Fluiditas Arsenal, Kans Manchester United

Fluiditas Arsenal memang menjadi solusi saat berpesta gol ke gawang PSV. Solusi itu justru berpotensi menguntungkan Manchester United di Stadion Old Trafford.

08 Mar 2025 18:40 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

MANCHESTER, SABTU — Arsenal, setelah mencetak tujuh gol ke gawang PSV Eindhoven, mulai menemukan solusi atas krisis di lini serang. Pergerakan pemain yang mengalir bebas dan tidak terikat struktur posisi adalah kuncinya. Namun, rumus baru itu bisa menjadi masalah baru ketika mereka berhadapan dengan Manchester United.

Keran gol Arsenal yang sempat tersendat sudah mengalir. Mereka berhasil menumbangkan PSV 7-1 walaupun bermain tanpa empat penyerang andalan pada tengah pekan. Catatan itu sukses memecahkan rekor jumlah gol terbanyak dalam sejarah tim tandang di babak gugur Liga Champions.

Dari tim yang gagal mencetak gol dalam dua pertandingan Liga Inggris terakhir, Arsenal menjadi pencetak rekor. Malam ajaib di Eindhoven itu tercipta berkat perubahan pendekatan Manajer Mikel Arteta. Struktur formasi 4-3-3 yang sangat kaku diubah jadi begitu cair sehingga tidak mudah terbaca oleh tim lawan.

Arteta berniat menggunakan pendekatan serupa saat bertandang ke Stadion Old Trafford, pada Minggu (9/3/2025) pukul 23.30 WIB. ”Kami butuh ancaman dari seluruh area. Kami kehilangan pemain sayap yang sangat penting (Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli) sehingga butuh opsi lain di sepertiga akhir,” ujarnya.

Arteta dikenal sebagai peracik taktik yang sangat detail dan agak pragmatis. Dia enggan mengambil risiko besar. Dia menggunakan struktur kaku, pemain tidak bergerak terlalu jauh dari posisi asli, agar siap mengantisipasi transisi. Kedisiplinan itu yang membuat Arsenal belum kalah dari tim-tim ”Enam Besar” sejak April 2023.

Arsenal's Dutch defender #12 Jurrien Timber celebrates scoring his team's first goal during the UEFA Champions League round of 16 first leg football match between PSV Eindhoven (NED) and Arsenal FC (ENG) at the the PSV Stadion, in Eindhoven, on March 4, 2025. (Photo by JOHN THYS / AFP)

Struktur itu dijadikan ”tumbal” demi gol. Arsenal kekurangan kualitas individu di lini serang akibat badai cedera. Mereka pun menggunakan jumlah pemain yang lebih banyak dan pergerakan lebih bebas untuk mengacaukan pertahanan lawan. Terbukti saat lawan PSV, gol sukses dicetak enam pemain berbeda.

Dua di antara pencetak gol itu adalah bek sayap Ricardo Calafiori dan Jurrien Timber. Posisi mereka sangat di luar kebiasaan. Timber sering mengisi posisi penyerang sayap. Sementara Calafiori bisa tiba-tiba berada di posisi penyerang tengah. Tidak ada pemain yang punya posisi mutlak, kecuali kiper dan dua bek tengah.

Masalahnya, solusi terbaru Arsenal datang dengan konsekuensi. Kebebasan bermain membuat banyak pemain tidak dalam posisi seharusnya. Belum lagi, agar lebih banyak opsi, Arsenal sering menempatkan enam sampai tujuh pemain di kotak penalti. Hal itu membuat ”Si Meriam” sangat rentan terhadap transisi serangan balik.

Lubang itu berpotensi menjadi petaka untuk Arsenal di Stadion Old Trafford. Diketahui, MU merupakan tim yang begitu mengandalkan serangan balik. Penyerang sayap dengan kemampuan sprint cepat, seperti Alejandro Garnacho, bisa menghukum tim tamu yang sedang asyik menyerang.

Duel kedua tim di Piala FA, pada Januari 2025, menjadi refleksi. Arsenal tertinggal 0-1 pada satu jam awal walaupun dominan dengan penguasaan 62,5 persen. MU tidak banyak menyerang, tetapi selalu berbahaya lewat transisi. Setelah bek MU Diogo Dalot menerima kartu merah pada menit ke-61, laga tidak ideal lagi untuk dianalisis.

Pelatih Manchester United Ruben Amorim berteriak ke pemainnya saat melawan Tottenham Hotspur pada laga Liga Inggris di Stadion Tottenham Hotspur, London, Minggu (16/2/2025). Hotspur menang 1-0 pada laga itu.

Ruben Amorim, Pelatih Kepala MU, percaya diri dengan timnya. Namun, dia berharap Garnacho dan rekan-rekan bisa lebih tajam di depan gawang. ”Pada akhirnya, kami harus mencetak gol. Jika mereka bisa mencetak satu gol, segalanya akan jauh lebih mudah. Maka, kami harus mencetak gol lebih dulu,” katanya.

MU juga bermasalah di lini depan, terlihat jelas pada tengah pekan. Mereka berpotensi mencetak lebih dari satu gol ketika menghadapi Real Sociedad, tetapi banyak membuang peluang. Laga berakhir imbang 1-1. Adapun penyerang MU, Rasmus Hojlund, belum mencetak gol lagi sejak pertengahan Desember 2024.

Kelelahan fisik

Terlepas dari itu, fokus utama Amorim saat ini adalah mengembalikan kondisi kebugaran para pemain. Mereka hanya punya rentang kurang dari tiga hari setelah bertandang ke Sociedad pada Jumat dini hari WIB. Masalahnya, skuad ”Setan Merah” tampak kelelahan pada pengujung laga.

Amorim sampai mengambil kesimpulan, Liga Europa jauh lebih sulit dibandingkan Liga Champions. ”Bukan karena pertandingan, melainkan pemulihan yang harus dilakukan untuk laga akhir pekan. Kami harus berhadapan dengan itu. Kami harus bertahan pada Minggu nanti, sebab tim terlihat sangat lelah pada 20 menit terakhir,” ucapnya.

Penyerang sayap Manchester United, Alejandro Garnacho, menjadi senjata utama timnya saat berhadapan dengan Real Sociedad dalam laga pertama babak 16 besar Liga Europa di Stadion Reale Arena, San Sebastian. Jumat (7/3/2025) dini hari WIB. Garnacho selalu membahayakan dalam situasi transisi serangan balik.

Urgensi kompetisi juga bisa berpengaruh. Laga versus Arsenal selalu bergengsi, tetapi Liga Inggris sudah tidak penting lagi bagi MU. Mereka terjebak di peringkat ke-14. Satu-satunya gelar yang bisa diraih hanya Liga Europa. Adapun MU akan menjalani laga kedua babak 16 besar Liga Europa versus Sociedad pada tengah pekan depan.

Gelar juara terlihat lebih penting untuk MU saat ini, sebab Amorim sudah terdengar pesimistis walaupun baru sekitar empat bulan bergabung. Saat ditanya tentang kisah keberhasilan Arteta membangun Arsenal, Amorim mengaku terinspirasi.

”(Bedanya) saya tidak akan mendapatkan waktu sebanyak Arteta. Saya bisa merasakannya,” pungkas Amorim.

Arsenal yang sedang berapi-api jelas lebih diunggulkan di Stadion Old Trafford. Namun, jangan sekali-kali meremehkan MU dalam laga besar. Mereka sudah sering membuat kejutan, seperti saat menyingkirkan Arsenal hanya dengan sepuluh pemain di Piala FA. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto