Fajar/Rian dan Amri/Nita Kalah, Indonesia Tanpa Gelar dari Thailand Terbuka

Indonesia tak mendapat gelar juara dari turnamen Thailand Terbuka. Dua wakil yang tampil pada semifinal kalah.

17 Mei 2025 20:37 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

BANGKOK, SABTU — Bertanding lalu pulang tanpa gelar juara sudah menjadi hal yang biasa bagi atlet bulu tangkis Indonesia yang tampil pada turnamen BWF World Tour level atas. Pekan ini, Indonesia tak mendapat gelar juara dari turnamen Thailand Terbuka Super 500.

Hasil terbaik Indonesia dari turnamen di Stadion Nimibutr, Bangkok, Thailand, pada 13-18 Mei, adalah semifinal yang dicapai dua wakil. Mereka adalah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah.

Fajar/Rian, yang menjadi unggulan teratas di Thailand Terbuka, disingkirkan pasangan Denmark non-unggulan, William Kryger Boe/Christian Faust Kjaer, dengan skor 13-21, 12-21, Sabtu (17/5/2025). Ganda putra Indonesia ranking keempat dunia itu kesulitan keluar dari tekanan melalui permainan cepat yang diperagakan lawan.

Boe/Kjaer begitu cepat dalam melihat celah di lapangan yang ditinggalkan Fajar/Rian. Di sisi lain, Fajar/Rian begitu mudah melakukan kesalahan secara beruntun. Setelah unggul 10-6 pada gim kedua, misalnya, mereka membuat banyak kesalahan hingga berbalik tertinggal 10-13. Setelah momen tersebut, Fajar/Rian bagai bermain tanpa pola dan kalah dalam waktu 33 menit.

Dengan kekalahan tersebut, Fajar/Rian gagal mencapai final seperti pada Indonesia Masters, yang juga berlevel Super 500, pada Januari. Mereka pun akhirnya gagal meraih gelar sejak terakhir kali menjadi juara di turnamen Kumamoto Masters, November 2024.

Ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto mengembalikan kok ke pasangan Taiwan, Liu Kuang Heng/Yang Po Han, pada perempat final Thailand Terbuka di Stadion Nimibutr, Bangkok, Thailand, Jumat (16/5/2025). Fajar/Rian menang dengan skor 21-18, 21-17.

Pada semifinal ganda campuran, Amri/Nita kalah 18-21, 13-21 dari pasangan ranking kedua dunia, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping. Meski demikian, Amri/Nita bermain cukup baik dalam semifinal pertama mereka sejak berpasangan pada Agustus 2024 tersebut. Apalagi, lawan mereka adalah pemilik 12 gelar juara BWF World Tour.

Amri berkali-kali merepotkan lawan tak hanya melalui smes, tetapi juga saat mengembalikan servis. Arah pukulannya sulit ditebak Feng/Huang hingga pasangan Indonesia ranking ke-33 dunia itu berkali-kali mendapat winner dari pengembalian servis Amri.

Pada gim pertama, Amri/Nita bisa mengimbangi kecepatan ritme permainan lawan. Akan tetapi, mereka tak cukup kuat mengimbanginya pada gim kedua. Padahal, ganda campuran China dikenal bisa bermain cepat dengan konsisten sejak awal hingga akhir pertandingan.

Saat tak lagi bisa mengimbangi kecepatan permainan Feng/Huang, Amri/Nita tak bisa menerapkan pola permainan lain. Kemampuan tersebut harus mereka kembangkan untuk tantangan berikutnya pada turnamen Malaysia Masters, 20-25 Mei. Apalagi, mereka berkesempatan bertemu kembali Feng/Huang pada babak kedua.

Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah memenangi babak pertama turnamen Orleans Masters di Orleans, Perancis, Rabu (5/3/2025). Mereka menang atas Alexander Dunn/Julie Macpherson (Skotlandia) 21-14, 21-13

Dengan kekalahan Amri/Nita dan Fajar/Rian, atlet-atlet Indonesia masih tetap kesulitan saat bersaing dengan pemain top dunia pada turnamen di atas Super 300. Dari lima kejuaraan Super 500, 750, dan 1000 yang telah digelar pada 2025, tak ada satu gelar pun bagi Indonesia. Hasil terbaik pada persaingan level tinggi adalah final yang dicapai ganda putra Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana saat mencapai final All England.

Dari rangkaian BWF World Tour, Indonesia baru mendapat gelar juara pada level Super 300. Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari menjuarai ganda putri Thailand Masters. Adapun ganda campuran Jafar Hidayatullah/Felisha Nathaniel Pasaribu menjadi juara di Taiwan Terbuka.

Meski demikian, ada sisi positif dari persaingan pada level di bawah BWF World Tour yang diikuti pemain-pemain muda. Mereka yang baru naik dari kategori yunior menjadi juara dari level International Series/Challenge, seperti ketika Mohammad Zaki Ubaidillah dan Ruzana yang menjuarai tunggal putra dan putri Singapore International Challenge.

Pemain-pemain muda juga membawa tiga gelar juara dari Luxembourg International Series, dua di antaranya melalui final sesama Indonesia, pada awal Mei. Selain itu, dua gelar didapat dari Denmark International Challenge pada 8-11 Mei.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul