Bayern dan Flamengo, dua tim dengan gaya identik, saling bertemu di fase 16 besar Piala Dunia Antarklub. Tim dengan transisi bertahan sempurna akan menjadi pemenang.
28 Jun 2025 15:40 WIB · Olahraga
FLORIDA, SABTU — Tidak salah jika laga Flamengo kontra Bayern Muenchen pada babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 dilabeli pertarungan garis pertahanan tinggi. Kedua tim itu memang punya kecenderungan menekan sejak lawan mulai membangun serangan dari bawah. Dengan gaya bermain seperti itu, Flamengo dan Bayern mau tidak mau akan beradu kuat dalam transisi bertahan.
Duel Flamengo melawan Muenchen tersaji di Stadion Hard Rock, Florida, Amerika Serikat, Senin (30/6/2025) pukul 03.00 WIB. Bayern akan merasakan neraka kecil lantaran stadion berkapasitas 65.000 tempat duduk itu hampir dipastikan akan dipenuhi mayoritas pendukung Flamengo.
Pada laga penyisihan grup, tim-tim dari Argentina dan Brasil selalu mendapat dukungan maksimal dari fans masing-masing. Situasi serupa juga akan terulang di fase gugur.
Dengan begitu, pertandingan tidak akan berjalan mudah bagi Bayern, meskipun lebih difavoritkan menjadi pemenang. Laga kedua tim ini juga menyedot perhatian lantaran mempertemukan tim raksasa dari Eropa dan Amerika Selatan. Di sisi lain, pertandingan diprediksi berlangsung menarik lantaran kedua tim memiliki pendekatan serupa, yaitu cenderung mengandalkan permainan menekan dengan garis pertahanan tinggi.
Berdasarkan laporan CIES Football Observatory, Flamengo dan Bayern termasuk tim yang kerap bermain menekan sejak tim lawan mencoba membangun serangan dari bawah. Flamengo mencatatkan rata-rata garis pertahanan sejauh 59,04 meter dari gawang mereka sendiri. Angka itu menunjukkan bek Flamengo bertahan jauh melewati garis tengah lapangan dalam situasi tidak menguasai bola.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/25/13a6c7f0-3229-4d63-a125-6c53eb935833_jpg.jpg)
Setali tiga uang, Bayern juga kerap menerapkan garis pertahanan tinggi. Statistik mencatat, selama musim 2024-2025, para pemain Bayern mulai menekan untuk merebut bola sejauh 57,16 meter dari gawang mereka sendiri.
Gaya bermain seperti itu bertujuan untuk membuat bek lawan tidak nyaman berlama-lama menguasai bola. Selain itu, jika bola bisa direbut sesegera mungkin di area pertahanan lawan, maka struktur pertahanan mereka belum sepenuhnya terbentuk. Peluang untuk mencetak gol pun menjadi semakin besar.
”Ini tentang memberi tekanan pada lawan, mengambil inisiatif, dan bersikap setegak dan langsung sebisa mungkin. Itulah yang diminta penggemar dari kami dan apa yang akan kami coba berikan (di laga nanti),” ujar Pelatih Flamengo Filipe Luis dilansir dari laman FIFA.
Tidak hanya memiliki kesamaan cara bermain, ada benang merah lainnya antara Flamengo dan Bayern. Kedua tim itu sama-sama diarsiteki pelatih muda. Luis (39), yang malang melintang mencicipi kompetisi Eropa bersama Chelsea dan Atletico Madrid, akan beradu strategi dengan Vincent Kompany (39).
Sebagai pelatih muda, Luis dan Kompany rupanya masih diilhami dengan ide-ide sepak bola menyerang secara agresif. Tidak heran, Bayern dan Flamengo punya cara bermain yang identik mengingat latar belakang para pelatih mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/27/5b339ef2-4414-41a8-af3e-54cb7d07d290_png.png)
Dalam situasi seperti itu, memperkuat transisi bertahan wajib dilakukan Luis dan Kompany untuk memenangi laga. Hal itu karena terdapat risiko besar memainkan garis pertahanan tinggi, yakni pertahanan yang sangat mudah terekspos.
Barcelona di bawah arahan Pelatih Hansi Flick sudah membuktikannya. Meskipun sangat produktif dengan menerapkan permainan menekan berbasis garis pertahanan tinggi, pertahanan Barca sangat mudah diekspos terutama lewat skema serangan langsung (direct).
”Menurut saya, itu (transisi bertahan) akan menjadi kuncinya. Hal yang saya perhatikan adalah kedua tim merasa sulit untuk mengorganisasi diri mereka sendiri dalam transisi pertahanan,” ujar Jorginho, mantan bek kanan timnas Brasil yang pernah bermain untuk Flamengo dan Bayern.
Salah satu alasan mengapa Bayern lebih difavoritkan menang adalah keberadaan Joshua Kimmich. Pemain serbaguna yang kini sangat fasih bermain sebagai gelandang bertahan itu merupakan tipikal pemain yang tahan terhadap tekanan atau pressing lawan.
Kemampuan Kimmich disebut-sebut setara dengan mantan gelandang bertahan Barca, Sergio Busquets, yang dikenal sulit ditekan sehingga selalu lolos saat menguasai bola. Memiliki gelandang yang tahan pressing menguntungkan Bayern untuk membangun serangan tanpa mendapat gangguan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/18/1bfc547f-d700-468c-bc7a-470ae817c858_jpg.jpg)
Meskipun begitu, Bayern tidak bisa menganggap enteng Flamengo yang punya segudang cara dalam membatasi kreativitas lawan. Flamengo memasuki babak 16 besar dengan catatan tidak terkalahkan dalam 11 pertandingan beruntun.
Pada rentang waktu tersebut, Flamengo hanya kebobolan lima gol. Adapun dalam tiga pertandingan penyisihan grup, Flamengo hanya membiarkan pemain lawan melepaskan tujuh tembakan tepat sasaran, jumlah paling sedikit dari seluruh tim di Grup D.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto