Fadia/Lanny memenangi babak pertama Indonesia Terbuka 2025. Mereka tengah berproses untuk bisa bersaing di turnamen berlevel lebih tinggi setelah juara Super 300.
04 Jun 2025 19:06 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Ganda putri Indonesia, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari, berproses untuk bisa bersaing dalam turnamen dengan level lebih tinggi dari Super 300. Dengan persaingan ganda putri yang menurut mereka kian merata, peluang bagi Fadia/Lanny untuk naik level dan berprestasi pun terbuka.
Sejak bertanding bersama pada Oktober 2024, Indonesia Terbuka 2025 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, menjadi turnamen berlevel Super 1000 kedua bagi Fadia/Lanny. Fadia/Lanny menandai debut mereka di Indonesia Terbuka sebagai pasangan dengan kemenangan atas Go Pei Kee/Teoh Mei Xing (Malaysia), 19-21, 21-16, 21-19, Rabu (4/6/2025).
Bersama pasangan terdahulu, Fadia dan Lanny sama-sama pernah mencicipi persaingan Indonesia Terbuka sebelumnya. Pencapaian tertinggi Fadia di Indonesia Terbuka adalah perempat final pada 2022 dan 2023 saat masih berpasangan dengan Apriyani Rahayu. Adapun Lanny terhenti pada babak pertama ketika berpasangan dengan Ribka Sugiarto pada edisi 2023.
Namun, setelah bertanding bersama sejak Oktober 2024, Fadia dan Lanny harus berjuang dari turnamen level rendah, yaitu Indonesia International Challenge dan menjadi juara. Setelah itu, mereka menjadi finalis Indonesia Masters Super 100.
Fadia/Lanny lantas perlahan naik ke level lebih tinggi. Pasangan berusia 24 tahun dan 23 tahun ini berhasil bermain dengan sangat baik saat menjuarai Thailand Masters 2025.
Berdasarkan struktur turnamen BWF, Super 300 termasuk dalam kategori tingkat kedua level 5. Berada di atasnya adalah level 1 hingga 4, yaitu Final BWF, Super 1000, Super 750, dan Super 500.
Menjuarai Thailand Masters yang berlevel Super 300 menjadi titik awal Fadia/Lanny untuk menaikkan persaingan mereka. Sebelum Indonesia Terbuka, Fadia/Lanny bermain pada turnamen level Super 500, yakni Malaysia Masters dan Thailand Terbuka. Hasil terbaik mereka baru bisa mencapai perempat final di Malaysia.
”Kalau ditanya kami ada di level mana sekarang, jujur kami masih adaptasi untuk naik ke level 1000, 750, 500. Karena untuk bertanding di babak pertama saja tidak mudah lawannya,” tutur Fadia selepas melawan Go Pei Kee/Teoh Mei Xing.
Dalam laga tersebut, Fadia/Lanny memang tampak kesulitan keluar dari tekanan dan meraih kemenangan. Padahal, secara performa tahun ini, mereka lebih unggul dengan menang 13 kali berbanding 9 kali dari total 18 pertandingan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/0e6c44ecf959e696fa96f14155ad9de4-20250604TOK23.jpg)
Setelah kalah pada gim pertama, Fadia/Lanny mencoba merebut momentum lebih dahulu pada gim kedua dengan langsung unggul hingga lima poin. Lanny mengatakan, mereka memanfaatkan angin yang bertiup ke arah lawan untuk melancarkan serangan.
Walakin, Fadia/Lanny tetap kesulitan ketika menghadapi serangan bertubi-tubi lawan. Mereka kerap kali tak bisa mengembalikan kok dengan sempurna atau justru tak bisa menahan kok sama sekali.
Pada gim penentu, setelah hampir selalu tertinggal, Fadia/Lanny akhirnya membalikkan keadaan dengan permainan lebih agresif yang menyulitkan lawan. Dari skor 15-14, mereka melaju hingga keunggulan lima poin pada kedudukan 19-14. Dalam kondisi ini, baik Fadia maupun Lanny justru banyak melakukan kesalahan yang membuat lawan terus menipiskan jarak.
Lanny mengamini bahwa mereka justru tegang ketika mencapai poin-poin kritis. Namun, mereka kemudian mencoba bermain lebih nekat agar bisa menyelesaikan laga dengan kemenangan. ”Jadi, (laga selanjutnya) harus memperbaiki kesalahan-kesalahan tadi, terutama menghindari melakukan kesalahan yang membuat sering mati sendiri,” ujar Lanny.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/1fdce692ebf433db332febc8235ff9f6-20250604TOK22.jpg)
Hal serupa disampaikan Fadia. Ketika sudah berada di level yang lebih tinggi, terutama level Super 1000, Fadia mengatakan, mereka harus bermain lebih tenang dan kuat. Tak hanya itu, mereka pun perlu meningkatkan motivasi untuk menang.
Terlebih, persaingan pada sektor ganda putri kian merata sehingga setiap kemungkinan bisa terjadi. Apa yang Fadia/Lanny alami di Thailand Terbuka dan Malaysia Terbuka Super 1000 bisa membuktikan pendapat itu.
Saat bermain di Thailand Terbuka, Fadia/Lanny bisa kembali mengalahkan ganda putri ranking keempat dunia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan. Itu kedua kalinya mereka menaklukkan pasangan tersebut setelah Malaysia Terbuka pada awal tahun.
Pasangan ganda putri peringkat pertama dunia saat ini, Liu Sheng Shu/Tan Ning (China), juga secara mengejutkan kalah dari ganda putri peringkat kelima, Rin Iwanaga/Kie Nakanishi (Jepang), pada semifinal Singapura Terbuka 2025. Artinya, tidak ada ganda putri yang benar-benar dominan dalam persaingan sehingga peluang terbuka bagi siapa pun untuk naik level dan berprestasi, termasuk Fadia/Lanny.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/6a0b7b0c15836a9a3adeb91c4f1eec71-20250604TOK24.jpg)
Menurut Fadia, ganda putri dari negara lain, baik itu Malaysia, Thailand, maupun Taiwan, juga bisa jadi ancaman. Alih-alih fokus pada persaingan yang kian merata itu, Fadia ingin lebih dulu menemukan pola permainan terbaik dengan Lanny.
”Kami ambil pelajaran saja di setiap pertandingan, menang atau kalah. Kami harus tahu juga menangnya di mana, kalahnya di mana,” imbuhnya.
”Jadi, kami tidak berpatokan pada atlet tertentu, seperti Liu Sheng Shu/Tan Ning. Cuma, kami mencoba mencari pola permainan yang pas buat kami supaya bisa selevel dengan mereka,” ucapnya.
Pasangan ganda putri Indonesia lainnya, Arlya Nabila Thesa Munggaran/Az Zahra Ditya Ramadhani, takluk oleh wakil Hong Kong, Nga Ting Yeung/Pui Lam Yeung, 21-11, 24-22. Meski akhirnya kalah, Arlya/Az Zahra sempat menunjukkan semangat pantang menyerah dan perlawanan sengit pada gim kedua.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti