Pedro Neto tercermin dari nilai expected goals (xG). Mereka hanya mencatat total 0,35 xG dari delapan percobaan tembakan. Menurut Opta, nilai xG itu merupakan yang terendah dalam rezim pelatih kepala Enzo Maresca atau setelah 43 pertandingan.

Arsenal, saat kehilangan bola, berkali-kali menekan sangat tinggi dengan strategi satu lawan satu. Empat bek sejajar ikut menekan. Ketika memainkan pertahanan blok rendah, nyaris semua pemain turun ke sepertiga lapangan sendiri. Termasuk ketiga penyerang turut mundur, sejajar dengan gelandang.

Berkat organisasi pertahanan yang kompak, pekerjaan duet bek Gabriel Magalhaes dan William Saliba menjadi lebih mudah. “Perbedaan kami dan mereka tidak terlalu jauh dalam kreasi peluang. Namun, kami seharusnya bisa menciptakan sesuatu lebih dari itu,” kata Maresca.

Arsenal's Jurrien Timber, right, challenges for the ball with Chelsea's Moises Caicedo during the English Premier League soccer match between Arsenal and Chelsea at Emirates stadium in London, Sunday, March 16, 2025. (AP Photo/Ian Walton)

“Jalan ninja” Arsenal

Prinsip “One Nil to the Arsenal” ala Graham sangat mungkin terlihat lagi di tim asuhan Arteta pada sisa musim. Mereka belum menemukan solusi pasti dari krisis lini serang. Adapun “Si Meriam” akan bermain tanpa penyerang murni hingga akhir musim akibat cedera Gabriel Jesus dan Kai Havertz.

Sejak Merino menjadi starter di posisi “nomor 9”, meninggalkan posisi asli sebagai gelandang, Arsenal baru berhasil mencetak dua gol dari empat pertandingan di liga. Satu gol yang dicetak versus Chelsea bahkan tercipta dari bola mati. Mereka kesulitan menghasilkan gol dari permainan terbuka.

Arteta menyadari itu, lini serang timnya masih jauh dari optimal. “Banyak sekali peluang yang gagal kami manfaatkan. Kami melakukan banyak hal dalam bertahan untuk bisa menyerang dengan ruang lebih terbuka. Banyak situasi yang menguntungkan itu hilang begitu saja,” ujarnya.

Pengambilan keputusan skuad Arsenal di sepertiga akhir sering kurang tepat, terutama penyerang sayap Gabriel Martinelli dan Leandro Trossard. Arsenal berkali-kali merebut bola di separuh lapangan Chelsea, tetapi tidak mampu menghasilkan sesuatu dari situasi transisi.

Sebaliknya, Arteta memuji kualitas pertahanan timnya setinggi langit. “Kami nyaris tidak kecolongan (peluang berarti) terlepas dari tangkapan aneh dari David (Raya). Kredit besar untuk tim ini karena menurut saya mereka (Chelsea) adalah tim dengan serangan terbaik di liga,” pungkasnya.

Chelsea's Pedro Neto, centre, makes an attempt to score past Arsenal's Gabriel, left, and Arsenal's William Saliba during the English Premier League soccer match between Arsenal and Chelsea at Emirates stadium in London, Sunday, March 16, 2025. (AP Photo/Ian Walton)

Pertahanan Arsenal memang memukau sepanjang musim ini. Mereka mencatat kebobolan paling sedikit di liga sampai saat ini, 24 gol dari 29 laga. “Si Meriam” juga baru kecolongan 93 tembakan tepat sasaran. Hanya Arsenal dan Liverpool (97) yang mencatat jumlah itu di bawah 100 kali.

Pertahanan itu pula yang akan menentukan nasib Arsenal pada akhir musim jika dilihat tren belakangan ini. Selama bisa menjaga gawang tetap nirbobol, mereka hanya butuh satu gol untuk menang. Jadi, jangan kaget jika nyanyian “One Nil to the Arsenal” bergema lebih sering saat “Si Meriam” tampil. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .