Farhan belum diketahui keberadaannya. Namun nomor telepon dan media sosialnya aktif. Apa yang sebenarnya terjadi?
21 Sep 2025 16:02 WIB · Metropolitan
Muhamad Farhan Hamid (23) yang belum diketahui keberadaannya setelah menonton demonstrasi di Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Di tengah pencarian yang buntu, akun media sosial Farhan justru aktif. Nomor Whatsapp-nya sempat membalas pesan keluarganya.
Farhan pada Jumat (29/8/2025) berangkat dari rumahnya di Jakarta Utara sekitar pukul 12.00 siang. Sebelum pergi, ia sempat mengajak kakaknya, Roni, untuk ikut.
”Dia bilang, ayo mas, ikut gak ke Kwitang. Saya tanya, ada apa memangnya di Kwitang,” tutur Roni saat ditemui di Kantor Kontras, Jakarta, Jumat (19/9/2025).
Mengetahui adiknya hendak menonton demonstrasi, Roni menolak ajakan itu karena hendak menunaikan shalat Jumat. Farhan pun berangkat bersama dua temannya ke Kwitang sekitar pukul 12.00 WIB.
Bukti Farhan bersama dua temannya tiba di Kwitang juga terkonfirmasi dari salah satu foto yang menunjukkan Farhan sempat berada di Kwitang pada Jumat (29/8/2025) siang. Foto berasal dari satu teman yang berangkat bersama Farhan. Di foto itu, Farhan mengenakan kemeja lengan panjang hitam, memakai helm, dan memoleskan odol di pipi kiri dan kanan.
Menjelang sore, situasi di Kwitang kian memanas. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Di tengah kepanikan itu, Farhan terpisah dari dua temannya. Sekitar pukul 19.00, kedua temannya pulang ke rumah tanpa dirinya.
”Saya kemudian suruh mereka cari lagi. Dua jam kemudian mereka balik, tapi tetap tidak ketemu,” kata Roni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/421039f454920049aa523ee0d9fd5819-roni.jpg)
Keluarga sempat menunggu hingga keesokan harinya. Mereka berharap Farhan pulang dengan sendirinya. Farhan memang punya banyak teman di sekitar rumah, tetapi jarang pergi lebih dari satu hari. Aktivitas sehari-harinya, jika tak berada di rumah, biasanya membantu bibinya berjualan ikan di pasar.
”Farhan ini anak bungsu, anak kesayangan ibunya. Sejak hilang, ibunya terus kepikiran. Beberapa kali ibunya pingsan kalau ada kabar yang tidak jelas sumbernya,” tutur Roni.
Harapan keluarga agar Farhan pulang masih sia-sia. Hingga Senin (30/8/2025) pagi, Farhan tak kunjung muncul. Keluarga pun memperluas pencarian. Mereka mendatangi kantor polisi, rumah sakit, dan titik-titik demonstrasi lain di Jakarta, termasuk sekitar DPR.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/401b4046-4e41-4efe-9cae-93a0371da55d_jpg.jpg)
Saat pencarian di dunia nyata menemui jalan buntu, jejak Farhan justru muncul di dunia maya. Keluarga mendapat informasi kalau ada beberapa teman Farhan yang dihubungi oleh nomor WA Farhan. Pada 4 September 2025, Roni mencoba menghubungi nomor WA adiknya itu. Tak disangka, pesannya dibalas seseorang yang tak dikenalnya.
Aktivitas nomor itu membuat keluarga bingung. Sebab, Farhan diketahui sudah menggadaikan ponselnya. Keluarga yakin kartu seluler yang dipakai untuk mengakses Whatsapp seharusnya masih ada pada Farhan saat menggadaikan HP tersebut.
Kompas menelusuri nomor Farhan melalui aplikasi Get Contact. Hasilnya, hanya ada satu tag yang melekat, yakni Eda Bakara 1. Ketika dikonfirmasi, Roni memastikan nomor itu memang milik Farhan. Namun, ia sama sekali tak mengenal nama yang muncul di aplikasi tersebut. ”Saya enggak kenal siapa itu Eda Bakara,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/568192f941510453acef2e5fc1942927-poster.jpg)
Selain Whatsapp, akun Facebook Farhan dengan nama Muhammad Farhan juga menunjukkan kalau masih ada aktivitas. Akun Facebook itu terakhir kali mengunggah tangkapan layar percakapan pada 6 September 2025. ”Facebook Farhan masih aktif. Masih sempat pantau story Facebook saya,” ujar Roni.
Kebuntuan pencarian membuat keluarga mengadu ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), 2 September 2025. Sejak 1 September, organisasi masyarakat sipil itu membuka posko aduan orang hilang dalam aksi unjuk rasa 25–31 Agustus 2025. Laporan hilangnya Farhan kemudian disebarkan secara luas ke media sosial.
Unggahan itu ditanggapi seorang pengemudi ojek daring. Ia mengaku menjadi tim medis saat aksi di Kwitang dan sempat melihat seseorang mirip Farhan dalam kondisi terluka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/0189de67-4d46-4831-b3f0-06c6789cabfc_jpg.jpg)
”Dia lihat sekilas orang mirip Farhan itu dievakuasi ke rumah sakit terdekat,” kata Roni.
Berbekal petunjuk dari salah satu pengemudi ojol itu, keluarga menelusuri sejumlah rumah sakit di Jakarta. Mereka mencari catatan pasien dengan ciri-ciri Farhan. Namun, hingga pertengahan September, tidak ada hasil. Data medis yang ditemukan tak ada yang cocok dengan keterangan ojol itu.
Adapun Kepala Subdirektorat Penerangan Masyarakat Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Reonald Simanjuntak, saat dikonfirmasi terkait aktifnya akun media sosial Farhan dan sejumlah petunjuk dari keluarga Farhan, meminta Kompas untuk menunggu. ”Saya cek dulu, ya. Mohon waktu,” kata Reonald, Sabtu (20/9/2025) sore.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/ee205a42-380a-41e6-acc2-0f857df2cf20_jpg.jpg)
Farhan merupakan satu dari tiga korban yang dilaporkan hilang oleh Kontras. Adapun dua korban lain yang juga dilaporkan hilang, yakni Bima Permana Putra dan Reno Syahputeradewo.
Dari data Kontras, Bima dilaporkan hilang sejak 31 Agustus 2025. Lokasi terakhir dari Bima berdasarkan aduan yang diterima Kontras, berada di Glodok, Jakarta Barat.
Adapun Reno dilaporkan hilang sejak 30 Agustus 2025. Lokasi terakhir Reno, berada di Kwitang, Jakarta Pusat.
Dari tiga korban hilang itu, aparat Polda Metro Jaya sudah menemukan salah satunya, yakni Bima. Dia ditemukan Subdirektorat Reserse Mobile Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, pada 17 September di Malang, Jawa Timur. Bima ditemukan polisi tengah berdagang mainan barongsai di sebuah klenteng di Malang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/beae68c9-3ef4-39c7-9ace-a1451634d9bd_heic.jpg)
Bima saat dihadirkan di Polda Metro Jaya, pada 18 September 2025 sore, memohon maaf karena meninggalkan rumah tanpa kabar. Bima enggan menjelaskan alasannya pergi meninggalkan rumah tanpa kabar.
Selain Bima, Polda Metro Jaya juga menemukan salah satu korban hilang lain bernama Eko Purnomo. Eko awalnya masuk dalam daftar orang hilang yang dirilis Kontras, pada 8 September 2025. Namun, Kontras kemudian merevisi laporan itu satu hari kemudian setelah mendapat informasi kalau Eko sudah ditemukan.
Eko yang saat itu dihadirkan di Polda Metro Jaya bersama Bima, meminta maaf karena meninggalkan rumah tanpa kabar.
Ia awalnya sempat menyaksikan demonstrasi di Kwitang, Jakarta Pusat, sebelum menghilang tanpa kabar. Ibunya kemudian melapor kehilangan Eko ke Polsek Cempaka Putih pada 3 September 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/02/0937d8cde413cf9c1fc4f9b06c42b76b-20250902ron13.jpg)
Sehari berselang, gantian temannya melapor ke hotline Kontras. Ibu Eko sempat mendapat angin segar dari kenalan Eko pada 8 September 2025. Katanya, Eko sudah bisa dihubungi dan meminta agar laporan orang hilang dicabut.
Kabar ini belum memuaskan keluarga karena tidak ada komunikasi langsung. Ibunya lantas membuat laporan di Polsek Johar Baru pada 10 September 2025. Belakangan, polisi menemukan jejaknya di Desa Kuala Jelai, Kecamatan Kuala Jelai, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah. Di sana Eko bekerja sebagai penangkap ikan.
Direktorat Reserse Kriminal Siber Polda Metro Jaya lalu menjemputnya pada 17 September 2025. Alasan kepergiannya disebut untuk mencari uang sebagai penangkap ikan. Ini demi hidup mandiri. Eko beralasan gawainya mati saat pergi sehingga tak bisa menghubungi keluarga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/05/1426729712ba27d2854afc81adcff10b-20250905YGA08.jpg)
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal (Pol) Ade Ary Syam, saat konferensi pers setelah menemukan Bima dan Eko, mengatakan, polisi masih mencari dua korban lain, yakni Farhan dan Reno yang masih hilang. Polisi terus berkomunikasi dengan keluarga.
”Mudah-mudahan segera ketemu Reno dan Farhan,” katanya.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menilai, penemuan Bima dan Eko yang sempat hilang lebih dari dua minggu merupakan capaian kepolisian. Capaian itu mesti dilanjutkan dengan ditemukannya Farhan dan Reno.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/f545fb234a3a840130605a28f453fb89-20250831TOK40.jpg)
Latar belakang menghilangnya dua korban yang sudah ditemukan, yakni karena alasan pribadi tak tertutup kemungkinan bakal sama seperti Farhan dan Reno yang masih hilang.
Namun, segala kemungkinan terkait penyebab tetap mesti dipertimbangkan. Apalagi, Farhan dan Reno diketahui hilang kontak ketika berada di Kwitang, Jakarta Pusat. Lokasi itu titik panas kerusuhan pada Akhir Agustus lalu, terutama di sekitar Markas Brimob Polda Metro Jaya.
Usman mengatakan, ia sejak awal ragu Bima hilang karena terkait dengan kejadian di unjuk rasa. Sebab, Bima terakhir terdeteksi di daerah Glodok, Jakarta Barat, yang cenderung bukan tempat peristiwa sensitif. ”Nah, yang dua ini (Farhan dan Reno) saya khawatir sekali,” ujarnya.
Penulis:
Johanes Galuh Bimantara, Stefanus Ato, Pandu Wiyoga, Prayogi Dwi SulistyoEditor:
Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase