Fase Pertama Gencatan Senjata Hamas-Israel Hampir Selesai, Apa Selanjutnya?

Fase pertama berjalan penuh gejolak karena Israel tetap menyerang Gaza. Fase kedua belum pasti, terutama terkait pengiriman pasukan stabilisasi internasional.

05 Des 2025 10:30 WIB · Internasional

AP/JEHAD ALSHRAFI

Oleh Elsa Emiria Leba

JERUSALEM, JUMAT — Setelah berjalan selama delapan minggu, Hamas dan Israel mendekati penyelesaian fase pertama gencatan senjata di Jalur Gaza. Tersisa satu jenazah sandera Israel yang harus dikembalikan oleh Hamas. Kelanjutan fase-fase berikutnya belum pasti.

Kantor berita Associated Press, Jumat (5/12/2025), melaporkan, jenazah sandera yang tersisa adalah seorang polisi bernama Ran Gvili alias Rani (24). Rani tewas dalam serangan 7 Oktober 2023. Jasadnya berada di suatu tempat di Gaza.

Hamas terakhir menyerahkan jenazah seorang pekerja pertanian asal Thailand, Sudthisak Rinthalak (42), Rabu (3/12/2025) malam. Penyerahan jenazah Rinthalak dikonfirmasi oleh pejabat Israel dan Thailand. Delegasi Israel sedang berada di Kairo, Mesir, untuk membahas upaya pengembalian jenazah terakhir, Kamis (4/12/2025).

”Di bawah arahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sebuah delegasi berangkat ke Kairo pagi ini. Mereka mengadakan pembicaraan dengan para mediator dengan tujuan memastikan pemulangan segera sandera terakhir,” demikian pernyataan kantor PM.

Tidak ada komentar dari Mesir atau mediator lain mengenai pernyataan Israel. Perjanjian gencatan senjata Hamas-Israel di Gaza berlaku sejak 10 Oktober 2025 di bawah pengawasan Amerika Serikat, Mesir, Turki, dan Qatar.

Anggota Komite Palang Merah Internasional (ICRC) tiba di lokasi Hamas mencari sisa-sisa sandera di Jabalia, Jalur Gaza utara, Senin (1/12/2025).

Sejak gencatan senjata berlangsung, Hamas telah mengembalikan 20 sandera hidup dan sisa-sisa jenazah 27 sandera lainnya kepada Israel. Sebagai imbalan, Israel menyerahkan jenazah ratusan warga Palestina ke Gaza. Sebagian besar belum teridentifikasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, mengatakan, keluarga Rinthalak telah diberi tahu. Bangkok berterima kasih kepada Pemerintah Israel atas bantuan membebaskan 31 sandera Thailand, termasuk 28 orang selamat dan 3 orang tewas. Selain para sandera, 46 warga Thailand tewas selama perang Hamas-Israel.

Fase-fase gencatan senjata selanjutnya masih berjalan penuh ketidakpastian. Belum ada kabar tentang ketentuan pelucutan senjata Hamas, pembentukan pemerintahan transisi, dan pengiriman pasukan stabilisasi internasional (ISF).

Proses gencatan senjata Hamas-Israel berlangsung penuh gejolak. Kedua pihak saling tuding bahwa terjadi pelanggaran. Israel sudah menyerang ulang Gaza sedikitnya 500 kali sehingga membunuh 266 warga Palestina sejak gencatan senjata berjalan.

Israel berdalih menyerang untuk mengincar Hamas. Di Gaza selatan, Rabu, Israel kembali melancarkan serangan udara terhadap sebuah kamp pengungsian yang menampung warga Palestina. Sebanyak lima orang dari satu keluarga tewas dan 32 orang lain terluka, menurut Rumah Sakit Khusus Kuwait.

”Israel menembakkan rudal ke tenda yang terbuat dari kain, plastik, dan kayu. Anak-anak itu sedang tidur. Apa yang telah mereka lakukan hingga pantas menerima ini? Kita seharusnya berada dalam gencatan senjata,” tutur Aisha Abu Jazar, seorang pengungsi.

Sejak perang Hamas-Israel pecah pada Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 70.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sebanyak 171.000 warga lainnya terluka.

Potensi gejolak

Potensi gejolak lainnya kembali muncul. Menurut Al Jazeera, pemimpin Pasukan Populer, Yasser Abu Shabab, tewas tertembak saat menengahi perselisihan antarklan keluarga Abu Suneima di Gaza, Kamis. Pasukan Populer menyatakan Hamas tidak terlibat.

Pasukan Populer adalah salah satu kelompok bersenjata Palestina yang mendapat dukungan Israel. Pasukan Populer termasuk yang mengklaim diri sebagai kekuatan nasionalis anti-Hamas. Kelompok ini beroperasi di zona-zona yang dikendalikan Israel, termasuk perdagangan narkoba dan penjarahan bantuan kemanusiaan.

Banyak warga Palestina mengecam mereka. Begitu pula dengan keluarga Abu Shabab. Setelah kematian Abu Shabab, kepala klan Attiya Awda Abu Suneima memperingatkan anggota Pasukan Populer lainnya karena telah menyimpang dari nilai-nilai masyarakat.

Para pengamat mengatakan, keberadaan Abu Shabab mencerminkan kebijakan lama Israel yang mendukung kelompok-kelompok bersenjata Palestina. Hal ini merupakan bagian dari upaya menciptakan perselisihan internal dan melemahkan gerakan politik serta perlawanan. Strategi ini sudah diakui Netanyahu pada Juni lalu.

”Kematian Abu Shabab sangat buruk bagi Israel. Ada beberapa orang di militer Israel yang bertaruh pada kelompok-kelompok ini, ”kata pengamat Palestina dan koresponden Al Jazeera, Nour Odeh.

Sekelompok laki-laki berdiri di lokasi tempat warga Palestina tewas pada 3 Desember 2025 akibat serangan Israel, di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, Kamis (4/12/2025). pertahanan sipil Gaza mengatakan, serangan Israel itu menewaskan lima orang, termasuk dua anak-anak. Militer Israel berkilah telah menyerang seorang militan Hamas di Gaza selatan sebagai respons atas bentrokan yang melukai lima tentara.

Odeh melanjutkan, telah terjadi perdebatan di Israel mengenai apa yang harus dilakukan terhadap kelompok-kelompok seperti yang dianut Abu Shabab. Tel Aviv sempat bingung memutuskan kelompok seperti itu harus diizinkan memasuki Israel setelah gencatan senjata, tetapi kemudian ditolak.

Belum ada komentar dari Israel terkait kematian Abu Shabab. Namun, warga Palestina merayakan kematiannya.

Pada Kamis, kelompok yang berafiliasi dengan Hamas, Radaa, mengunggah foto Abu Shabab di Telegram. Unggahan itu beserta pemberitahuan: ”Seperti yang telah kami katakan, ’Israel tidak akan melindungi Anda.’”

Segera terjadi

Terlepas dari situasi yang rentan itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap optimistis fase lanjutan gencatan senjata di Gaza segera berjalan. Dia turut menyinggung serangan Israel pada Rabu.

”Mereka mengalami masalah dengan sebuah bom yang meledak sehinga melukai beberapa orang cukup parah, bahkan mungkin menewaskan beberapa orang. Namun, semuanya berjalan sangat baik. Kita memiliki perdamaian di Timur Tengah. Orang-orang tidak menyadarinya,” tutur Trump, menurut kantor berita Anadolu.

Serangan itu terjadi tak lama setelah Netanyahu mengancam akan ”merespons setimpal” atas cedera yang dialami tentara dalam bentrokan dengan Hamas di Rafah. Bentrokan terjadi pada Rabu. 

Trump melanjutkan, fase kedua sedang berjalan. ”Ini akan segera terjadi,” tambahnya. Pada 14 Oktober 2025, Trump menyatakan bahwa fase kedua telah dimulai.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) berpidato dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perdamaian 2025 di Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025). Trump memuji KTT Gaza di Mesir sebagai hari yang luar biasa bagi Timur Tengah seiring Hamas dan Israel sepakat untuk gencatan senjata.

Kepada Times of Israel, sejumlah diplomat Arab mengatakan, negara-negara masih terganjal rencana pengiriman pasukan ISF. Mereka khawatir akan terjebak di tengah-tengah pertempuran Hamas dan Israel di Gaza mengingat Hamas menolak pelucutan senjata.

Indonesia dan Azerbaijan sudah menyatakan kesediaan untuk mengirimkan pasukan ISF. Namun, pengumuman resmi belum keluar, sementara Israel menolak Turki ikut mengirim pasukan. Tel Aviv kesal karena Ankara menyebut Israel melakukan genosida di Gaza.

Bagi sebagian negara, keterlibatan Turki akan menjadi jaminan keamanan lebih besar. Ankara terkenal sebagai pendukung kuat Hamas baik secara politik maupun diplomasi. Kecil kemungkinan Hamas akan menyerang ISF jika Turki bergabung. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan