Indonesia belum pernah menikmati perayaan juara di rumah sendiri selama 38 tahun. Pintu keluar dari kegelapan itu sudah di depan mata.
27 Jul 2025 11:35 WIB · Olahraga
Laga final Kejuaraan ASEAN U-23 kontra Vietnam berarti sangat besar bagi publik sepak bola Indonesia. Indonesia terakhir kali menikmati perayaan juara di rumah sendiri pada final sepak bola SEA Games 1987, 38 tahun silam. Dengan begitu, final melawan Vietnam tiada ubahnya kesempatan bagi tim Indonesia U-23 untuk mengakhiri penantian panjang terhadap perayaan juara di markas sendiri.
Kendati sudah lama tidak menikmati perayaan juara di markas sendiri, bukan berarti ”Garuda Muda” kering prestasi. Dua tahun lalu, pada final SEA Games 2023, tim Indonesia U-22 yang diarsiteki Indra Sjafri berhasil memupus dahaga prestasi dengan mempersembahkan emas setelah mengalahkan Thailand di final.
Namun, pencapaian itu diraih di Phnom Penh, Kamboja. Sementara, final Kejuaraan ASEAN U-23 melawan Vietnam berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Selasa (29/7/2025).
GBK sudah seperti kuil sepak bola Indonesia, sebagaimana Maracana di Brasil. Oleh sebab itu, kuil tanpa perayaan akan selalu terasa kurang lengkap. Penantian panjang setelah melalui 38 tahun tanpa perayaan ini yang berusaha untuk diakhiri Gerald Vanenburg yang sekarang menjadi juru taktik Indonesia U-23.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/7ea1008f6ebb4393a6eb4f25fbb96637-FAK_0692.jpg)
Kegembiraan yang dirasakan ketika menjuarai turnamen di negeri orang dan rumah sendiri sudah tentu akan terasa sangat berbeda. Tidak bisa dibayangkan bakal seberapa ”meledak” GBK ketika Indonesia U-23 pada akhirnya mampu menaklukkan Vietnam lalu mengangkat trofi di depan puluhan ribu pendukung sendiri.
Akan tetapi, Stadion GBK tidak pernah benar-benar sunyi. Pada 2008, Indonesia pernah berpesta juara setelah menjuarai Piala Kemerdekaan seusai dinyatakan menang atas Libya. Hanya saja, perayaan juara pada waktu itu tidak pernah terasa otentik. Sebab, Indonesia menang akibat Libya U-23 mengundurkan diri pada babak kedua.
Keputusan Libya mengundurkan diri bermula dari insiden keributan yang melibatkan Pelatih Libya Gamal Adeen Abu Nowara dan pelatih kiper Indonesia Sudarno. Gamal menyebut Sudarno memukul wajahnya saat jeda pertandingan. Insiden ini baru diketahui publik selepas pertandingan.
Akibat memilih mundur sebelum babak kedua dimulai, Libya dinyatakan kalah walk out (WO) sehingga Indonesia menang 3-1. Pada babak pertama, Libya unggul terlebih dulu melalui gol Mohamed Abdala.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/27/b68a9f4e212afb3d1628830ae206dcc5-Screen_Shot_2025_07_27_at_11.12.02.png)
Trofi yang diraih setelah lawan mengundurkan diri secara tiba-tiba di babak kedua tidak ayal menodai pesta perayaan juara Indonesia. Banyak juga pihak yang mengkritik bahwa kemenangan Indonesia itu diraih dengan cara yang kurang bermartabat. Karena itu, perayaan juara di hadapan 50.000 pendukung yang hadir di GBK pun terasa hambar.
Kisah kelam pada Piala Kemerdekaan 2008 sudah ditutup rapat-rapat. Indonesia U-23 kini berpeluang besar keluar sebagai juara di rumah sendiri dengan cara yang lebih elegan. Meraih juara dengan proses yang tanpa kontroversi tentunya bakal menghadirkan pesta perayaan yang lebih hakiki di GBK.
”Setelah kemenangan luar biasa kemarin, kami melihat sekilas di balik layar. Kami berada di jalur yang benar, tetapi masih ada satu lagi yang harus dilalui dan ini yang paling penting,” ujar Vanenburg melalui unggahan di media sosial pribadinya, Sabtu (26/7/2025).
Harapan untuk mengubah GBK menjadi tempat perayaan kemenangan sekaligus berpesta pun kini berpindah ke pundak Vanenburg. Pelatih berkebangsaan Belanda itu diharapkan bisa menyiapkan para pemain terbaik untuk meladeni Vietnam yang mengincar gelar juara ketiga secara beruntun.
Sosok Vanenburg begitu diwaspadai Vietnam. Ia dianggap sebagai pelatih panjang akal dengan keputusan taktik yang cenderung berani. Tiga pergantian pemain yang tidak biasa dari Vanenburg berbuah tiket final. Ia memainkan bek tengah Brandon Scheunemann sebagai gelandang bertahan. Muhammad Ferarri yang berposisi sama dengan Brandon bahkan ditugaskan sebagai penyerang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/21/4b1b89b0e2536190484cb5f54fa83c3e-FAK_6660.jpg)
Kewaspadaan terhadap Vanenburg sudah disampaikan sejumlah media Vietnam. Meski belum begitu berhasil memoles ketajaman lini serang Indonesia, Vanenburg yang amat sulit ditebak akibat kegemarannya dalam mengubah-ubah susunan pemain jadi salah satu faktor yang mendorong Vietnam untuk waspada.
”Mereka (Indonesia) menunjukkan gaya bermain yang berani dan, terutama, taktik ’aneh’ yang bisa menjadi senjata berbahaya. Menganalisis kemenangan Indonesia atas Thailand, terutama keputusan taktis berani Pelatih Gerald Vanenburg, menjadi pelajaran penting bagi Vietnam U-23 untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin,” tulis media olahraga Vietnam, Bongda, dalam laporannya.
Keberanian Vanenburg amat dinanti pada laga sepenting final nanti. Dalam kondisi terdesak, kita hanya bisa bersandar pada intuisi dan kejelian Vanenburg dalam membaca situasi di atas lapangan seperti saat mengatasi ketertinggalan dari Thailand lalu berbalik menang. Jalan keluar dari kesunyian prestasi di rumah sendiri selama 38 tahun sudah di depan mata. Laga melawan Vietnam, tidak bisa tidak, harus kita menangi.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji