Feyenoord Vs Inter Milan, Nerazzurri Jaga Martabat Italia

Satu kaki Inter Milan menapak di babak perempat final Liga Champions berkat kemenangan di markas Feyenoord. Wajah Italia yang sebelumnya tercoreng terselamatkan.

06 Mar 2025 06:09 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

ROTTERDAM, KAMIS — Sebagai satu dari tiga liga top di Eropa, martabat Italia sempat luntur setelah para wakilnya satu per satu berguguran sebelum babak 16 besar Liga Champions. Kemenangan meyakinkan Inter Milan, 2-0, atas Feyenoord memulihkan wajah Italia yang sempat tercoreng.

Nasib tim-tim asal Italia begitu ironis pada Liga Champions musim ini. Mengirimkan lima wakil, satu wakil lebih banyak dibandingkan negara lain berkat keunggulan koefisien, empat tim Italia harus tersingkir secara prematur pada babak penyisihan grup. Juventus, AC Milan, Bologna, dan Atalanta tersingkir. Hanya Inter yang menjadi wajah Italia pada fase gugur.

Bagi publik Italia, laga Inter menghadapi Feyenoord di Stadion De Kuip, Rotterdam, Kamis (6/3/2025) dini hari WIB, lebih dari sekadar memperebutkan tiket perempat final. Laga ini sudah seperti pertarungan gengsi bagi Milan dan juga Italia. Sebelumnya, tim sekota Inter, AC Milan, tersingkir oleh Feyenoord. Jika kembali menelan hasil minor dari sang wakil Belanda, ini sama saja mempermalukan wajah Italia.

Di hadapan Inter, ketangguhan Feyenoord lenyap. Meski bermain di hadapan pendukungnya sendiri, Feyenoord gagal menghentikan Inter yang bermain efisien. Walau tampil tanpa bek kiri Federico Dimarco, Inter tetap bisa tampil solid. Alessandro Bastoni yang berposisi asli sebagai bek tengah kali ini terpaksa ditugaskan sebagai bek kiri.

Striker Inter Milan, Lautaro Martinez, mencetak gol ke gawang Feyenoord pada laga babak 16 besar Liga Champions di Stadion De Kuip, Rotterdam, Kamis (6/3/2025) dini hari WIB. Inter menang 2-0.

Meski minim pengalaman bermain di sayap kiri, Bastoni nyatanya bisa bagus. Dalam beberapa momen, Bastoni sangat gigih memperebutkan bola. Ia tercatat memenangi 10 kali duel perebutan bola. Ini menjadikannya sebagai pemain yang paling banyak memenangi duel di laga ini.

Selain itu, Bastoni juga kerap bermanuver yang membuat repot pertahanan Feyenoord. Serangan-serangan Inter mayoritas dimotori Bastoni, yaitu 41 persen dari sayap kiri. Berkat manuver-manuver itu, Bastoni menjadi sasaran pelanggaran bek Feyenoord. Total ia dilanggar sebanyak enam kali, terbanyak dari pemain mana pun di laga ini.

”Bastoni bermain sangat baik, dia selalu siap jika dibutuhkan. Kita berbicara tentang bek kelas dunia yang bermain sebagai bek sayap untuk rekan satu timnya. Sebagai seorang pelatih, ini adalah sesuatu yang selalu ingin Anda lihat,” ujar Pelatih Inter Simone Inzaghi dikutip dari laman resmi klub.

Kerap mengancam dari sisi kiri berkat pergerakan Bastoni, gol pembuka Inter justru bermula dari upaya serangan di sayap kanan. Dengan dua bek sayap yang melebar, fokus pengawalan bek Feyenoord terpecah kepada mereka. Situasi ini membuat Nicolo Barella sukses mengeksploitasi ruang antara bek dan gelandang Feyenoord. Saat menerima bola pantul dari Denzel Dumfries, Barella relatif leluasa mengirimkan umpan terukur tanpa pengawalan. Umpan terukur Barella kemudian sukses dikonversi menjadi gol oleh Marcus Thuram.

Gol Thuram melapangkan jalan bagi Inter untuk mendominasi laga. Sebelumnya, pertahanan Feyenoord sangat rapat dan tidak menyisakan celah antarlini yang menyebabkan Inter sulit menciptakan peluang berbahaya. Setelah gol Thuram, Feyenoord meningkatkan intensitas serangan yang menyebabkan adanya celah di pertahanan.

Penyerang Inter Milan, Marko Arnautovic (tengah), berebut bola dengan dua bek Feyenoord pada laga babak 16 besar Liga Champions di Stadion De Kuip, Rotterdam, Kamis (6/3/2025) dini hari WIB.

”Saya pikir itu adalah pertandingan yang hebat dari kami, sangat solid. Setelah gol hebat Thuram, kami mendapatkan kepercayaan diri. Mencetak gol lebih dulu jelas membantu kami. Stadion ini luar biasa. Para pendukung bersemangat, selalu menyenangkan bermain di sini,” kata Dumfries.

Upaya Feyenoord untuk mengatasi ketertinggalan menemui jalan terjal. Para bek Inter amat disiplin dan cepat dalam bertransisi. Di samping itu, keputusan pelatih Feyenoord, Robin Van Persie, yang menempatkan Igor Paixao sebagai gelandang serang juga cukup membingungkan.

Pemain asal Brasil itu sangat berbahaya saat bermain di pos sayap kiri. Kemampuan menggiring bola Paixao terbukti telah merepotkan AC Milan pada laga sebelumnya. Bermain agak ke tengah, peran Paixao berkurang drastis. Ia kesulitan menemukan ruang untuk bermanuver di tengah menumpuknya lini tengah Inter. Paixao mencatatkan 23 sentuhan selama 90 menit. Jumlah itu menjadi yang paling sedikit dari seluruh pemain yang bermain penuh di laga ini.

Saat Feyenoord terbentur tembok kokoh, Inter menggandakan keunggulan melalui Lautaro Martinez di babak kedua. Gol Martinez tercipta berkat pergerakan Thuram yang menarik dua bek Feyenoord. Dengan begitu, Martinez jadi memiliki cukup ruang untuk menembak di dalam kotak penalti.

Bek Inter Milan, Denzel Dumfries (kiri), berebut bola dengan bek Feyenoord, Hugo Bueno, pada laga babak 16 besar Liga Champions di Stadion De Kuip, Rotterdam, Kamis (6/3/2025) dini hari WIB.

Bagi Martinez, gol tersebut tergolong istimewa. Berkat itu, Martinez resmi menjadi pencetak gol terbanyak Inter di Liga Champions dengan koleksi 18 gol. Martinez melampaui Sandro Mazzola yang mencetak 17 gol untuk Inter di kancah Eropa.

”Bangga adalah kata pertama yang terlintas di pikiran karena saya tidak pernah membayangkan mencapai prestasi ini,” ujar Martinez.

Inter seharusnya bisa memperlebar jarak saat mendapat hadiah penalti akibat pelanggaran Jeyland Mitchell terhadap Thuram. Namun, Piotr Zielinski yang maju sebagai eksekutor gagal menunaikan tugasnya.

Meski begitu, kemenangan dua gol tanpa balas ini memperingan tugas Inter pada pertemuan kedua di Stadion Giuseppe Meazza. Dengan dukungan dari pendukung sendiri dan keunggulan dua gol, bukan tugas yang terlalu sulit bagi Inter mengamankan tiket perempat final. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari