Indonesia memiliki tujuh semifinalis dalam turnamen Thailand Masters 2025. Siti Fadia Silva Ramadhanti lolos di nomor ganda putri dan campuran.
31 Jan 2025 23:27 WIB · Olahraga
BANGKOK, JUMAT — Siti Fadia Silva Ramadhanti, pebulu tangkis nomor ganda Indonesia, menjalani tantangan berbeda pada 2025 dengan bertanding di dua nomor. Dia harus membiasakan diri kembali menghadapi situasi yang sudah enam tahun tak dilakukannya.
Selain ganda putri bersama Lanny Tria Mayasari, Fadia juga bermain di ganda campuran, nomor yang terakhir kali diikutinya pada 2019. Dia menjalaninya bersama Dejan Ferdinansyah, atlet yang baru menjadi bagian dari pelatnas bulu tangkis Indonesia pada 2025.
Setelah tampil hanya pada nomor ganda putri di Malaysia Terbuka Super 1000, 7-12 Januari, dan ganda campuran di India Terbuka super 750 pada pekan berikutnya, Fadia bersaing dalam dua nomor di dua ajang berikutnya, Indonesia dan Thailand Masters 2025. Di Indonesia Masters Super 500, langkahnya langsung terhenti di babak pertama, baik pada ganda putri maupun campuran.
Turnamen Thailand Masters yang berlevel lebih rendah, Super 300, dan dengan persaingan yang tak seketat pada tiga kejuaraan sebelumnya, dimanfaatkan Fadia untuk memperbaiki performanya. Dia pun membiasakan diri kembali bertanding dalam dua nomor.
Fadia memiliki pengalaman membagi fokus bersaing di dua sektor, tetapi itu terjadi pada level yunior. Momen terakhir ketika atlet berusia 24 tahun itu tampil pada nomor ganda putri dan campuran terjadi di Indonesia Masters, Januari 2019. Saat itu, Fadia berpasangan dengan Agatha Imanuela (ganda putri) dan Rehan Naufal Kusharjanto (ganda campuran) pada masa awal peralihan mereka dari level yunior ke yang lebih tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/31/bee8e4418cf1378aa87fe03a8f08b3e5-DejanFadia3_QF_ThailandMasters2025_PBSI_20250131.jpg)
Dengan konsekuensi bertanding dua kali dalam sehari, Fadia harus menjaga kondisinya. ”Di antara dua pertandingan, saya menjaga kondisi dengan makan, lalu istirahat sebentar. Kalau sempat, bisa dengan tidur. Saya juga berusaha menenangkan pikiran karena ini yang paling penting. Saya harus menikmati setiap momen,” kata Fadia setelah memenangi perempat final ganda putri Thailand Masters di Stadion Nimibutr, Bangkok, Jumat (31/1/2025).
Nitya Krishinda Maheswari, pelatih ganda putri pelatnas Indonesia, di sela turnamen Indonesia Masters, juga mengatakan bahwa Fadia harus memiliki daya tahan fisik yang lebih baik sebagai konsekuensi bermain di dua nomor.
Pada ganda campuran, Dejan/Fadia ke semifinal setelah menang atas pasangan tuan rumah, Ratchapol Makasasithorn/Nattamon Laisuan, dengan skor 22-20, 21-14. Tantangan berikutnya datang dari rekan senegara, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Adapun pada ganda putri, tiket semifinal didapat Fadia/Lanny setelah mengalahkan Lui Lok Lok/Tsang Hiu Yan (Hong Kong) 21-15, 21-9 pada perempat final.
Dejan mengatakan, dia dan Fadia berusaha untuk terus beradaptasi dan menemukan pola permainan yang tepat. ”Pada Fadia, saya mengingatkan agar lebih siap menghadapi pukulan-pukulan awal karena ritme ganda campuran lebih cepat dibandingkan ganda putri. Selain itu, pada pertandingan tadi masih ada beberapa kesalahan saat rotasi dan itu akan kami perbaiki,” tutur Dejan.
Sama seperti Dejan/Fadia, Thailand Masters 2025 menjadi kesempatan bagi Jafar/Felisha untuk terus mengasah diri. Tiket semifinal didapat setelah menang atas pemain Thailand, Pakkapon Teerartsakul/Phataimas Muenwong, 21-15, 21-12.
Semifinal yang akan berlangsung pada Sabtu (1/2/2025) menjadi persaingan antara Dejan/Fadia sebagai pasangan terbaru dengan Jafar/Felisha, ganda campuran termuda di pelatnas utama. Jafar (22) dan Felisha (19) berpasangan ketika sektor ganda campuran membuat formasi baru dari atlet-atlet yang berada di bawah Rehan/Lisa Ayu Kusumawati dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari memanfaatkan momen setelah diselenggarakannya Olimpiade Paris 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/d959f8ae-1680-4e4f-a886-b48867eb666b_jpg.jpg)
Perubahan akhirnya dilakukan juga pada dua pasangan senior itu dengan memasangkan Rinov dengan Lisa dan Pitha bersama Verrell Yustin Mulia, sementara Rehan dikembalikan ke klub.
Performa yang konsisten sejak dipasangkan, di antaranya dengan menjuarai tiga turnamen level International Challenge dan Super 100, membuat Jafar/Felisha naik dalam peringkat dunia, yaitu dari ke-274 pada Agustus 2024 menjadi ke-57 sejak 28 Januari. Posisi mereka lebih baik dari Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil (posisi ke-64) dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah (ke-66).
Adnan/Indah dan Amri/Nita juga tampil pada perempat final Thailand Masters, tetapi kalah. Adnan/Indah kalah dari Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran (Thailand), 15-21, 13-21, adapun Amri/Nita kalah dalam laga lebih ketat melawan Gao Jia Xuan/Wu Meng Ying (China), 21-10, 10-21, 19-21.
Di sini, saya belajar bagaimana mencari solusi dari masalah yang ada, bagaimana keluar dari tekanan. Ini menjadi bekal untuk perjalanan panjang ke depan.
Selain ganda campuran, Indonesia memiliki dua semifinalis ganda putri. Lanny/Fadia mengikuti langkah rekan mereka, Rachel Alessya Rose/Meilysa Trias Puspitasari, yang menang atas Hsu Ya Chin/Sung Yu Hsuan (Taiwan), 21-15, 19-21, 21-15.
Semifinal nomor ini akan menjadi persaingan Indonesia dan Thailand dengan pertandingan yang akan berlangsung antara Lanny/Fadia dan Benyapa Aimsaard/Nuntarkarn Aimsaard serta Rachel/Trias melawan Laksika Kanlaha/Phataimas Muenwong.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/31/c3f2e174120efaeadc69b08bd42913a0-LeoBagas4_QF_ThailandMasters2025_PBSI_20250131.jpg)
Pada ganda putra, hanya Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin yang melaju ke semifinal setelah unggulan teratas, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, kalah dari Seo Seung-jae/Jin Yong (Korea Selatan) 18-21, 16-21. Setelah selalu menang dua gim pada dua babak sebelumnya, Leo/Bagas kesulitan menyaingi pemain yang sekelas dengan mereka.
Seo adalah salah satu pemain ganda terbaik Korea Selatan. Dia menjadi juara dunia 2023 pada dua nomor, yaitu ganda putra bersama Kang Min-hyuk dan ganda campuran bersama Chae Yoo-jung.
Setelah Olimpiade Paris 2024, Seo bergonta-ganti partner karena Kang mengikuti wajib militer. Dia bermain bersama Ki Dong-ju pada satu turnamen dan berpartner dengan Jin Yong dalam dua turnamen pada November 2024. Duet Seo/Jin meraih gelar di Kumamoto Masters, di antaranya dengan mengalahkan dua pasangan Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Sabar Karyaman Gutama/Muhammad Reza Pahlevi Isfahani.
Pada 2025, sebelum bermain kembali bersama Jin di Indonesia dan Thailand Masters, Seo berpasangan dengan Kim Won-ho dan mencapai final dalam dua turnamen beruntun, Malaysia dan India Terbuka. Seo/Kim menjadi juara di Malaysia yang berlevel Super 1000.
Leo mengatakan, kekalahan dia dan Bagas disebabkan performa Seo/Jin yang sangat baik dalam bertahan. ”Mereka jarang melakukan kesalahan dan rotasi pun bagus,” kata Leo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/15/ed0e49d1-ed7b-49e3-aaa2-21732a2bf99f_jpg.jpg)
Pada persaingan tunggal, perempat final menjadi hasil terbaik wakil Indonesia di sektor putra setelah Alwi Farhan kalah dari pemain Irlandia yang menjadi unggulan kedelapan, Nhat Nguyen, 19-21, 21-13, 19-21.
Alwi memperlihatkan daya juangnya dalam pertandingan 1 jam 37 menit yang membuat kedua pemain begitu kelelahan. Namun, pemain berusia 19 tahun itu masih harus belajar menerapkan strategi yang tepat saat momen kritis, terutama pada perebutan poin yang ketat menjelang akhir gim penentuan.
Penampilan pada perempat final serta dalam dua babak sebelumnya menambah pengalaman bagi Alwi untuk menghadapi atlet-atlet yang lebih berpengalaman dalam level Super 300 atau lebih tinggi. ”Di sini, saya belajar bagaimana mencari solusi dari masalah yang ada, bagaimana keluar dari tekanan. Ini menjadi bekal untuk perjalanan panjang ke depan dan saya akan menikmatinya sebagai bagian dari proses,” katanya.
Alwi menjadi salah satu pemain yang diharapkan bisa mengisi kekosongan rentang prestasi yang jauh di sektor tunggal putra, selain dari Mohammad Zaki Ubaidillah (18) yang mencapai babak kedua Thailand Masters. Di bawah dua pemain senior, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting, sebenarnya ada Chico Aura Dwi Wardoyo. Akan tetapi, Chico kesulitan naik level setelah menjadi finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2016.
Potensi Alwi dan Zaki diperlihatkan pada masa yunior ketika Alwi menjadi juara dunia pada 2023 dan Zaki menjadi semifinalis di tahun berikutnya. Saat ini, mereka berada pada masa awal transisi menuju persaingan lebih tinggi dengan lawan yang lebih berpengalaman dan berperingkat lebih tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/31/949a5cde2af2af86dea8e1ad71e75617-Putri4_QF_ThailandMasters2025_PBSI_20250131.jpg)
Zaki, misalnya, harus bermain sejak fase kualifikasi di Thailand Masters, turnamen pertamanya pada level Super 300. Alwi bisa langsung tampil pada babak utama, tetapi dia pun berstatus pemain kualifikasi ketika mengikuti Indonesia Masters.
Harapan melihat pemain tunggal Indonesia membawa gelar juara dari Thailand ada pada sektor putri dengan lolosnya Putri Kusuma Wardani dan Komang Ayu Cahya Dewi ke semifinal. Setelah mengalahkan pemain Thailand di perempat final, mereka akan menghadapi tantangan dari negara yang sama di babak empat besar. Putri akan melawan unggulan teratas, Pornpawee Chochuwong, atlet yang selalu mengalahkannya dalam tujuh pertemuan, sementara Komang melawan Thamonwan Nithiittikrai.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra