Penjaga gawang bisa dua detik lebih lama mendekap bola. Namun, implementasi peraturan akan lebih tegas dan jelas. Hukuman terbaru adalah tendangan sudut.
03 Mar 2025 08:58 WIB · Olahraga
Penjaga gawang hanya boleh memegang bola selama enam detik. Lebih dari itu, wasit akan meniup pelanggaran. Tendangan sudut tidak langsung diberikan kepada lawan. Namun, sudah rahasia umum, para kiper sering kali menahan bola berkali-kali lipat lebih lama dari peraturan dan tidak dihukum sama sekali.
“Kita sudah biasa melihat itu di Liga Italia dan liga-liga besar lain, saat sang kiper menahan bola selama 20 detik atau bahkan lebih,” kata Pierluigi Collina, sosok mantan wasit legendaris yang sekarang menjabat sebagai Ketua Komite Wasit FIFA, seperti dikutip The Athletic.
Collina adalah standar tertinggi di dunia wasit, seperti Lionel Messi bagi pesepak bola. Dia dikenal tegas, selalu tampak intimidatif dengan tatapan mata yang sangat tajam. Menariknya, selama 18 tahun sebagai pengadil, Collina tidak pernah menghukum kiper dengan memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada tim lawan.
Bahkan wasit yang tanpa kompromi saja membiarkan peraturan dilanggar begitu saja di depan matanya. Itu membuat peraturan yang diperkenalkan sejak 1998 tersebut sudah tidak relevan. Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), bersama FIFA, pun datang dengan ide peraturan baru yang dinilai lebih efektif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/14/826098de-7a4d-4aa7-9b64-76be891b3a6f_jpg.jpg)
Mereka ingin hukuman tendangan bebas tidak langsung diganti jadi tendangan sudut. Waktu kiper memegang bola juga dibuat lebih panjang, yaitu delapan detik. Dengan hukuman yang cenderung lebih ringan dan toleransi waktu lebih panjang, para wasit diharapkan tidak segan lagi untuk menghukum kiper.
Hal terpenting dalam peraturan baru itu adalah implementasi yang lebih konkret. Wasit akan menghitung delapan detik saat bola berada dalam kontrol penuh sang kiper. Wasit mulai menghitung mundur dengan jari saat lima detik terakhir. Jika bola belum dirilis, tendangan sudut langsung diberikan kepada tim lawan.
Pelanggaran pertama oleh kiper hanya mendapatkan peringatan. Jika dilakukan kedua kali, wasit wajib memberikan kartu kuning. Peraturan baru tersebut akan mulai berlaku pada Piala Dunia Antarklub 2025, pada Juni mendatang, di Amerika Serikat. Liga Inggris U-21 dan Liga Italia U-20 dijadikan percobaan awal.
“Penjaga gawang yang memegang bola terlalu lama telah menjadi racun bagi banyak orang sekian lama. Jadi tindakan telah diambil. Hasil uji coba sangat positif. Kami akan terus maju dan segera memasukkan itu ke dalam permainan,” kata Kepala Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Irlandia, Patrick Nelson, yang memimpin rapat tahunan IFAB pada Sabtu (1/3/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/20/848de0a2-98d7-467a-87ca-0e5062cee3be.jpg)
Selama percobaan di Liga Italia U-20, menurut IFAB, hanya terdapat empat pelanggaran yang berbuah tendangan sudut dari total 400 pertandingan uji coba. Sebanyak 75 persen kiper bahkan sudah merilis bola hanya dalam lima detik. Peraturan baru itu terlihat lebih dihormati oleh para kiper.
Kebiasaan kiper dalam mengulur-ulur waktu saat sudah unggul semakin mengkhawatirkan. Di Liga Inggris, misalnya. Berdasarkan data The Athletic, sebanyak 26 kartu kuning sudah diberikan kepada para penjaga gawang karena mengulur-ulur waktu. Hukuman itu hanya dari “bola mati” saja.
Adapun dengan 11 pekan yang masih tersisa, jumlah kartu kuning itu sudah melampaui rekor terbanyak pada musim lalu (30). Tren tersebut terus meningkat. Rerata jumlah kartu kuning kepada kiper dalam kasus serupa cenderung rendah di antara 2006-2007 sampai 2013-2014 (10 per musim) dan mulai naik di 2014-2015 sampai 2019-2020 (15 per musim).
David Elleray, mantan wasit Liga Inggris yang sekarang berstatus Direktur Teknis IFAB, menjelaskan, peraturan lama sangat merugikan tim yang sedang tertinggal. Lihat saja saat Brighton menang di kandang Manchester United pada musim lalu. Kiper MU hanya menahan bola rerata 4,8 detik. Sedangkan, kiper Brighton menahan bola selama 14,8 detik.
Jika peraturan baru bisa efektif, bisa dipastikan pertandingan akan lebih berkualitas. “Perubahan peraturan yang baik adalah ketika anda bisa menghentikan kebiasaan buruk yang diterapkan oleh semua pihak, lalu kemudian masalah itu menghilang. Seandainya hal itu mempercepat permainan pastinya akan jadi lebih baik,” kata Elleray kepada The Guardian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/06/23/709097d5-ca6b-4b6c-8ed2-246bba0fb31f_jpeg.jpg)
Lantas, siapa paling diuntungkan? Jika dilihat dari sisi tim yang bertanding, tentu akan sangat subyektif. Tim yang sedang unggul tidak bisa lagi menggunakan trik lama. Tim yang tertinggal pasti lebih menikmati. Sementara itu, tim berstatus “kuda hitam” mungkin lebih kesulitan karena mereka ingin memangkas waktu sebanyak mungkin.
Di sisi lain, para penjaga gawang akan mendapatkan ujian lebih besar. Mereka harus benar-benar meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan. Belum lagi, mereka juga pasti diganggu oleh pemain lawan sebelum merilis bola. Kiper dengan kemampuan distribusi yang baik berpotensi lebih untuk bersinar.
Meskipun begitu, semua perkiraan itu masih sangat abu-abu. Tidak ada yang tahu pasti selama peraturan baru belum diterapkan. Satu-satunya hal pasti, pihak yang diuntungkan adalah penonton umum. Bola akan semakin lama bergulir di lapangan, tidak hanya sia-sia terdekap di pelukan kiper. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .