Fajar/Fikri memulai penampilan dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Mereka memenangi babak kedua dengan penampilan solid.
19 Agt 2026 18:53 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
NEW DELHI, RABU — Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri mengawali perjalanan pada ajang paling tinggi sejak berpasangan, setahun lalu. Meski memiliki modal baik untuk tampil dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis, mereka berusaha mengontrol ekspektasi.
Kejuaraan Dunia, ajang individu dengan level tertinggi dalam struktur turnamen Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), bukan panggung yang asing bagi Fajar dan Fikri. Fajar bermain bersama Muhammad Rian Ardianto pada 2018, 2019, 2022, 2023, dan 2025, sementara Fikri bermain bersama Bagas Maulana pada 2022. Namun, kejuaraan edisi ke-30 yang pertama kali diselenggarakan pada 1977 ini menjadi yang pertama bagi Fajar/Fikri sebagai partner sejak berduet pada Juli 2025.
Fajar/Fikri sebenarnya menjalani debut di Jepang Terbuka, diikuti China Terbuka yang digelar sebelum Kejuaraan Dunia 2025 di Paris, Perancis, tetapi mereka belum memiliki peringkat mumpuni untuk memenuhi syarat lolos ke ajang tersebut. Fajar pun bermain bersama Rian. Sedangkan Fikri tak tampil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/20df23213fe6e2b95bd0676d74f4d5c1-WhatsApp_Image_2026_08_19_at_17.02.07.jpeg)
Kejuaraan Dunia, kejuaraan regional seperti Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Eropa, serta Olimpiade hanya diikuti oleh atlet yang mendapat undangan dari BWF karena memenuhi syarat peringkat tertentu. Dalam Kejuaraan Dunia, setiap negara bisa mengirimkan maksimal empat wakil dari setiap nomor.
Setahun setelah berpasangan, Fajar/Fikri pun lolos untuk bermain di Kejuaraan Dunia 2026 yang berlangsung 17-23 Agustus. Dengan peringkat kedua dunia, mereka ditempatkan sebagai unggulan kedua.
Fajar/Fikri bermain dengan bekal juara dari dua tunamen secara beruntun pada Juli, yaitu Jepang Terbuka dan China Terbuka. Mereka membawa kepercayaan diri dari momen tersebut untuk bersaing di Stadion Indira Gandhi dan mengawali penampilan saat melawan Eloi Adam/Leo Rossi (Perancis) pada babak kedua, Rabu (19/8/2026), setelah mendapat bye di babak awal. Fajar/Fikri menang dengan skor 21-14, 21-13 setelah bertanding 32 menit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/dd25a21ba8aaded1f12fa9a5d6790ae3-WhatsApp_Image_2026_08_19_at_17.02.09.jpeg)
Hanya tiga kali Fajar/Fikri diungguli lawan, yaitu pada posisi 1-2 di gim pertama, serta 0-1 dan 2-3 pada gim kedua. Selebihnya, mereka unggul pada permainan di lapangan depan, saat adu drive, menyerang melalui smes, dan menempatkan pukulan pada celah lapangan kosong.
”Secara keseluruhan dari pertandingan pertama, kami tidak menemukan masalah apa-apa, mungkin cuma arah angin. Semoga ekspektasi setelah menjuarai Jepang dan China Terbuka tidak terlalu membebani kami. Kami mau membuatnya untuk tambahan semangat, tambahan percaya diri,” kata Fajar.
Berpasangan dengan Fajar dalam Kejuaraan Dunia dan dalam performa terbaik, Fikri pun tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. ”Ini adalah kejuaraan mayor, apa pun bisa terjadi. Kami mau menikmati setiap momennya. Saya sendiri berusaha lebih fokus sejak dari latihan,” ujar Fikri yang akan berhadapan dengan Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju (Korea Selatan) pada babak ketiga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/70a8632df917e5a14daa8c3935539e19-WhatsApp_Image_2026_08_19_at_17.01.52.jpeg)
Selain Fajar/Fikri, ganda putra Indonesia diwakili Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Sabar/Reza dipaksa bermain tiga gim oleh Hung Kuei Chun/Lui Chung Wai (Hong Kong) meski akhirnya menang 22-20, 14-21, 21-15. Adapun Raymond/Nikolaus akan menjalani debut Kejuaraan Dunia melawan Junaidi Arif/Yap Roy King (Malaysia) pada Rabu malam.
Meski kejuaraan baru memasuki babak kedua, Jonatan Christie yang ditempatkan sebagai unggulan ketiga sudah menjalani laga sulit. Meski menang, Jonatan harus bermain tiga gim ketika berhadapan dengan atlet Singapura, Jia Heng Teh. Jonatan menang 19-21, 21-19, 21-11 setelah meloloskan diri dari kekalahan dua gim.
Seusai kehilangan gim pertama, Jonatan hampir tersingkir lebih awal ketika Jia lima kali menggagalkan game point lawannya itu dari enam kesempatan. Keunggulan Jonatan pada posisi 20-14 berubah menjadi 20-19 karena unforced error. Jonatan akhirnya bisa menyelamatkan game point keenam hingga membuat pertandingan berjalan tiga gim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/37b32d78f8948e75539df9a602fd73a4-WhatsApp_Image_2026_08_19_at_13.35.07.jpeg)
”Saat unggul pada gim kedua, saya merasa lawan akan melepas dan bersiap fokus ke gim ketiga, tetapi ternyata dia masih berusaha dengan mengganti pola permainan yang mungkin akan dimainkan di gim ketiga. Itu membuat dia mendapat banyak poin dan saya lumayan panik, beruntung bisa menyelesaikan,” komentar Jonatan.
Pertandingan Jonatan melawan Jia menjadi salah satu gambaran bahwa apa pun bisa terjadi di lapangan. Tunggal putra Indonesia peringkat ketiga dunia tersebut masih bisa menyelamatkan diri dan melanjutkan perjalanan ketika dua atlet dari unggulan lima besar tersingkir pada babak pertama. Mereka adalah tunggal putra nomor satu dunia yang juga juara bertahana, Shi Yu Qi (China), dan Christo Popov (Perancis/5). Shi disingkirkan atlet muda tuan rumah, Ayush Shetty, sementara Popov kalah dari Kenta Nishimoto.
Jonatan menuturkan, setiap pertandingan dalam turnamen apa pun menjadi bahan untuk dia pelajari. ”Tetapi, ini bukan matematika. Jadi, apa yang dipelajari kemarin bisa berbeda dengan hari ini atau pertandingan selanjutnya. Banyak situasi yang membuat beda, mungkin kondisi di lapangan, mood, atau yang lainnya. Proses ini saya nikmati setiap hari,” katanya.
Dalam usia yang tidak lagi tergolong muda, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah (27 dan 25 tahun) akhirnya merasakan persaingan dalam Kejuaraan Dunia saat bermain pada babak kedua setelah mendapat bye di babak awal. Berhadapan dengan pasangan asal Turki, Emre Sonmez/Yasemen Bektas, Amri/Nita menang 21-14, 21-10.
Amri/Nita menjadi salah satu dari empat wakil ganda campuran Indonesia yang tampil dalam Kejuaraan Dunia edisi ke-30 ini selain sesama pemain senior, Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja. Semula, Rehan/Gloria dan Amri/Nita berpeluang berhadapan pada babak ketiga, tetapi pertemuan tersebut batal terjadi karena Rehan/Gloria tersingkir pada babak kedua. Mereka kalah dari juara All England asal Taiwan, Ye Hongn Wei/Nicole Gonzales Chan, 21-9, 18-21, 19-21.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/19/fcbddbb1f0cf6ba4365dd07f608dd324-WhatsApp_Image_2026_08_19_at_11.37.26_1_.jpeg)
Dua wakil lainnya adalah pasangan muda yang juga baru pertama kali lolos ke Kejuaraan Dunia, yaitu Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata dan Bimo Prasetyo/Arlya Nabila Thesya Munggaran. Namun, langkah Bimo/Thesya dihentikan unggulan ke-13 asal Jepang, Yuichi Shiogami/Sayaka Hobara, dengan skor 13-21, 16-21, sementara Marwan/Aisyah bermain pada sesi malam.
”Ini Kejuaraan Dunia pertama kami. Tidak semua orang bisa bermain di sini, jadi kami bertekad untuk memaksimalkan. Mudah-mudahan hasilnya maksimal, mudah-mudahan bisa bawa medali. Itu target kami,” kata Amri.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Retma Wati