Tiada pemain berlabel bintang di final Liga Champions Eropa. PSG dan Inter Milan mengandalkan kolektivitas dan kohesi tim sebagai resep melaju hingga puncak.
08 Mei 2025 14:03 WIB · Olahraga
PARIS, KAMIS — Liga Champions Eropa musim ini diwarnai fenomena unik dengan tiadanya pemain bintang pada laga final. Erling Haaland, Lamine Yamal, Harry Kane, Kylian Mbappe, atau Robert Lewandowski yang menjadi tumpuan tim masing-masing gagal mencapai partai puncak. Musim ini menjadi momentum bersinarnya tim yang mengandalkan kolektivitas serta kohesi tim, sebagaimana ditunjukkan Paris Saint-Germain dan Inter Milan.
PSG menyusul Inter yang telah lebih dulu melaju ke final. Tim besutan Pelatih Luis Enrique menundukkan Arsenal, 2-1, di Stadion Parc des Princes, Kamis (8/5/2025). Hasil tersebut menegaskan keunggulan PSG yang pada laga pertama memetik kemenngan 1-0 di markas Arsenal.
Ini menjadi final kedua PSG sejak 2020. Mereka pun kian dekat dengan mimpi meraih trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah. Angan menjuarai Liga Champions terasa sebagai gagasan utopis mengingat PSG ditinggal sang megabintang, Mbappe, yang hijrah ke Real Madrid awal musim ini. Sepeninggal Mbappe, tiada lagi bintang tersisa di tubuh PSG. Beberapa musim sebelumnya, PSG kental dengan aroma kebintangan seiring adanya Lionel Messi, Neymar, Edinson Cavani, dan Mbappe.
Tanpa memiliki nama besar di tim, langkah PSG memang terseok-seok di awal. ”Les Parisiens” bahkan harus menjalani play-off untuk lolos ke babak 16 besar lantaran hanya sanggup finis di peringkat 15 pada fase liga. Perlahan tapi pasti, PSG menemukan ritme permainannya. Enrique meracik PSG menjadi tim yang solid walau tanpa kehadiran pemain bintang.
”Ada perasaan nyata dari saya bahwa ini akan menjadi waktu mereka. Sebuah tim yang bekerja sangat keras untuk satu sama lain. Mereka memiliki kecepatan dan energi yang sangat sulit dikendalikan,” ujar mantan bek Inggris, Matthew Upson, dikutip dari BBC Sport.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/08/5b33abdd-a7c2-4549-b13a-6eea1ac0f4ee_jpg.jpg)
Enrique, kata Matthew, telah menemukan keseimbangan di dalam timnya. Inilah penyebab mengapa PSG mampu unggul meski Ousmane Dembele tidak bermain hingga menit ke-70. Dembele sejauh ini menjadi pencetak gol terbanyak PSG di Liga Champions. Pemain sayap kanan itu telah mengoleksi 21 gol dan 6 asis.
Sepeninggal Mbappe, bisa dikatakan Dembele menjadi tumpuan lini serang PSG. Namun, sinar Dembele turut diimbangi rekan-rekannya yang lain, seperti Bradley Barcola, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia.
Keempat pemain tersebut membentuk satu kesatuan dan amat cair saat menyerang. Jika dulu serangan PSG hanya mengandalkan keterampilan Mbappe, kombinasi Dembele beserta tiga pemain lainnya amat cair serta eksplosif. Semua itu berkat Enrique yang meramu tim tanpa pemain bintang menjadi skuad muda dengan energi yang meletup-letup.
Statistik menunjukkan, PSG mencatatkan 63 peluang besar sejauh ini di Liga Champions. Jumlah itu merupakan yang terbanyak di antara semua kontestan. Agresivitas lini depan PSG turut berkontribusi terhadap pencapaian itu. PSG merupakan tim kedua dengan sentuhan terbanyak di kotak penalti lawan, yakni dengan 597 sentuhan.
”PSG tidak punya Neymar, Messi, Mbappe. Semuanya sudah pergi. Namun, sekarang mereka adalah tim yang lengkap. Saya belum pernah melihat pemain depan bekerja keras seperti ini,” kata mantan bek Arsenal, Martin Keown, dikutip dari TNT Sports.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/08/bd0b0469-ec32-419d-b8ea-6532b510d516_jpg.jpg)
Seperti PSG, Inter pun nyaris tidak memiliki nama besar di dalam tim. Pelatih Inter Simone Inzaghi membuktikan bahwa memiliki pemain bintang bukanlah syarat mutlak dalam membentuk tim hebat.
Lautaro Martinez menjadi pemain termahal Inter saat ini dengan nilai pasar mencapai 95 juta euro (Rp 1,7 triliun). Selebihnya, Inzaghi banyak mengandalkan pemain-pemain veteran untuk melengkapi timnya. Musim ini, Inter menjadi tim dengan rerata usia tertua di Liga Champions dengan 31,1 tahun.
Untuk mengakali tiadanya nama bintang di Inter, Inzaghi bekerja membuat sistem yang memungkinkan pemain berotasi posisi secara dinamis. Para pemain tidak terikat pada posisinya, tetapi diharuskan terus bergerak. Hakan Calhanoglu yang bertugas sebagai gelandang kerap turun sejajar dengan tiga bek untuk mengimbangi jumlah penyerang lawan. Selain itu, Lautaro pun sering kali terlihat tidak segan bergerak mundur untuk menarik bek lawan dan pada saat bersamaan Nicollo Barella naik mengisi posisinya.
”Tim ini mulai memiliki kesadaran ketika mereka bermain di final di Istanbul. Ini adalah tim yang telah bersama selama empat tahun, telah memperoleh kesadaran dan keharmonisan yang hebat yang dikoordinasikan dengan baik oleh pelatih,” ujar Presiden Inter Beppe Marotta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/0dc49c10-014e-4228-96e6-5278c6263693_jpg.jpg)
Di saat PSG dan Inter berjaya lewat kohesi serta kolektivitas tim, kontestan lain dengan pemain-pemain bintang, seperti Manchester City dan Real Madrid, justru sudah gugur terlebih dulu. Bermain sebagai satu kesatuan musim ini terasa lebih efektif. Di PSG dan Inter, setiap pemain bersinar sama terang. Tidak ada yang saling menutupi cahaya rekan setim masing-masing.
Laga final berlangsung di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. Pada laga nanti, Inter dan PSG akan berebut predikat sebagai tim tersolid musim ini tanpa kehadiran satu pun pemain bintang di atas lapangan. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto