Setelah lima tahun diuji, F-47 akhirnya diungkap Amerika Serikat. Jet tempur generasi keenam itu digadang mengatasi kemampuan China.
22 Mar 2025 14:07 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, JUMAT — Amerika Serikat mengumumkan F-47 sebagai pengganti F-22 Raptor. Jet tempur generasi keenam itu digadang bisa menyerang China secara diam-diam.
”Saya gembira mengumumkan bahwa, atas arahan saya, Angkatan Udara Amerika Serikat akan terus maju dengan jet tempur generasi keenam pertama di dunia. Tidak ada yang bisa menyamainya di dunia ini, dan jet itu akan dikenal sebagai F-47,” kata Presiden Donald Trump, Jumat (21/3/2025), di Gedung Putih, Washington DC.
Didampingi Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Trump memamerkan citra rekaan seniman atas jet tempur itu. Boeing ditunjuk mengembangkan jet tempur tersebut.
Boeing memenangi kontrak setelah Direktorat Jenderal Angkatan Udara AS memilih rancangan Boeing alih-alih Lockheed Martin. Pemilihan diungkap hampir setahun setelah Ditjen AU dan AU mengumumkan penundaan program yang dikenal sebagai Dominasi Udara Generasi Lanjut (NGAD).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/6db5dbcf-003b-4fb8-a35b-4f5481a006e6_jpg.jpg)
Penundaan itu untuk memastikan AS memilih pelantar pengembangan yang tepat. Selama penundaan, AU terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan pada industri pertahanan dan dirgantara AS.
”Sekarang, kami memiliki F-47, yang menunjukkan pesan jelas dan langsung kepada para sekutu bahwa kami tidak ke mana-mana. Kepada musuh, kami bisa dan akan menunjukkan kekuatan ke berbagai penjuru dunia, tanpa terintangi, sampai beberapa generasi mendatang,” tutur Hegseth.
Hegseth mengindikasikan F-47 akan menjadi pengganti F-22 Raptor. Selama bertahun-tahun, F-22 menjadi andalan AU AS. Tidak seperti F-15 hingga F-35 yang bisa dipakai sekutu dan mitranya, F-22 hanya bisa dipakai AS.
”Ini investasi bersejarah pada militer AS, di industri AS, yang akan membantu membangkitkan semangat juang dalam militer kita. Kita sedang melakukan, membangun ulang militer kita,” katanya.
Jet program NGAD disebut akan menjalankan misi pencegatan udara. Selain itu, jet akan dilengkapi kemampuan tempur udara serta serangan darat.
Jet akan dilengkapi dengan peningkatan kemampuan bertahan dan beradaptasi. Selain itu, jet disebut akan lebih mudah diintegrasikan dalam sistem pertahanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/5ecaef7e-0816-4d5b-8c09-3faec4e8e2c0_jpg.jpg)
Hegseth mengklaim, F-47 akan lebih murah dibandingkan F-22. Kongres AS pada Juli 2005 menyebutkan, setiap unit F-22 rata-rata berharga 369 juta dollar AS. Kala itu, 1 dollar AS setara dengan Rp 9.990.
Dengan demikian, kala itu, harganya Rp 3,6 triliun per unit. Harga itu belum termasuk biaya perawatan yang, menurut Kongres AS, terus membengkak.
Belum diketahui harga pasti F-47 dan bagaimana AS akan menekan harganya. Sejumlah pihak menaksir, harganya bisa jadi 300 juta dollar AS per unit.
Salah satu kunci menekan harga adalah arsitektur terbuka pada F-47. Pilihan itu memungkinkan F-47 terus bisa ditingkatkan sembari terus menekan harga penggunaan, perawatan, dan peremajaan.
Sampai 2028, program NGAD disebut akan menghabiskan hingga 16 miliar dollar AS. Dana itu untuk penelitian, pengembangan, pengujian, hingga evaluasi. Pada 2023-2024, AU AS meminta total 4 miliar dollar AS untuk program NGAD.
Dalam pernyataan tertulisnya, Boeing tidak membahas soal harga ataupun perincian teknis F-47. ”Informasi lebih lanjut soal perincian teknis dan program pelantar NGAD tetap dirahasiakan sesuai undang-undang keamanan nasional dan ekspor AS,” demikian pernyataan Boeing.
F-47 menjadi produksi lanjutan Boeing untuk pesawat tempur. Perusahaan AS itu, antara lain, pernah membuat P-51 Mustang, F-4 Phantom, F-15 Eagle, F/A-18 Hornet, dan EA-18G Growler.
”Kami mengakui pentingnya perancangan, pengembangan, dan penyerahan jet tempur berkemampuan generasi keenam kepada AU AS. Dalam penyiapan misi ini, kami membuat investasi signifikan,” kata Penjabat Presiden Divisi Pertahanan, Antariksa, dan Keamanan Boeing Steve Parker.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/effae126-4f5f-4e76-b2ae-d3646296f752_jpg.jpg)
AS menyatakan, kode 47 pada F-47 untuk mengenang pengebom legendaris era Perang Dunia II, P-47 Thunderbolt. Laman airforce tecnology menulis, NGAD program AU AS yang paling rahasia. Begitu rahasianya, sampai amat sedikit yang tahu F-47 telah diuji terbang sejak 2020. Pengujian digelar menjelang masa jabatan periode pertama Trump selesai.
Menurut rencana, jet tempur NGAD akan didampingi pesawat nirawak. Selama ini, jet tempur terbang berdampingan dan masing-masing ada awaknya. Ke depan, dengan NGAD, hanya ada satu jet tempur berawak. Pesawat pendamping akan berupa pesawat nirawak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/09/3cf4b528-01b2-4a2a-ba4d-cacf2c40bcad.jpg)
USAF berencana membeli 200 jet tempur NGAD dan 1.000 jet nirawak pendamping (collaborative combat aircraft/CCA). Direncanakan setiap jet tempur NGAD akan didampingi dua jet CCA. Jet CCA juga direncanakan akan mendampingi hingga 300 F-35, jet tempur generasi kelima yang dikembangkan AS bersama sejumlah sekutunya.
Sesuai pernyataan Boeing, perincian teknis F-47 masih dirahasiakan. Sebagai pembanding, F-22 bisa melaju hingga dua kali kecepatan suara dan terbang sampai ketinggian 15 kilometer.
Pengembangan NGAD terutama dilakukan Pusat Kajian Dominasi Udara pada Badan Penelitian Lanjutan Pertahanan (DARPA) AS. Riset selesai pada 2014 dan AU mulai menerbitkan rencana pembuatan pada 2016.
Pengembangan jet tempur generasi baru tak cuma melibatkan Boeing. AU AS juga menunjuk Pratt & Whitney mengembangkan mesin jet generasi terbaru, Next Generation Adaptive Propulsion (NGAP).
Belum ada penjelasan apakah mesin baru itu bisa untuk lepas landas dari landasan pendek (STOL). Belum tahu pula apakah NGAP bisa seperti mesin V-22 Osprey yang dapat berubah posisi. Perubahan itu memungkinkan V-22 lepas landas secara vertikal (VTOL), lalu melaju cepat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/09/09/MV-22-Osprey-Helikopter-mumed-1_1599586900_png.png)
Hal yang jelas, mengacu pada pernyataan Ditjen AU pada Dephan AS, mesin NGAP akan dipakai di pesawat hasil NGAD. Selain Pratt & Whitney, AU AS juga menggandeng sejumlah pabrikan untuk mengembangkan mesin NGAP. General Electric, Northrop Grumman, hingga Lockheed Martin diundang mengembangkan NGAP.
Kontrak tersebut mencakup pematangan teknologi, aktivitas mengurangi risiko melalui berbagai tahap uji rancangan, analisis, dan uji coba mesin purwarupa, tes gabungan, dan penggabungan sistem senjata. Perusahaan kontraktor diwajibkan mengembangkan mesin purwarupa untuk jet tempur generasi keenam itu.
Teknologi yang dikembangkan dalam program itu memberikan solusi untuk meningkatkan daya penyintas dan meningkatkan efisiensi bahan bakar serta kendali mesin dan panas mesin. Berbagai faktor tersebut sangat penting dalam mengatur jarak serang, senjata, dan kemampuan sensor sasaran serta daya tahan platform untuk memastikan dominasi udara dan kebutuhan operasional yang semakin meningkat.
Kepala Staf AU AS Jenderal David Allvin mengatakan, F-7 menunjukkan lompatan penting pada kemajuan pertahanan udara AS. ”Kontrak ini menunjukkan komitmen kami menjaga AS sebagai kekuatan udara paling dominan,” ujarnya.
F-47 bukan cuma jet tempur lain. ”Kami membentuk masa depan pertempuran udara dan membuat musuh waspada. Pelantar ini akan menjadi jet tempur paling maju, mematikan, dan adaptif yang pernah dibuat. Pesawat dirancang jauh mengalahkan semua musuh yang berani merancang pejuang udara pemberani kami,” lanjutnya.
Allvin mengklaim, hanya F-47 yang benar-benar bisa disebut jet tempur generasi keenam. ”Selama lima tahun terakhir, pesawat X (sebutan untuk pesawat uji coba) diam-diam meletakkan dasar F-47. Terbang ratusan jam, menguji konsep termutakhir, dan membuktikan kita bisa menguji teknologi dengan penuh keyakinan,” ucapnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/04/07/79032cba-d6b9-4c66-945a-b458380f86dc_jpg.jpg)
Ia menyebut, F-22 kini memang jet tempur paling canggih dan unggul AS. Sementara F-47 akan membawa lompatan lebih jauh bagi AU AS. ”Kita akan memiliki lebih banyak F-47,” katanya.
F-47 akan terbang lebih jauh, kemampuan siluman lebih baik, dan lebih berkelanjutan. ”Pelantar ini dibangun untuk mampu beradaptasi,” ujarnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris Mada