Pelaksanaan puncak ibadah haji atau fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) sudah berlangsung. Fase ini diwarnai jemaah yang berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina.
06 Jun 2025 22:48 WIB · Humaniora
MEKKAH, KOMPAS — Puncak pelaksanaan ibadah haji atau dikenal juga dengan fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) telah berlangsung sejak Kamis. Sejumlah persoalan mewarnai fase krusial ini, di antaranya jemaah yang tidak mendapatkan tenda dan sebagian harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina.
Seusai wukuf pada Kamis sore, jemaah berangsur digeser ke Muzdalifah pada Kamis malam hingga Jumat (6/6/2025) dini hari. Pergeseran jemaah dari Muzdalifah ke Mina mulai berangsur dilakukan pada Jumat dini hari. Untuk jemaah yang mengambil skema murur, mereka tak turun dari kendaraan, tetapi hanya singgah sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Mina.
Semula pengangkutan jemaah dari Muzdalifah ke Mina berjalan lancar. Bus-bus penjemput datang dan pergi membawa jemaah. Namun, menjelang pagi, kemacetan membuat bus penjemput cukup lama tiba di Muzdalifah. Sebagian jemaah akhirnya memilih berjalan kaki.
”Kami sepakat untuk berjalan kaki saja. Menunggu di sini cukup lama, tak ada solusi. Bus tidak datang dan matahari mulai muncul. Di sini panas, kurang tenda,” kata Supriyanto, anggota jemaah asal Surabaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/9d5603cbe43e18841fe1fbc60ec56534-IMG_2494.jpeg)
Sebagian jemaah mencoba tetap menunggu bus. Namun, hingga lewat pukul 07.00 waktu Arab Saudi, bus yang ditunggu belum kunjung datang. Akhirnya berangsur-angsur jemaah yang tersisa berinisiatif berjalan kaki. Pilihan ini juga dilakukan jemaah lansia. Pihak syarikah yang sebelumnya berjaga di pintu-pintu keluar Muzdalifah perlahan pergi.
Jarak dari Muzdalifah ke Mina sekitar 7 kilometer. Perjalanan dengan berjalan kaki memakan waktu 5-6 jam. Suhu udara mencapai hingga 43 derajat celsius. Hal ini membuat banyak anggota jemaah kelelahan.
Pantauan di sepanjang rute Muzdalifah-Mina, banyak anggota jemaah yang singgah mengaso. Sejumlah anggota jemaah juga tampak terduduk lemas, bahkan pingsan. Di Mina, mereka juga masih harus berkeliling mencari markaz tempat mereka akan tinggal.
Banyak anggota jemaah memilih langsung melanjutkan berjalan ke Jamarat untuk melakukan jumrah Aqabah. Sebelumnya dijadwalkan waktu melontar pada sore hingga malam hari untuk mencegah penumpukan dan juga pertimbangan kondisi cuaca.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/f324a277b7db73e185c2bb77fd0007cc-IMG_2486.jpeg)
Seusai melontar jumrah, sebagian kembali ke tenda. Namun, yang hotel pemondokannya dekat dengan Mina atau masih di wilayah Mina memilih langsung pulang.
Kepala Bidang Pelindungan Jemaah yang juga Kepala Satuan Operasional Armuzna Harun Al Rasyid mengatakan, seluruh jemaah haji Indonesia telah meninggalkan Muzdalifah dan wilayah ini telah kosong pada pukul 09.40 waktu Arab Saudi.
”Hari ini, kami berada di Muzdalifah, tepatnya Jumat, 10 Zulhijjah 1446 Hijriah. Telah dilaksanakan mabit seluruh jemaah haji Indonesia. Pagi ini, tepatnya pukul 09.40 waktu Arab Saudi, Muzdalifah kami nyatakan clear,” tegas Harun Al Rasyid di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025).
Belum ada keterangan resmi terkait jemaah yang berjalan kaki ke Mina. Informasi yang diperoleh di lapangan, selain karena macet, sejumlah bus juga terlambat tiba karena harus mencari jalan lain setelah sejumlah akses ditutup akibat padatnya jalan dan untuk mengurai kemacetan.
Sebelumnya, saat wukuf, sedianya semua jemaah telah berada di Arafah pada Rabu malam. Namun, banyak yang belum terangkut hingga malam hari. Bahkan, sejumlah rombongan jemaah baru tiba di Arafah pada Kamis siang menjelang waktu wukuf.
Di Arafah banyak jemaah tidak mendapatkan tenda. Sebagian terpaksa duduk di karpet-karpet yang digelar di luar tenda. Sebagian akhirnya ditempatkan di tenda yang sedianya berfungsi sebagai masjid. Ini misalnya dialami rombongan jemaah asal Ciamis yang tiba di Arafah pada Kamis malam.
Dalam keterangan Kemenag, pada fase wukuf, ada 1.392 anggota jemaah haji Indonesia dari kelompok terbang (kloter) campuran yang baru tiba di Arafah hingga 9 Zulhijah pagi. Mereka tidak mendapatkan ruang untuk tinggal di tenda Arafah.
Saat panas matahari semakin menyengat dan untuk menyelamatkan kondisi jemaah, atas koordinasi PPIH dengan pihak Arab Saudi (Kementerian Haji dan al-Hai’ah al-Malakiyah), semua jemaah tersebut dibawa dan langsung diarahkan ke tenda-tenda khusus kerajaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/33042ac1c8d5219d6292297030ae87e8-IMG_2508.jpeg)
”Lokasi tenda-tenda tersebut masih berada di dalam area Arafah sehingga mereka dapat melaksanakan wukuf dengan sempurna,” kata Ketua Mustasyar Diny Daker Mekkah Oman Fathurahman.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief menyatakan, seluruh tahapan haji di Arafah selesai dan jemaah terakhir diangkut ke Muzdalifah pada Jumat (6/6/2025) pukul 03.30 waktu setempat. ”Dengan ini kami nyatakan bahwa penyelenggaraan haji di Arafah kami tutup,” ujarnya.
Saat ini jemaah masih menempati tenda-tenda di Mina untuk mabit dan melanjutkan melontar jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah selama hari-hari tasyrik pada 11, 12, 13 Zulhijah. Seusai seluruh rangkaian melontar jumrah, jemaah akan melakukan tawaf ifadah di Masjidil Haram.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/ed42d913b49029d4a6d372891da02be4-IMG_2496.jpeg)
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto