Dua orang yang dilaporkan hilang setelah demonstrasi akhir Agustus 2025, yakni Eko Purnomo dan Bima Permana Putra, ditemukan.
18 Sep 2025 19:56 WIB · Kriminalitas
JAKARTA, KOMPAS — Eko Purnomo dan Bima Permana Putra, dua orang yang dilaporkan hilang setelah demonstrasi pada pekan terakhir Agustus 2025, ditemukan. Keduanya mengaku pergi tanpa kabar karena alasan pribadi.
Sementara orang yang dilaporkan hilang lainnya, yakni Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputradewo, belum diketahui kabarnya. Namun, polisi sudah meminta keterangan dari keluarga dan menelusuri jejak-jejak dengan target mereka segera ditemukan.
Eko dan Bima dihadirkan dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Kamis (18/9/2025) sore. Keduanya tak banyak berbicara. Demikian pula keluarga yang mendampingi. ”Saya Eko hampir tiga minggu kemarin dicari Mak (ibu) saya,” ujar Eko.
Ia sempat menyaksikan demonstrasi di Kwitang, Jakarta Pusat, sebelum meninggalkan rumah tanpa kabar. Ibunya kemudian melapor kehilangan Eko ke Polsek Cempaka Putih pada 3 September 2025.
Sehari berselang, gantian temannya melapor ke hotline Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Laporan ini diumumkan ke publik dan jadi perhatian luas.
Ibunya sempat mendapat angin segar dari kenalan Eko pada 8 September 2025. Katanya, Eko sudah bisa dihubungi dan meminta agar laporan orang hilang dicabut.
Kabar ini belum memuaskan keluarga karena tidak ada komunikasi langsung. Ibunya lantas membuat laporan di Polsek Johar Baru pada 10 September 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/e5f08058-1084-3a29-962d-72697e6d29bf_heic.jpg)
Belakangan, polisi menemukan jejaknya di Dusun Kampung Desa, Desa Kuala Jelai, Kecamatan Kuala Jelai, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah. Di sana Eko bekerja sebagai penangkap ikan.
Direktorat Reserse Kriminal Siber Polda Metro Jaya lalu menjemputnya pada 17 September 2025. Setelah itu, ibunya mencabut laporan di Polsek Johar Baru.
Alasan kepergiannya disebut untuk mencari uang sebagai penangkap ikan. Ini demi hidup mandiri.
Eko beralasan gawainya mati saat pergi sehingga tak bisa menghubungi keluarga. Namun, ia tak sempat menjawab diajak siapa ke Kalimantan Tengah lantaran dipotong oleh polisi.
Ibunya lalu diminta berbicara oleh polisi. Ucapan terima kasih mengalir dari mulutnya.
Ketika ditanya sempat ikut demonstrasi, Eko mengatakan cuma menonton. Polisi sekali lagi menyudahi sesi dengan menyampaikan bahwa sekarang giliran Bima berbicara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/beae68c9-3ef4-39c7-9ace-a1451634d9bd_heic.jpg)
Bima memohon maaf karena meninggalkan rumah tanpa kabar. Namun, ia enggan menjawab alasan dari tindakannya tersebut.
Keberadaannya diketahui pada 17 September 2025 sore. Saat itu, Subdirektorat Reserse Mobil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menjemputnya di sebuah kelenteng di Malang, Jawa Timur.
Sebelumnya, ia dilaporkan hilang ke Polsek Cikarang Selatan pada 6 September 2025 oleh keluarga. Bima terakhir kali pamit kepada kerabat pada 31 Agustus 2025 malam untuk pergi ke Glodok, Jakarta Barat.
Kabar hilangnya Bima juga disebarluaskan oleh Kontras. Polisi belakangan menemukan jejak kepergiannya. Mulai dari 1 September 2025 berangkat menuju ke Malang atas keinginan sendiri menggunakan sepeda motor hingga menjual sepeda motor di Tegal, Jawa Tengah, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta api.
Alasan kepergiannya disebut atas keinginan sendiri. Bima pengin hidup mandiri. ”Maaf atas kegaduhan di media sosial yang terjadi karena saya dikabarkan hilang,” kata Bima.
Setelah itu, kakak Bima mengucapkan terima kasih kepada Polda Metro Jaya. Bima sempat menjawab tidak ikut demonstrasi.
Sesudahnya, ia enggan menjawab alasan di balik tindakannya itu. Bahkan, ketika diminta oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Wira Satya Triputra.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal (Pol) Ade Ary Syam Indradi pun meminta semua pihak untuk menghormati satu sama lain lantaran Bima belum bisa memberikan tanggapan.
Pada saat yang sama, anggota Komisi Kepolisian Nasional, Muhammad Choirul Anam, dua kali mencoba berbincang dengan Bima. Namun, Bima enggan menjawab.
Ade Ary kemudian memastikan bahwa dua orang yang dilaporkan hilang lainnya masih ditelusuri jejaknya. Tim masih terus berkomunikasi dengan keluarga dan mencari. ”Mudah-mudahan bisa segera ketemu Reno dan Farhan,” ujar Ade.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Retma Wati